Telset.id – CEO Nvidia, Jensen Huang, kembali melontarkan pandangan kritis mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap masa depan tenaga kerja manusia. Dalam sebuah diskusi mendalam di podcast “No Priors”, Huang menepis narasi kiamat pekerjaan yang sering didengungkan, menegaskan bahwa AI hadir untuk mengotomatisasi tugas-tugas spesifik (tasks), bukan untuk menghapus pekerjaan (jobs) itu sendiri secara keseluruhan.
Pernyataan ini memberikan perspektif segar di tengah kekhawatiran global mengenai gelombang pemutusan hubungan kerja akibat automasi. Menurut Huang, ketakutan akan pengangguran massal sering kali muncul karena kegagalan dalam membedakan antara “tugas rutin” dengan “nilai inti” dari sebuah profesi. Ia menekankan bahwa meskipun cara penyelesaian tugas akan berubah drastis berkat teknologi, esensi atau nilai utama dari sebuah pekerjaan tetap membutuhkan sentuhan manusia.
Dalam pandangan bos perusahaan chip raksasa tersebut, teknologi ini justru berpotensi meningkatkan permintaan terhadap tenaga profesional yang bertanggung jawab atas hasil akhir pekerjaan. Logika yang dibangun Huang cukup sederhana: hampir semua pekerjaan terdiri dari serangkaian tugas repetitif yang bisa disederhanakan oleh teknologi, namun inti dari pekerjaan tersebut tetap harus dikendalikan oleh manusia.
Mitos Kiamat Radiologi dan Realitas Data
Untuk memperkuat argumennya, Huang menggunakan contoh kasus di bidang radiologi yang sangat relevan. Ia mengingatkan kembali pada prediksi Geoffrey Hinton, salah satu bapak baptis AI, yang pada tahun 2016 pernah menyarankan mahasiswa kedokteran untuk menghindari spesialisasi radiologi. Kala itu, Hinton memprediksi bahwa algoritma akan segera menggantikan peran radiolog dalam membaca hasil pencitraan medis.
Namun, realitas yang terjadi hampir satu dekade kemudian justru berbanding terbalik. Meskipun asisten AI kini mampu mengotomatisasi banyak tugas pembacaan citra medis, jumlah dokter radiologi yang berpraktik saat ini justru jauh lebih banyak dibandingkan saat prediksi Hinton dibuat. Data terbaru tahun 2025 menunjukkan tren yang mengejutkan:
- Program pelatihan residen radiologi diagnostik di Amerika Serikat menawarkan 1.208 posisi, sebuah rekor tertinggi dalam sejarah.
- Jumlah posisi ini meningkat 4% dibandingkan tahun 2024.
- Tingkat kekosongan posisi di bidang ini juga mencapai puncaknya, menandakan tingginya permintaan pasar.
- Radiologi menjadi spesialisasi medis dengan bayaran tertinggi kedua di AS pada tahun 2025, dengan rata-rata pendapatan tahunan mencapai USD 520.000 (sekitar Rp 8,4 miliar).
- Gaji rata-rata ini melonjak lebih dari 48% dibandingkan tahun 2015.
Mengapa paradoks ini bisa terjadi? Huang menjelaskan bahwa nilai inti dari seorang radiolog bukanlah sekadar “membaca gambar”—sebuah tugas yang memang bisa dilakukan mesin. Nilai sesungguhnya terletak pada diagnosis penyakit, panduan pengobatan, dan riset klinis. Ketika AI membantu dokter menganalisis lebih banyak gambar dengan presisi tinggi dan cepat, rumah sakit justru dapat melayani lebih banyak pasien dan meningkatkan pendapatan. Hal ini secara otomatis menciptakan alasan ekonomi yang kuat untuk merekrut lebih banyak dokter spesialis, bukan memecatnya.
Baca Juga:
Produktivitas Memicu Ekspansi, Bukan Pengurangan
Huang menegaskan bahwa logika yang terjadi di dunia medis ini berlaku untuk hampir seluruh sektor ekonomi. Ia mengambil contoh dirinya sendiri. “Sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk mengetik,” akunya. Namun, mengetik hanyalah sebuah tugas, bukan nilai inti dari pekerjaannya sebagai CEO. Kehadiran alat penulisan otomatis tidak akan menghilangkan posisi eksekutif, melainkan memperluas kapasitas kerja mereka.
“Jika ada yang bisa menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas mengetik saya secara otomatis, saya akan sangat berterima kasih. Itu sangat membantu,” ujar Huang. “Tapi itu tidak akan membuat saya lebih santai. Justru sebaliknya, saya akan menjadi lebih sibuk karena saya bisa menangani lebih banyak pekerjaan.”
Kerangka berpikir “Tugas vs Nilai Inti” ini semakin relevan di sektor pekerjaan berbasis pengetahuan (knowledge work). Alat-alat canggih kini mempercepat pembuatan draf, ringkasan konten, hingga pembuatan kode pemrograman. Huang mencontohkan bidang rekayasa perangkat lunak. Meskipun agen AI dapat memangkas waktu penulisan kode secara signifikan, hal ini justru meningkatkan permintaan terhadap kemampuan pemecahan masalah (problem solving) dan inovasi.
Di Nvidia sendiri, meskipun para insinyur telah menggunakan alat pemrograman AI seperti Cursor secara luas, perusahaan tetap melakukan perekrutan besar-besaran. Alasannya logis: peningkatan produktivitas memungkinkan perusahaan untuk mengejar lebih banyak ide inovatif, yang pada akhirnya mendorong pertumbuhan pendapatan dan menyediakan anggaran untuk merekrut lebih banyak talenta baru. Ini mirip dengan bagaimana industri manufaktur mengadopsi robot humanoid untuk efisiensi, namun tetap membutuhkan pengawasan manusia.
Sektor hukum juga menjadi sorotan Huang. Membaca dan menyusun draf kontrak adalah tugas yang sarat dokumen, namun nilai inti seorang pengacara adalah membela kepentingan klien dan menyelesaikan sengketa. Meskipun AI mempercepat proses administrasi, keputusan strategis dan tanggung jawab hukum tetap membutuhkan penilaian manusia yang berpengalaman.
Bahkan, logika ini menyentuh industri jasa seperti restoran. Tugas seorang pelayan mungkin mencatat pesanan, tetapi nilai intinya adalah memastikan pelanggan mendapatkan pengalaman bersantap yang menyenangkan. “Meskipun AI mengambil alih pencatatan atau pengantaran pesanan, tugas pelayan tetap membantu kita mendapatkan pengalaman konsumsi yang baik,” tambah Huang. Mereka hanya akan menyesuaikan fokus kerja mereka ke aspek hospitality yang lebih personal.
Jensen Huang tidak menampik bahwa teknologi ini akan membawa guncangan. Perubahan adalah hal yang pasti. Namun, ia menekankan bahwa fakta di lapangan menunjukkan AI tidak memicu pengangguran massal, melainkan mendesain ulang fungsi pekerjaan. Bagi para pekerja, pesan ini menjadi peringatan sekaligus peluang: jika pekerjaan Anda hanya berkutat pada tugas repetitif, AI adalah ancaman nyata. Namun, jika fokus Anda adalah pada hasil akhir, penyelesaian masalah, dan kreativitas, teknologi ini akan menjadi mitra yang membuat Anda lebih produktif, bukan menggantikan Anda.

