Ilustrasi lab biologi Anthropic di Bay Area tempat Claude menemukan sistem enzim mirip CRISPR

Claude Temukan Enzim Mirip CRISPR, Prosesnya Hanya 21 Jam

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Anthropic klaim lab biologi Bay Area temukan sistem enzim baru mirip CRISPR
  • Sistem ditemukan di DNA bakteriofag, bisa potong, salin, tempel DNA
  • Claude disebut temukan temuan ini dalam 21 jam via 950 agen dan 210 juta token
  • CEO Dario Amodei akui temuan dibangun dari riset Stanford sebelumnya
  • Eksperimen fisik tetap dilakukan ilmuwan manusia, hanya BSL-1 dan BSL-2
  • Validasi temuan diserahkan ke komunitas riset yang lebih luas

Telset.id – Anthropic mengonfirmasi bahwa lab biologi basahnya di Bay Area telah menghasilkan temuan besar: sebuah “sistem” enzim baru dengan sifat yang “mengingatkan pada CRISPR”. Temuan ini menjadi sorotan karena Claude, model AI milik Anthropic, disebut berperan besar dalam proses penemuannya, yang hanya memakan waktu 21 jam kerja terfokus. Klaim ini menandai langkah baru AI dalam riset biologi, sekaligus memicu pertanyaan tentang batas antara percepatan penemuan dan risiko yang menyertainya.

Sebelumnya, Anthropic memang telah mengonfirmasi keberadaan lab biologi basah di wilayah Bay Area yang digunakan untuk menjalankan eksperimen fisik dengan bantuan model AI mereka. Kini, perusahaan mengumumkan bahwa lab tersebut telah membuat apa yang mereka yakini sebagai temuan penting: sistem enzim yang tersembunyi di dalam DNA bakteriofag, yaitu virus yang menginfeksi dan bereplikasi di dalam bakteri. Menurut Anthropic, sistem ini berperilaku mirip CRISPR karena dapat “melakukan operasi seperti memotong, menyalin, dan menempelkan DNA”. CRISPR sendiri merupakan sistem kekebalan alami yang digunakan bakteri untuk melawan virus dan telah menjadi teknologi penyuntingan gen yang luas digunakan peneliti.

Yang membuat pengumuman ini berbeda adalah soal siapa yang menemukannya. CEO Anthropic, Dario Amodei, menegaskan bahwa temuan tersebut sebagian besar—meski tidak sepenuhnya—ditemukan oleh Claude. Amodei juga mengakui bahwa penemuan ini dibangun di atas kerja pihak lain, dan bahwa tim dari Stanford sebelumnya telah menemukan sistem “yang dalam beberapa hal mirip dengan yang ditemukan Claude”. Pengakuan itu penting untuk menempatkan klaim Anthropic dalam konteks riset yang sudah berjalan, bukan sebagai lompatan yang berdiri sendiri.

Jika dilihat dari sisi kecepatan, angka yang disebut Anthropic tergolong mencolok. Lab ini baru didirikan pada musim semi tahun ini, meski Anthropic menolak merinci berapa bulan tepatnya lab tersebut telah beroperasi. Menurut tim, Claude hanya membutuhkan 21 jam kerja terfokus untuk menemukan sistem enzim tersebut. Dalam prosesnya, Claude menelusuri data menggunakan sekitar 950 agen yang menghabiskan 210 juta token. Bagi perusahaan yang baru beberapa bulan menjalankan lab biologi, capaian ini menjadi bahan perdebatan tersendiri di kalangan peneliti.

Namun, konteks pengumuman ini tidak bisa dipisahkan dari perdebatan soal keselamatan AI. Pengungkapan bahwa Anthropic menjalankan eksperimen biologi muncul tepat setelah para CEO AI, termasuk Amodei, secara publik mengakui bahwa model telah menjadi begitu mumpuni—dan berpotensi berbahaya—sehingga industri harus memperlambat langkah dan mengembangkan prosedur pengujian keselamatan. Sebelumnya, sejumlah karyawan Anthropic secara terbuka menyatakan bahwa ada risiko AI dapat membunuh umat manusia. Amodei sendiri pernah menyebut salah satu hal yang paling ia takutkan adalah AI digunakan untuk bioterorisme. Di sisi lain, ia juga meyakini AI akan “menyembuhkan sebagian besar penyakit dalam 5-10 tahun”.

Dengan posisi seperti itu, Anthropic tampaknya telah memutuskan bahwa imbalan dari riset ini sepadan dengan risikonya. Menariknya, pengungkapan terbesar dari berita ini mungkin bukan penemuannya, melainkan fakta bahwa lab biologi tersebut tidak melepaskan Claude begitu saja. Eksperimen fisik tetap dilakukan oleh manusia. “Lab kami, yang berlokasi di Bay Area, terlihat seperti laboratorium biologi molekuler pada umumnya. Kami melakukan riset yang hanya melibatkan tingkat risiko biosafety level rendah (BSL-1 dan BSL-2) dan kami tidak menangani patogen yang dapat menginfeksi manusia. Semua pekerjaan lab dilakukan oleh ilmuwan manusia,” jelas Anthropic.

Perlu dicatat bahwa riset biologi berbasis AI bukan hal yang eksklusif bagi Anthropic. Peneliti dari Stanford baru saja menerbitkan makalah tentang pekerjaan mereka dengan LLM dan CRISPR. Peneliti di UC San Francisco menggunakan AI untuk merancang enzim dari nol. Google meluncurkan alat riset biologi berbasis AI pertamanya, AlphaFold, pada 2020. Artinya, AI telah masuk ke ranah riset biologi jauh melampaui lab-lab AI yang menekuninya sendiri. Langkah Anthropic dan perusahaan lain di sektor ini juga menjadi bagian dari dinamika industri yang lebih luas, termasuk soal efisiensi model dan infrastruktur yang terus berkembang.

Meski demikian, Amodei belum menutup kemungkinan adanya lab biologi yang sepenuhnya otomatis di masa depan. “Pada akhirnya mungkin saja Claude sendiri dapat melakukan eksperimen dengan aman melalui kendali otonom atas peralatan lab, dengan pengamanan yang tepat, tetapi kami tidak melakukannya hari ini,” ujarnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa saat ini batas antara otomasi penuh dan keterlibatan manusia masih dipertahankan, meski arahnya sudah terlihat.

Yang masih menjadi pertanyaan terbuka adalah seberapa besar dan seberapa baru temuan ini sebenarnya. Anthropic sendiri menyatakan bahwa komunitas riset yang lebih luas yang akan memvalidasi hal tersebut. Validasi itu penting, terutama karena klaim penemuan yang dibantu AI perlu diuji dengan standar ilmiah yang sama seperti temuan lain. Di sisi lain, langkah Anthropic menegaskan bahwa perusahaan terus memperluas cakupan risetnya, sejalan dengan pergerakan mereka di sektor model AI dan infrastruktur.

Bagi pembaca yang mengikuti perkembangan industri AI, pengumuman ini menunjukkan dua hal sekaligus. Pertama, kemampuan model AI untuk mempercepat penelusuran data ilmiah semakin nyata, dengan angka 950 agen dan 210 juta token sebagai gambaran skalanya. Kedua, pertanyaan soal keselamatan dan pengawasan tetap melekat pada setiap langkah, terutama ketika riset menyentuh bidang sensitif seperti biologi. Anthropic memilih untuk menekankan percepatan penemuan, tetapi mereka juga menegaskan bahwa manusia masih memegang kendali atas eksperimen fisik. Kombinasi itu—klaim temuan cepat dan batas yang dijaga—akan menjadi tolok ukur bagaimana publik menilai arah riset AI di bidang biologi ke depan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.