📑 Daftar Isi

Chase Lochmiller, co-founder dan CEO Crusoe, dalam pengumuman pendanaan Series F senilai $3,9 miliar.

Crusoe Raih Rp63 Triliun, Valuasi Tembus Rp502 Triliun

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Crusoe mengumpulkan $3,9 miliar di Series F, valuasi naik jadi $30,9 miliar
  • Dipimpin bersama Atreides Management, Mubadala Capital, dan Valor Equity Partners
  • Investor lain: Founders Fund, GIC, Nvidia, QIA, Radical Ventures, TPG
  • Tiga anggota dewan baru, termasuk JB Straubel dan Thomas Seifert
  • Dana untuk data center Abilene, Texas, dan AI factory modular Spark
  • Pelanggan Crusoe mencakup Meta, Microsoft, dan Oracle

Telset.id – Data center developer Crusoe mengumumkan telah mengumpulkan dana sebesar $3,9 miliar dalam putaran pendanaan Series F. Pendanaan ini mendorong valuasi perusahaan menjadi $30,9 miliar, menjadikannya salah satu perusahaan infrastruktur AI paling bernilai saat ini. Langkah ini menegaskan besarnya kepercayaan investor terhadap bisnis komputasi yang menopang pengembangan kecerdasan buatan.

Putaran pendanaan besar ini dipimpin bersama oleh Atreides Management, Mubadala Capital, dan Valor Equity Partners. Sejumlah investor lain turut berpartisipasi, termasuk Founders Fund, GIC, Nvidia, Qatar Investment Authority (QIA), Radical Ventures, dan TPG. Keterlibatan Nvidia dan QIA menunjukkan bahwa pendanaan ini tidak hanya soal modal, tetapi juga sinyal strategis bagi ekosistem infrastruktur AI global.

Crusoe juga mengumumkan tiga anggota dewan baru. Mereka adalah Cloudflare CFO Thomas Seifert; Bill Stein, partner dan CIO di Primary Digital Infrastructure; serta Redwood Materials founder dan CEO JB Straubel, yang juga duduk di dewan Tesla. Straubel sendiri sudah memiliki keterkaitan dengan Crusoe; ia secara pribadi berinvestasi di perusahaan itu pada 2021, dan Crusoe kemudian menjadi pelanggan pertama bisnis penyimpanan energi Redwood.

Dana Segar untuk Proyek Data Center dan AI Factory Modular

Suntikan modal baru dari perusahaan yang kini berusia delapan tahun ini akan membantu membiayai proyek data center yang sudah ada. Salah satunya adalah situs besar di Abilene, Texas, yang digunakan oleh OpenAI. Dana tersebut juga dialokasikan untuk AI factory modular berukuran lebih kecil yang dapat diangkut dengan truk dan dihubungkan ke sumber daya listrik besar hampir di mana saja.

Dengan memproduksi data center modular yang disebut Spark di fasilitas miliknya sendiri, Crusoe dapat men-deploy kapasitas komputasi dengan cepat tanpa memerlukan tenaga kerja konstruksi dalam jumlah besar. Pusat data berukuran lebih kecil ini juga berpotensi membantu Crusoe menghindari, setidaknya sebagian, hambatan besar lain yang dihadapi para pengembang data center: penolakan dari komunitas lokal yang memprotes kompleks besar di dekat lingkungan mereka.

Baca Juga:

Crusoe co-founder dan CEO Chase Lochmiller, yang tampak pada foto di atas, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia percaya AI akan menghadirkan era kelimpahan. Namun untuk mencapainya, menurut dia, berarti “mengendalikan infrastruktur dari elektron hingga token, dan kami bersyukur memiliki investor yang berbagi keyakinan itu.”

Perusahaan ini menghasilkan uang melalui tiga cara. Pertama, menyewakan ruang data center kepada pelanggan yang membawa GPU mereka sendiri. Kedua, menyewakan GPU miliknya sendiri. Ketiga, menjual daya komputasi yang digunakan untuk menjalankan model AI, yang dikenal sebagai inferensi. Model bisnis tiga cabang inilah yang membantu menjadikan Crusoe salah satu perusahaan infrastruktur AI paling bernilai.

Langkah ekspansi Crusoe ini sejalan dengan tren kebutuhan daya komputasi yang terus meningkat. Sejumlah pemain lain juga gencar memperkuat fondasi infrastruktur mereka, seperti yang terlihat pada langkah listrik panas bumi untuk kebutuhan data center, serta pendanaan besar di sektor chip inferensi melalui pinjaman chip AI.

Crusoe baru-baru ini menandatangani kontrak cloud besar senilai $13 miliar selama lima tahun untuk memasok GPU dan infrastruktur AI kepada firma perdagangan kuantitatif Jane Street, demikian dilaporkan Bloomberg. Perusahaan ini juga dikabarkan telah bertemu dengan para investment banker, termasuk Goldman Sachs dan Morgan Stanley, untuk membahas potensi IPO dalam waktu dekat, menurut laporan Axios bulan lalu.

Pendanaan baru ini datang 10 bulan setelah Crusoe mengumpulkan $1,38 miliar pada valuasi $10 miliar pada Oktober lalu. Perusahaan ini didirikan pada 2018 sebagai operasi penambangan kripto yang ditenagai gas alam flare, tetapi beralih ke infrastruktur AI seiring lonjakan permintaan daya komputasi. Pelanggan Crusoe mencakup Meta, Microsoft, dan Oracle.

Dengan valuasi yang melonjak dari $10 miliar menjadi $30,9 miliar dalam kurun 10 bulan, Crusoe menunjukkan bahwa permintaan terhadap infrastruktur AI tidak hanya soal teknologi, tetapi juga soal kapasitas fisik dan energi. Bagi pelaku industri, langkah ini menjadi penanda bahwa perlombaan membangun fondasi komputasi AI masih berlangsung ketat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.