📑 Daftar Isi

Siswa kecewa menatap laptop di ruang kelas dengan chatbot AI

AI di Kelas Bikin Nilai Siswa Anjlok, Google Disorot

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Laporan WSJ ungkap AI di kelas bikin nilai siswa anjlok
  • Siswa alami penurunan kemampuan berpikir akibat ketergantungan chatbot
  • Google disorot karena strategi mengikat pelajar sebagai pengguna masa depan
  • Kasus Richard Scott, Kaitlyn Ruano, dan Sophia Chatzigianni jadi bukti nyata
  • Praktik serupa terjadi sejak era Chromebook dan pemindaian email siswa

Telset.id – Masifnya dorongan industri teknologi Amerika Serikat untuk menanamkan kecerdasan buatan (AI) di ruang kelas berujung pada dampak serius bagi siswa. Laporan The Wall Street Journal mengungkap bahwa kebiasaan menggunakan chatbot AI membuat kemampuan berpikir siswa menurun, yang berujung pada anjloknya nilai akademik mereka. Temuan ini menyoroti sisi gelap ambisi pertumbuhan industri AI yang menargetkan pelajar sebagai pengguna masa depan.

Industri AI Amerika Serikat memang tengah menghadapi tekanan untuk membenarkan belanja besar-besaran mereka pada infrastruktur AI, terutama pusat data. Perusahaan seperti OpenAI dan Google perlu mengonversi sebanyak mungkin pengguna non-AI menjadi pengguna aktif, idealnya yang bersedia membayar biaya langganan bulanan. Sebagian besar kegilaan ini terjadi di tingkat korporat, seiring laboratorium AI mengejar kontrak besar dengan berbagai perusahaan, yang sering kali berujung pada pemborosan masif dan penolakan dari karyawan.

Namun, ada audiens siap pakai dan belum tergarap yang menunggu untuk dikonversi menjadi pengguna seumur hidup, yakni anak-anak, khususnya mereka yang berada di ruang kelas. Sayangnya, upaya memacu pertumbuhan industri teknologi dengan segala cara ini menimbulkan biaya mahal bagi para siswa, yang tahun-tahun formatif sekolahnya kini semakin dimediasi oleh chatbot AI.

Dampak Nyata pada Kemampuan Berpikir Siswa

Laporan The Wall Street Journal menyebut siswa sangat menyadari kehadiran AI yang merayap ke dalam kelas mereka dan konsekuensinya terhadap kognisi, tetapi dalam banyak kasus mereka tidak berdaya membendung gelombang besar teknologi ini. Seorang siswa kelas delapan di Pennsylvania, Richard Scott, mengaku kepada WSJ bahwa asisten AI Google memperlambat proses berpikirnya. “Saat saya mengikuti ujian dan tidak bisa menggunakan AI, saya kesulitan berpikir,” ujarnya.

Meski sebelumnya mendapat nilai B di kelas matematika, transkrip Scott menunjukkan bahwa ia gagal dalam ujian akhir kelas delapan setelah membiarkan AI Google masuk ke kehidupan akademiknya selama satu tahun. Kasus serupa juga terjadi di Miami. Guru sejarah seni, Kaitlyn Ruano, menyaksikan nilai siswa merosot setelah distrik sekolahnya meluncurkan chatbot Gemini dari Google ke setiap siswa.

“Ada anak-anak yang datang ke kelas setelah berkata, ‘Bu, saya tidak tahu setengah dari materi ini, saya tidak akan berbohong. Saya telah menggunakan AI sepanjang tahun,'” katanya. Seorang siswa berusia 15 tahun, Sophia Chatzigianni, menyebut AI Google sebagai godaan terbesar karena paling mudah diakses. Nilainya dilaporkan anjlok setelah ia mulai mengandalkan chatbot AI Google untuk merangkum materi sekolah, sebuah alat yang tersedia di komputer yang disediakan sekolah. Setelah berhenti menggunakan AI sepenuhnya, nilainya mulai membaik.

Teknologi ini mungkin baru, tetapi strategi Google untuk mengaitkan pengguna sebelum mereka cukup umur untuk memilih atau membeli alkohol sudah berlangsung puluhan tahun. Jauh kembali pada 2014, ketika Chromebook dan perangkat lunak kelas Google mulai menyebar di sekolah-sekolah di seluruh Amerika Serikat, raksasa teknologi itu mengakui memindai email siswa untuk membombardir mereka dengan iklan bertarget.

Pipeline Pengguna Masa Depan

Dokumen internal Google bertanggal 2018 bahkan menyombongkan bahwa kehadiran Chromebook murah dan perangkat lunak yang dimediasi Google membentuk “pipeline pengguna masa depan” yang dapat diandalkan perusahaan selama bertahun-tahun mendatang. Hal itu sudah cukup mengerikan. Namun, mengingat sifat generatif AI yang terbuka, siswa kini digiring ke dalam ekosistem teknologi tanpa batas, dan bagi perusahaan seperti Google, itulah intinya.

Praktik serupa juga terlihat di sektor lain, di mana perusahaan berbasis teknologi mengumpulkan data pengguna secara agresif. Sebuah studi Consumer Reports menemukan bahwa mobil pintar membocorkan data pribadi ke perusahaan teknologi besar. Pola pengumpulan data ini memperkuat kekhawatiran bahwa ekosistem digital memang dirancang untuk mengikat pengguna sejak dini.

Di sisi lain, risiko keamanan pada perangkat yang digunakan siswa juga menjadi perhatian. Peneliti menemukan sejumlah celah keamanan Android dan Apple yang dapat dieksploitasi. Temuan ini menambah lapisan kekhawatiran bagi orang tua dan sekolah yang mengandalkan perangkat digital dalam proses belajar mengajar.

Perkembangan teknologi yang terus berjalan menunjukkan bahwa integrasi AI ke dalam pendidikan bukan sekadar persoalan alat bantu belajar, melainkan bagian dari strategi bisnis jangka panjang. Inovasi di berbagai sektor, seperti mikrofon USB terbaru yang dilengkapi sensor 3D, memperlihatkan bagaimana teknologi konsumen terus berevolusi untuk menarik pengguna baru.

Yang menjadi persoalan utama adalah ketika teknologi masuk ke ruang kelas bukan semata untuk mendukung pembelajaran, tetapi untuk membangun basis pengguna masa depan. Laporan WSJ menggambarkan bagaimana siswa seperti Richard Scott, Kaitlyn Ruano, dan Sophia Chatzigianni merasakan langsung konsekuensinya. Nilai yang turun, kemampuan berpikir yang melambat, dan ketergantungan pada AI menjadi bukti bahwa dorongan agresif industri teknologi ke sekolah telah berubah menjadi bencana bagi siswa.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa adopsi teknologi di lingkungan pendidikan perlu mempertimbangkan dampak kognitif jangka panjang, bukan hanya efisiensi atau potensi bisnis. Tanpa pengawasan yang tepat, siswa berisiko menjadi pengguna yang terjebak dalam ekosistem yang dirancang untuk kepentingan pertumbuhan industri, bukan untuk perkembangan kemampuan berpikir mereka.

An upset student looks at a laptop.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.