Telset.id – Apa yang terjadi ketika sebuah aplikasi yang sempat menjadi sensasi mendadak kehilangan pesonanya? Bocoran terbaru dari The Information mengindikasikan bahwa OpenAI punya rencana besar untuk menghidupkan kembali Sora, model generasi video mereka, dengan cara yang mungkin belum Anda duga: mengintegrasikannya langsung ke dalam ChatGPT. Langkah ini bisa menjadi strategi cerdik untuk memompa napas kedua ke dalam teknologi yang sempat viral, sekaligus mendongkrak angka pengguna aktif mingguan ChatGPT yang sudah mencapai 900 juta.
Ingat September 2025? Saat itulah OpenAI meluncurkan Sora 2 beserta aplikasi khususnya. Aplikasi standalone itu langsung menjadi buah bibir. Namun, seperti banyak tren teknologi, euforia itu tampaknya tidak bertahan lama. Minat pengguna terhadap aplikasi Sora dilaporkan meredup seiring waktu. Batasan dalam jumlah dan jenis video yang bisa dibuat, rupanya, menjadi batu sandungan. Kini, aplikasi itu bahkan telah jatuh dari peringkat 100 besar aplikasi gratis di App Store. Hanya segelintir kecil pengguna yang masih aktif membagikan hasil kreasi mereka secara publik di dalamnya.
Lantas, apa artinya memindahkan Sora ke dalam ChatGPT? Ini bukan sekadar memindahkan furnitur dari satu ruangan ke ruangan lain. Ini adalah upaya strategis untuk menempatkan kemampuan pembuatan video yang powerful tepat di jantung ekosistem AI yang paling populer di dunia. Dengan begitu, miliaran pengguna ChatGPT yang sudah ada dapat dengan mudah mengakses fitur ini tanpa perlu membuka aplikasi terpisah. Bayangkan: Anda sedang berdiskusi tentang konsep film pendek dengan asisten AI, dan dalam percakapan yang sama, Anda bisa langsung memintanya untuk mewujudkan konsep itu menjadi video. Itulah potensi integrasi yang sedang digodok.
Namun, di balik potensi kebangkitan ini, tersembunyi tantangan besar yang mungkin membuat petinggi OpenAI sedikit bergidik: biaya. Menghasilkan video dengan AI bukanlah proses yang murah. Meski sulit menentukan angka pastinya, OpenAI diketahui mengenakan tarif $0,10 per detik untuk video 720p bagi pelanggan API-nya. Dulu, di era kejayaan aplikasi Sora, mereka bahkan rela memberikan 30 generasi video gratis per hari per akun. Sekarang, bayangkan skala yang jauh lebih masif ketika model ini tersedia untuk audiens ChatGPT yang lebih luas. Biayanya bisa meledak tak terkendali.
Laporan The Information bahkan menyebutkan proyeksi mengejutkan: OpenAI diperkirakan bisa menghabiskan lebih dari $225 miliar untuk biaya inference—istilah teknis untuk biaya menjalankan model—antara tahun 2026 dan 2030. Angka yang fantastis ini menunjukkan betapa mahalnya operasional model AI generatif skala besar. Biaya operasional Sora sendiri pernah menjadi sorotan, seperti yang diungkap dalam laporan mengenai kerugian OpenAI yang signifikan.
Baca Juga:
Lalu, bagaimana OpenAI berencana mengatasi gunung biaya ini? Monetisasi adalah jawaban yang paling mungkin. Di aplikasi Sora standalone, mereka sudah mencoba menerapkan sistem kredit berbayar untuk menghasilkan video baru. Skema serupa sangat mungkin diadopsi ketika Sora akhirnya mendarat di ChatGPT. Pengguna mungkin akan diberikan jatah generasi video gratis tertentu per bulan, dan setelah habis, mereka harus membeli paket kredit. Di sinilah kolaborasi strategis bisa menjadi pemantik minat berbayar.
OpenAI diketahui telah menjalin kemitraan resmi dengan Disney. Bayangkan daya tariknya: kemampuan membuat video pendek dengan karakter ikonik seperti Mickey Mouse atau pahlawan Marvel, langsung dari antarmuka ChatGPT. Fitur eksklusif semacam ini bisa menjadi alasan kuat bagi pengguna untuk membuka dompet mereka, sekaligus menjadi realisasi dari investasi besar Disney di OpenAI. Namun, jalan menuju monetisasi konten berkarakter tidak selalu mulus, seperti yang terlihat dari kasus hukum dengan Cameo yang sempat menghambat fitur serupa.
Masa Depan Aplikasi Sora Standalone
Meski rencana integrasi ke ChatGPT sedang berjalan, laporan tersebut menyebutkan bahwa aplikasi Sora yang standalone tidak akan serta-merta dihapus. Ia akan tetap dipertahankan. Pertanyaannya, untuk apa? Mungkin aplikasi itu akan berevolusi menjadi platform yang lebih niche, ditujukan untuk kreator profesional atau pengguna yang menginginkan fitur dan kontrol yang lebih advanced dibandingkan versi yang terintegrasi di ChatGPT. Atau, bisa jadi ia menjadi semacam “laboratorium” untuk menguji fitur-fitur baru Sora sebelum diluncurkan secara massal. Bagaimanapun, kehadiran ganda ini menunjukkan bahwa OpenAI masih ingin menjaga opsi dan tidak menaruh semua telur dalam satu keranjang.
Integrasi Sora ke ChatGPT juga membawa pertanyaan tentang dampak terhadap lanskap AI secara keseluruhan. Jika berhasil, langkah ini akan semakin memperkuat posisi ChatGPT sebagai “super-app” AI, satu tempat untuk melakukan segalanya mulai dari bertanya, menulis, memprogram, hingga kini, membuat video. Ini adalah langkah konsolidasi kekuatan yang jelas. Di sisi lain, kegagalan untuk memonetisasi dengan efektif bisa memperburuk beban keuangan perusahaan, yang sudah harus berhadapan dengan tekanan biaya operasional yang sangat besar.
Selain tantangan biaya, aspek legal dan etika juga menjadi bayang-bayang. Pelatihan model seperti Sora 2 seringkali menyentuh area abu-abu mengenai hak cipta, yang telah memicu protes dari berbagai pihak, termasuk pemerintah Jepang. Integrasi yang lebih luas berarti potensi penyalahgunaan yang lebih besar pula. Bagaimana OpenAI akan mengatasi masalah deepfake, misinformasi, atau pelanggaran hak cipta dalam skala miliaran percakapan? Sistem moderasi yang ada di ChatGPT akan diuji ketahanannya.
Jadi, apakah rencana ini akan menjadi masterstroke yang menghidupkan kembali Sora dan mendorong ChatGPT melampaui satu miliar pengguna aktif? Atau justru menjadi beban finansial yang terlalu berat untuk dipikul? Jawabannya terletak pada eksekusi. Kemudahan penggunaan, kualitas output video, struktur harga yang masuk akal, dan penanganan isu etika akan menjadi penentu utama. Satu hal yang pasti: langkah OpenAI ini sekali lagi membuktikan bahwa di dunia AI, tidak ada yang diam. Inovasi dan adaptasi adalah napas kehidupan. Dan bagi kita sebagai pengguna, bersiaplah untuk era di mana percakapan dengan AI tidak hanya menghasilkan teks, tetapi juga adegan-adegan visual yang lahir langsung dari imajinasi kita.

