📑 Daftar Isi

CEO Nvidia Jensen Huang memberikan pernyataan tegas mengecam PHK massal yang menggunakan AI sebagai alasan

CEO Nvidia Kecam PHK Akibat AI: Alasan Tidak Masuk Akal

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • CEO Nvidia Jensen Huang mengecam keras PHK massal dengan alasan AI
  • Huang menyebut tindakan tersebut tidak masuk akal dan malas
  • Ia menegaskan orang tidak akan kehilangan pekerjaan karena AI, tapi karena orang lain yang lebih mahir AI
  • Standard Chartered dan Meta menjadi contoh terbaru PHK massal dengan alasan AI
  • Huang mendorong pekerja untuk mempelajari AI dan industri untuk mengevaluasi regulasi

Telset.id – CEO Nvidia, Jensen Huang, secara tegas mengecam para pemimpin perusahaan yang melakukan PHK massal dengan dalih adopsi kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, tindakan tersebut bukan hanya langkah yang malas, tetapi juga tidak masuk akal secara logika.

Dalam wawancara dengan CNA, yang dikutip detikINET dari Asia One, Jensen Huang menyoroti narasi keliru yang dibangun oleh para CEO tersebut. Ia mempertanyakan bagaimana mungkin AI baru menjadi produktif dan berguna dalam enam bulan terakhir, tetapi perusahaan sudah melakukan PHK sejak dua tahun lalu dengan alasan yang sama. “Itu sama sekali tidak masuk akal,” tegasnya.

Huang menambahkan bahwa menggunakan AI sebagai kedok untuk PHK adalah cara malas agar para pemimpin perusahaan terdengar pintar. Ia mengecam keras praktik ini karena dinilai tidak bertanggung jawab dan justru mendorong anggapan keliru bahwa pekerjaan manusia akan sepenuhnya digantikan oleh AI.

Jensen Huang ikut mendirikan Nvidia pada tahun 1993 dan menjabat sebagai CEO dan presidennya.

Alih-alih merasa takut, Huang mendorong para pekerja untuk mulai mempelajari AI. “Anda takkan kehilangan pekerjaan karena AI. Anda akan kehilangan pekerjaan karena seseorang yang mempelajari AI lebih baik dari Anda,” ucapnya. Ia optimistis AI justru akan meningkatkan kualitas pekerjaan dan mengangkat tujuan dari pekerjaan itu sendiri.

Dalam skala yang lebih besar, industri juga harus lebih siap menghadapi AI. Seiring bertambahnya individu yang membekali diri dengan keterampilan AI, perusahaan dan regulator perlu mengevaluasi regulasi yang ada untuk mengakomodasi penerapan teknologi ini. “Semua orang harus menjadi bagian dari proses ini,” imbuh Huang.

PHK Massal Akibat AI yang Jadi Sorotan

Pernyataan Jensen Huang muncul di tengah gelombang PHK yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar dengan alasan adopsi AI. Standard Chartered dan Meta menjadi dua contoh terbaru yang menuai kontroversi.

Pada 19 Mei, Standard Chartered mengumumkan rencana memangkas lebih dari 7.000 posisi selama empat tahun ke depan. Langkah ini diambil seiring upaya perusahaan meningkatkan adopsi AI untuk menyederhanakan operasi dan mendongkrak profit. CEO Bill Winters saat itu menyatakan bahwa ini adalah langkah menggantikan sumber daya manusia yang bernilai lebih rendah dengan modal finansial dan investasi.

Pernyataan Winters menuai kecaman luas dari warganet maupun tokoh berpengaruh karena dinilai merendahkan para pekerja. Ia kemudian meminta maaf atas “pilihan kata” yang memicu kekecewaan.

Sementara itu, Meta juga baru saja memberhentikan 10 persen karyawannya atau sekitar 8.000 orang. Belanja besar-besaran infrastruktur AI menjadi salah satu penyebab PHK massal tersebut.

Narasi Seimbang tentang AI

Jensen Huang menekankan pentingnya menyampaikan narasi seimbang mengenai potensi AI. Hal ini terutama terkait pentingnya memajukan teknologi ini secara aman tanpa menimbulkan kepanikan yang tidak perlu di kalangan pekerja.

Ia mendorong para pekerja yang khawatir kehilangan pekerjaan untuk segera mempelajari AI dan memanfaatkannya. “Kemungkinan besar AI justru akan meningkatkan kualitas pekerjaan Anda, dan mengangkat tujuan dari pekerjaan itu sendiri,” imbuhnya.

Dalam konteks industri yang lebih luas, pernyataan Huang ini menjadi pengingat bahwa adopsi AI seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan dalih untuk melakukan efisiensi yang tidak bertanggung jawab.

Situasi ini juga menarik untuk dicermati mengingat Nvidia sendiri tengah menghadapi berbagai tantangan di pasar global. Perusahaan sempat memberikan peringatan keras terkait potensi DeepSeek V4 di chip Huawei yang bisa melemahkan posisi AS.

Selain itu, Nvidia juga terus berinovasi dengan menyiapkan RTX 5070 12GB untuk laptop gaming sebagai bagian dari strategi produk mereka di tengah persaingan ketat.

Pernyataan Jensen Huang ini menjadi tamparan keras bagi para CEO yang menggunakan AI sebagai kambing hitam untuk PHK. Alih-alih menciptakan ketakutan, ia mengajak semua pihak untuk menjadi bagian dari transformasi AI dengan cara yang lebih bertanggung jawab dan konstruktif.

Komentar

Belum ada komentar.