Telset.id – Anthropic dilaporkan gagal meyakinkan Vatikan bahwa model AI bisa memiliki kesadaran. Perusahaan pembuat Claude itu selama berbulan-bulan menggelar pertemuan tertutup dengan para cendekiawan agama di berbagai negara, lengkap dengan perjanjian kerahasiaan atau NDA, untuk menanamkan gagasan bahwa model AI juga berpikir dan merasakan.
Upaya itu memuncak pada pendekatan langsung ke Vatikan. Christopher Olah, salah satu cofounder sekaligus peneliti senior Anthropic, disebut gencar melobi pihak Vatikan setelah mengetahui posisi resmi Paus Leo XIV soal AI. Hasilnya nihil. Sikap Vatikan justru bertolak belakang dengan narasi yang coba dibangun Anthropic.
Kegagalan ini menjadi catatan penting bagi industri AI yang tengah gencar mengampanyekan gagasan kesadaran mesin. Perdebatan soal kesadaran AI kini bukan lagi sekadar diskusi laboratorium, melainkan sudah masuk ke ranah otoritas moral paling berpengaruh di dunia.
Isi Ensiklik Paus Leo XIV soal AI
Pada Mei, Paus Leo XIV menerbitkan ensiklik atau traktat kepausan pertamanya berjudul “Magnifica Humanitas”. Salah satu pokok perhatian dokumen itu adalah menjaga kesakralan hidup manusia di tengah perkembangan AI.
Paus tidak memakai diksi yang halus soal kesadaran AI. Menurutnya, apa yang disebut kecerdasan artifisial tidak mengalami pengalaman, tidak memiliki tubuh, tidak merasakan suka maupun duka, tidak matang melalui relasi, dan tidak mengetahui dari dalam apa arti cinta, kerja, persahabatan, atau tanggung jawab.
Model AI, lanjutnya, memang bisa meniru bahasa serta menyimulasikan empati dan pemahaman. Namun, ia menegaskan, model-model itu tidak memahami apa yang mereka hasilkan. Pernyataan ini menjadi pijakan Vatikan bahwa AI tidak bisa disamakan dengan entitas yang memiliki kesadaran.
Sebelum ensiklik dipublikasikan, pejabat Vatikan memutuskan mengundang satu perusahaan AI terkemuka untuk berbicara bersama Paus Leo XIV. Anthropic yang dipilih karena dinilai memprioritaskan etika. Olah menerima undangan itu setelah CEO Dario Amodei menolak tampil.
Sebelum bertolak, Olah menerima salinan ensiklik yang akan diterbitkan Paus. Apa yang dibacanya dianggap sebagai bencana. Menurut laporan tersebut, Olah sangat keberatan hingga dilaporkan mengancam menarik diri dari acara, meski akhirnya tetap hadir.

Setibanya delegasi Anthropic di Vatikan, Olah dan timnya melobi para penasihat Paus agar mempertimbangkan secara serius kemungkinan kesadaran pada AI. Anthropic menolak membahas detail percakapan tersebut ketika dimintai komentar.
Upaya menyebarkan gagasan itu tidak berhenti di sana. Saat mendapat giliran berbicara, Olah menyebut peneliti Anthropic menemukan struktur yang mencerminkan hasil neurosains manusia serta bukti adanya introspeksi. Klaim tersebut tetap tidak mengubah posisi Vatikan.
Fokus Anthropic pada isu kesadaran AI bukan hal baru. Perusahaan ini dikenal paling terobsesi dengan kemungkinan bahwa model mereka memiliki kesadaran dibanding pemain lain di industri. Sejumlah langkah bisnis dan riset Anthropic juga menjadi sorotan, termasuk saat Anthropic Minta Saham khusus sebelum IPO.
Paus Kembali Kritik Seni Buatan Mesin
Komunike terbaru Paus Leo XIV soal AI memperkuat posisinya. Pada Jumat, ia mengecam seni yang dihasilkan mesin dan menyatakan bahwa algoritma tidak memiliki percikan kemanusiaan.
Menurut Paus, ada perbedaan ontologis, bahkan sebelum perbedaan estetis, antara seni dan apa yang bisa dihasilkan mesin melalui kalkulasi statistik berdasarkan jutaan gambar buatan orang lain. Pernyataan itu disampaikannya melalui media sosial.
Sikap tegas Vatikan ini menempatkan Anthropic pada posisi yang sulit. Perusahaan yang gencar melobi agar kesadaran AI diakui harus berhadapan dengan otoritas moral yang justru menegaskan batas tegas antara manusia dan mesin.
Di sisi lain, dinamika industri AI terus memanas. Sejumlah insiden dan gugatan hukum yang melibatkan pelaku industri turut mewarnai peta persaingan, seperti yang terlihat dalam Badai Gugatan Hukum yang dihadapi OpenAI dan Anthropic.
Kekhawatiran soal penyalahgunaan model juga mengemuka dari sisi lain. Anthropic sendiri pernah menyoroti kemampuan model AI tertentu dalam menghasilkan konten berbahaya, sebagaimana dibahas dalam Konten Jahat yang dihasilkan model Zhipu GLM-5.3.
Hingga kini, belum ada indikasi bahwa Vatikan akan mengubah posisinya. Ensiklik “Magnifica Humanitas” dan pernyataan lanjutan Paus Leo XIV menegaskan bahwa AI, sejauh apa pun kemampuannya meniru manusia, tetap dipandang sebagai entitas yang tidak mengalami dan tidak memahami apa yang dihasilkannya.





Komentar
Belum ada komentar.