Aleye: Gelang Haptik untuk Bantu Baca Ekspresi Wajah, Kolaborasi dengan Kacamata Meta

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Bayangkan jika Anda bisa “merasakan” senyuman lawan bicara atau mengerti gelengan kepala mereka melalui getaran di pergelangan tangan. Itulah yang diusung startup Hapware dengan Aleye, gelang haptik cerdas yang baru saja diperkenalkan di CES 2026. Perangkat ini bekerja sama dengan kacamata pintar Ray-Ban Meta untuk menerjemahkan bahasa tubuh dan ekspresi wajah menjadi pola getaran yang dapat dipelajari, membuka pintu komunikasi baru bagi penyandang tunanetra, low vision, atau neurodivergent.

Hanya dalam hitungan bulan sejak Meta membuka platform kacamata pintarnya untuk pengembang pihak ketiga, inovasi aksesibilitas yang menarik ini sudah muncul. Aleye bukan sekadar gadget biasa; ia adalah jembatan menuju dimensi komunikasi nonverbal yang sering kali tersembunyi. Bagi banyak orang, memahami apakah seseorang tersenyum, mengernyit, atau terkejut adalah hal intuitif. Namun, bagi mereka yang tidak dapat melihat atau memproses isyarat visual dengan cara konvensional, informasi krusial ini bisa hilang. Di sinilah Aleye berperan, mengubah apa yang “terlihat” oleh kamera menjadi sesuatu yang “dapat dirasakan”.

Gelang Aleye sendiri memiliki desain yang cukup tebal, lebih besar dari Apple Watch pada umumnya. Di balik bodinya yang kokoh, terdapat serangkaian aktuator haptik yang dapat bergetar dalam pola-pola spesifik. Pola getaran unik inilah yang dikaitkan dengan ekspresi atau gerakan tertentu yang dideteksi oleh kacamata Ray-Ban Meta. Kacamata tersebut, dengan kemampuan computer vision-nya, menjadi mata bagi sistem ini. Ia merekam aliran video dari percakapan pengguna dan mengirimkannya ke aplikasi pendamping Aleye. Di aplikasi itulah sebuah algoritma bekerja untuk menganalisis dan mengidentifikasi ekspresi wajah serta gestur lawan bicara secara real-time.

Kelebihan sistem ini terletak pada personalisasinya. Pengguna tidak dibombardir dengan semua informasi sekaligus. Mereka dapat memilih ekspresi atau gerakan mana saja yang ingin mereka ketahui melalui aplikasi. Misalnya, seseorang mungkin hanya ingin diberi tahu saat lawan bicara mengangguk setuju atau terlihat bingung. Aplikasi tersebut juga berfungsi sebagai alat pelatihan, membantu pengguna membedakan dan mengingat pola getaran yang berbeda. Jack Walters, CEO Hapware, mengklaim bahwa dalam pengujian awal, orang dapat mempelajari beberapa pola hanya dalam hitungan menit. Timnya bahkan berusaha membuat sensasi haptiknya intuitif. “Getaran untuk ekspresi ‘mulut ternganga’ mungkin akan terasa seperti sesuatu yang jatuh, sementara gelombang tangan akan terasa seperti getaran dari sisi ke sisi,” jelasnya, menggambarkan upaya untuk menciptakan koneksi sensorik yang logis.

Lantas, bagaimana perbandingannya dengan fitur aksesibilitas bawaan Meta AI, seperti Live AI? Dr. Bryan Duarte, CTO Hapware yang telah tunanetra sejak kecelakaan motor di usia 18 tahun, memberikan perspektif langsung. Menurutnya, fitur seperti Live AI bisa terasa terbatas dan mengganggu. “Ia hanya akan memberi tahu saya ada seseorang di depan saya,” ujarnya. “Ia tidak akan memberi tahu jika Anda tersenyum. Anda harus memintanya setiap kali, ia tidak akan serta-merta memberi tahu Anda.” Duarte mengungkapkan bahwa dirinya lebih memilih umpan balik haptik dari Aleye yang konstan dan pasif dibandingkan dengan asisten suara yang terus berbicara di telinga, yang justru dapat mengganggu alami percakapan.

Inovasi haptik seperti yang dihadirkan Aleye sejalan dengan tren pengembangan umpan balik sentuh yang lebih canggih di industri teknologi. Perusahaan seperti Apple pun diketahui terus mengembangkan tombol haptik untuk berbagai lini produknya, menunjukkan betapa pentingnya dimensi “rasa” ini dalam interaksi manusia-komputer. Aleye mengambil prinsip itu dan menerapkannya dalam konteks sosial yang sangat manusiawi.

Namun, jalan menuju adopsi luas tentu memiliki tantangan. Harga menjadi faktor pertimbangan. Hapware telah membuka pre-order untuk Aleye dengan harga mulai dari $359 (sekitar Rp 5,6 juta) untuk gelangnya saja. Paket yang mencakup gelang plus langganan aplikasi selama satu tahun dibanderol $637 (sekitar Rp 9,9 juta). Perlu diingat, langganan aplikasi adalah keharusan dengan biaya $29 (sekitar Rp 450 ribu) per bulan jika dibeli terpisah. Dan itu belum termasuk kacamata Ray-Ban Meta yang harus dimiliki sebagai komponen utama sistem. Meski demikian, bagi komunitas yang menjadi targetnya, investasi untuk kemandirian komunikasi yang lebih baik mungkin sepadan.

Kehadiran Aleye di CES 2026 juga menyoroti bagaimana ajang teknologi terbesar dunia semakin menjadi panggung bagi solusi-solusi inklusif. Di tengah hiruk-pikuk TV mikro RGB, laptop gaming bertenaga, dan wearable futuristik, inovasi yang memecahkan masalah nyata manusia seperti ini justru sering kali paling menyentuh. Ia mengingatkan kita bahwa esensi teknologi bukanlah tentang menjadi yang paling cepat atau paling tajam, tetapi tentang menjadi yang paling berarti dan memberdayakan.

Perkembangan di bidang perangkat gaming high-end, seperti yang ditunjukkan oleh peluncuran duo gaming mewah dari Red Magic atau perangkat Android gaming pertama dengan Snapdragon G3 Gen 3 dari AYANEO, tentu menarik. Namun, terobosan seperti Aleye membawa kita pada pertanyaan mendasar: teknologi seperti apa yang benar-benar kita butuhkan untuk terhubung sebagai manusia? Saat chipset dan GPU misterius diperdebatkan di forum benchmark, Hapware justru sibuk menyempurnakan pola getaran untuk senyuman. Dua dunia yang berbeda, tetapi sama-sama mendefinisikan masa depan.

Aleye masih dalam tahap awal. Keberhasilannya nanti akan sangat bergantung pada akurasi algoritma pengenalannya, kenyamanan penggunaan jangka panjang, dan tentu saja, penerimaan dari komunitas yang dituju. Namun, yang tak terbantahkan adalah bahwa ia telah menyalakan percikan harapan. Ia menunjukkan potensi kolaborasi antara hardware pihak ketiga yang cerdik dengan platform terbuka dari raksasa teknologi seperti Meta. Dalam getaran halus di pergelangan tangan, mungkin saja terkandung kekuatan untuk meruntuhkan tembok penghalang dalam komunikasi, membuat dunia sosial yang kaya akan isyarat nonverbal menjadi sedikit lebih terbuka dan dapat diakses untuk semua.

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI