Telset.id – ChatGPT caught putting signatures of real cartoonists on AI-generated comics, memicu persoalan hukum baru bagi OpenAI. Chatbot milik OpenAI itu disebut membubuhkan nama dan tanda tangan asli sejumlah kartunis The New Yorker pada gambar yang tidak pernah mereka buat, termasuk pada karya tribute untuk Dolly Parton dan Tim Curry yang viral di internet.
Insiden ini mencuat setelah kartunis The New Yorker, Brendan Loper, menerima banyak pesan dari teman, keluarga, dan penggemar soal sebuah kartun yang dianggap buatannya. Padahal, di sudut gambar itu tertera tanda tangan khasnya, “BLOPER”. Loper sama sekali tidak terlibat dalam pembuatan kartun tersebut. Menurut laporan Nieman Lab, gambar itu dibuat seseorang yang tengah berduka atas Parton menggunakan ChatGPT, lalu diunggah ke internet hingga menyebar luas.
“Itu sangat sureal,” kata Loper kepada Nieman Lab. Ia menyebut ChatGPT memang punya kecenderungan mengaitkan namanya dengan karya yang bukan miliknya. Pada Mei, seseorang memperingatkannya soal gambar lain buatan chatbot OpenAI yang mencantumkan namanya. Persoalan ini pun menyeret ChatGPT ke ranah yang lebih pelik: bukan sekadar meniru gaya, tetapi memalsukan identitas kreator.
Signature Palsu dan Jejak Pelatihan AI
Loper bukan satu-satunya kartunis yang namanya dipakai. Nieman Lab menemukan sejumlah gambar dengan tanda tangan kartunis lama majalah tersebut, seperti Harry Bliss, Emily Flake, Joe Dator, Pat Byrnes, Peter Vey, dan Jason Adam Katzenstein. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana model AI dilatih menggunakan korpus tulisan, gambar, video, dan karya seni yang di-scrape tanpa izin.

Loper sendiri sadar karyanya “dipanen untuk semua pelatihan [AI] ini”, tetapi tanda tangannya yang dipalsukan dianggap melewati batas. “Saya bukan orang yang teritorial, tapi nama saya adalah nama saya. Rasanya sangat seperti pelanggaran terhadap kemanusiaan saya,” ujarnya.
Pemalsuan tanda tangan ini menambah dimensi hukum yang rumit di atas potensi pelanggaran hak cipta. Dalam gugatan Getty Images terhadap Stability AI yang sebagian besar tidak berhasil, seorang hakim menilai generator gambar AI Stability telah melanggar merek dagang Getty karena banyaknya contoh gambar AI yang mereproduksi watermark Getty.
Bagi Loper, tanda tangan adalah sertifikat keaslian. “Tanda tangan bagi saya adalah sertifikat keaslian. Saya hanya membubuhkannya pada karya yang saya unggah ke internet dan saya rasa perlu dikenali sebagai dari tangan saya,” katanya. “Jika saya menaruh nama saya di sana, itu resmi, itu milik saya. Itu benar-benar sebuah merek. Itu tanda yang saya buat.”
Baca Juga:
Kasus ini melengkapi rentetan persoalan yang membelit ChatGPT. Sejumlah pengguna dan pekerja layanan dilaporkan terjebak halusinasi AI ketika mengandalkan jawaban chatbot. Di sisi lain, celah keamanan pada ChatGPT macOS sempat membuat chat log pengguna bisa dibajak.
Tekanan terhadap OpenAI juga datang dari sisi lain. Publicis dan OpenAI sempat menghentikan wawancara Sam Altman yang membahas kematian pengguna ChatGPT, sementara laporan Common Sense Media menyoroti risiko ChatGPT for Teens bagi remaja.
Yang membuat situasi makin pelik, AI tidak hanya meniru karya seniman, tetapi juga menambahkan nama mereka pada hasil keluaran yang buruk. Bagi para kartunis, ini seperti menambah luka di atas luka: karya mereka diambil, lalu nama mereka ditempelkan pada gambar yang tidak pernah mereka sentuh. Loper dan rekannya kini menghadapi kenyataan bahwa identitas kreatif mereka bisa direplikasi oleh mesin tanpa persetujuan.
Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari OpenAI mengenai pemalsuan tanda tangan para kartunis The New Yorker tersebut. Namun temuan Nieman Lab menegaskan satu hal: persoalan AI generatif tidak berhenti pada hak cipta karya, melainkan merambah ke pemalsuan identitas dan merek pribadi para kreator.





Komentar
Belum ada komentar.