Telset.id – Perdana Menteri Inggris Keir Starmer kembali menegaskan komitmennya untuk menggunakan AI tutor bagi hampir setengah juta anak kurang mampu. Langkah ini diumumkan dalam pidatonya di London Tech Week pada Senin lalu, sebagai upaya menutup kesenjangan pendidikan.
Dalam pidato yang sarat dengan tema kecerdasan buatan, Starmer juga membahas pembangunan pusat data AI baru dan mendesak perusahaan teknologi untuk memasang perangkat lunak pengawasan di ponsel warga. Ia juga menyebutkan bahwa 1,7 juta pekerja telah menerima pelatihan AI dari pemerintah, serta meluncurkan alat pencari kerja berbasis AI.
Fokus utama dari kebijakan ini adalah pendidikan. Pemerintah akan memberikan akses AI tutor kepada 450.000 anak yang menerima makanan gratis di sekolah. Program ini bertujuan untuk mengatasi kesenjangan pencapaian akademik antara siswa dari latar belakang sosial yang berbeda.
Namun, logika di balik inisiatif yang pertama kali diumumkan pada Januari lalu ini dinilai rapuh. Data menunjukkan bahwa anak-anak kurang mampu lulus ujian standar Bahasa Inggris dan Matematika hanya setengah dari tingkat kelulusan teman sebaya mereka. Pemerintah beralasan bahwa bimbingan belajar satu lawan satu dapat mempercepat pembelajaran anak hingga lima bulan.
Kritik Terhadap Kebijakan AI Tutor
Masalah utamanya, terdapat banyak penelitian yang justru menunjukkan bahwa AI adalah alat pembelajaran yang tidak efektif. Studi membuktikan bahwa penggunaan AI mengurangi aktivitas otak selama tugas kognitif, merusak kemampuan berpikir kritis, dan dikaitkan dengan gangguan memori. Memberikan akses chatbot AI kepada anak-anak dianggap tidak cukup untuk membalikkan nasib akademik mereka.
Ed Newton-Rex, CEO Fairly Trained, mengecam inisiatif ini. “Menimpakan AI tutor kepada masyarakat termiskin ketika efeknya masih belum dipahami adalah tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab,” tulisnya di media sosial. “Pemerintah ini sepenuhnya telah dikuasai oleh industri teknologi.”
Seorang pengguna lain berkomentar sinis, “AI untuk orang miskin, guru manusia sungguhan untuk orang kaya.” Hal ini mencerminkan kekhawatiran publik tentang kesenjangan yang justru akan semakin lebar.
Baca Juga:
Inggris bukanlah negara pertama yang menerapkan kebijakan ini. Pada Desember lalu, xAI milik Elon Musk mengumumkan program pendidikan nasional berbasis AI yang disebut sebagai yang pertama di dunia. Program tersebut menggunakan chatbot Grok di lebih dari 5.000 sekolah umum, menjangkau sekitar dua juta anak.

Kritik juga datang dari serikat guru yang memohon sekolah dasar untuk berhenti memberikan AI kepada anak-anak usia dini. Kekhawatiran utama adalah dampak jangka panjang terhadap perkembangan kognitif dan kemampuan sosial anak.
Kebijakan AI tutor ini menunjukkan betapa sedikitnya pemerintah memikirkan masa depan anak-anak kurang mampu. Memberikan chatbot yang kerap berhalusinasi sebagai solusi pendidikan hanya akan memperparah kesenjangan yang ada, bukan menyelesaikannya.





Komentar
Belum ada komentar.