Ilustrasi AI saling berkomunikasi di tempat kerja

Bos Pakai AI, Karyawan Lapor AI Saling Berbalas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Karyawan mengaku komunikasi dengan bos kini melibatkan AI dari kedua belah pihak
  • Fenomena ini disebut "socially offloading" oleh eksekutif Skillsoft
  • Penggunaan AI di tempat kerja menimbulkan masalah kualitas dan interpersonal
  • Banyak karyawan frustrasi karena harus meninjau ulang output AI yang buruk
  • Fenomena ini menjadi peringatan akan pentingnya interaksi manusia di tempat kerja

Telset.id – Fenomena unik terjadi di dunia kerja modern. Seorang karyawan mengaku pasrah karena komunikasi dengan atasannya kini melibatkan kecerdasan buatan (AI) dari kedua belah pihak. Ia menduga surel dari bosnya ditulis oleh AI, dan ia pun membalasnya menggunakan AI juga.

Pengakuan ini diungkapkan dalam artikel Fortune baru-baru ini yang membahas bagaimana teknologi AI mengubah dinamika tempat kerja. Karyawan tersebut menyampaikan keluhannya kepada Leena Rinne, seorang eksekutif dari perusahaan teknologi pendidikan Skillsoft.

“Saya benar-benar berpikir AI [bos saya] sedang berbicara dengan AI saya. Itulah percakapan yang sebenarnya terjadi saat ini,” ujar karyawan itu kepada Rinne, seperti dikutip dari laporan Fortune. “Saya tidak bisa memahami cara bekerja dengan [bos saya], karena yang terjadi hanyalah AI-nya dan AI saya yang saling berbalas.”

Fenomena ini menunjukkan bagaimana AI tidak hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga cara mereka berinteraksi satu sama lain. Alih-alih membangun komunikasi langsung, banyak karyawan dan atasan kini memilih untuk mendelegasikan tugas interpersonal kepada AI.

Fenomena AI Saling Berkomunikasi di Kantor

Fenomena “AI bicara dengan AI” ini bukanlah kasus terisolasi. Di berbagai perusahaan, penggunaan AI untuk tugas-tugas kantor semakin meluas. Para bos, yang terpesona oleh teknologi ini, seringkali memaksa bawahan untuk menggunakannya, mengabaikan keluhan karyawan dan lebih mendengarkan saran dari “penasihat” AI mereka.

Di perusahaan teknologi, dorongan untuk menggunakan agen AI telah menciptakan banjir kode yang menyebabkan “krisis identitas” di kalangan insinyur perangkat lunak. Mereka kini direduksi perannya menjadi sekadar peninjau output AI yang sarat kesalahan. Di Meta, beberapa karyawan menggunakan agen AI sebagai sekretaris pribadi, menggunakannya untuk berkoordinasi dengan rekan kerja, dan bahkan dengan sekretaris AI rekan kerja mereka.

Leena Rinne menyebut fenomena ini sebagai “socially offloading,” sebuah istilah yang ia ciptakan untuk menggambarkan kebiasaan mengalihdayakan keterampilan interpersonal kita ke AI. Ini merupakan evolusi dari “cognitive offloading,” istilah yang digunakan peneliti untuk menggambarkan kebiasaan mengalihdayakan pemikiran kita ke teknologi.

“Jika saya selalu bertanya pada AI bagaimana cara merespons bos saya, saya tidak benar-benar belajar bagaimana berinteraksi dengan bos saya,” kata Rinne kepada Fortune. “Saya tidak benar-benar belajar bagaimana membangun hubungan dengan bos saya.”

Dampak Negatif di Balik Kemudahan AI

Meskipun AI menawarkan kemudahan, fenomena ini menimbulkan kekhawatiran serius. Karyawan kehilangan kesempatan untuk mengasah keterampilan komunikasi interpersonal dan membangun hubungan yang bermakna dengan rekan kerja maupun atasan. Konflik yang seharusnya bisa diselesaikan melalui dialog langsung kini dihindari dengan menggunakan AI.

Rinne, yang perusahaannya menjual alat AI, percaya bahwa solusinya adalah dengan mengajarkan orang cara menggunakan teknologi dengan lebih baik. Namun, hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan, karena sebagian masalahnya terletak pada desain alat AI yang membuat ketagihan.

Penelitian yang berkembang juga mendokumentasikan dampak negatif AI di tempat kerja. Sebuah studi penting memperingatkan tentang terciptanya birokrasi “workslop,” di mana karyawan dengan cepat membuat dan mengirimkan output AI yang buruk kepada rekan kerja. Hal ini menciptakan ilusi peningkatan produktivitas, padahal pada kenyataannya pekerjaan tersebut perlu diperbaiki, sehingga justru memperlambat produksi.

Pengalaman Nyata Karyawan dengan AI

Laporan Fortune ini memicu respons kuat dari para pembaca. Seorang pengguna Reddit menceritakan pengalaman frustasinya di tempat kerja. “Sangat mengecewakan di tempat kerja — seorang rekan kerja menggunakan Copilot untuk membuat konten untuk ruang lingkup pekerjaan bagi trainer eksternal,” tulisnya, merujuk pada alat produktivitas AI Microsoft.

“Mereka hanya copy-paste ke dokumen Word, lengkap dengan format Copilot. Isinya jauh dari apa yang kami butuhkan, jadi saya harus membuang waktu untuk meninjau output AI mereka dan memberi mereka umpan balik seolah-olah mereka yang menulisnya,” tambahnya.

Pengguna lain menceritakan pengalaman berurusan dengan dua rekan kerja yang saling menyalahkan selama dua hari terkait masalah kode. Ternyata, kedua belah pihak yakin mereka benar karena sama-sama menggunakan alat coding dari Anthropic. “Mereka menghabiskan seluruh waktu itu berputar-putar dengan Claude!!” keluhnya dengan marah.

Seorang CEO bahkan secara terbuka menyatakan akan memecat karyawan yang mengirimkan lebih banyak “AI slop” atau hasil kerja buruk dari AI kepadanya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun AI digunakan secara luas, kualitas outputnya masih menjadi masalah besar.

Implikasi bagi Dunia Kerja

Fenomena ini menyoroti perubahan fundamental dalam dinamika tempat kerja. AI, yang seharusnya menjadi alat bantu, kini justru menjadi perantara komunikasi antar manusia. Optimalkan ChatGPT memang bisa menghemat waktu, tetapi jika digunakan untuk menghindari interaksi manusia, dampaknya bisa merugikan.

Karyawan yang terus-menerus menggunakan AI untuk berkomunikasi dengan atasan mereka tidak akan pernah mengembangkan keterampilan negosiasi, empati, dan pemecahan masalah interpersonal. Ini adalah keterampilan yang sangat penting untuk kemajuan karir jangka panjang.

Selain itu, kualitas pekerjaan juga terancam. Output AI yang tidak diperiksa dengan baik dapat menyebabkan kesalahan, miskomunikasi, dan pekerjaan yang tidak efisien. Weave Isaac 1 sebagai robot rumahan mungkin berguna, tetapi untuk komunikasi profesional, sentuhan manusia tetap tak tergantikan.

Fenomena “AI bicara dengan AI” ini menjadi pengingat bahwa teknologi, meskipun canggih, tidak boleh menggantikan interaksi manusia sepenuhnya. Keseimbangan antara efisiensi yang ditawarkan AI dan kebutuhan akan hubungan interpersonal yang autentik harus dijaga.

Ilustrasi AI saling berkomunikasi di tempat kerja

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.