📑 Daftar Isi

Ilustrasi robot AI kecil di atas laptop

AI Agent OpenClaw Retas Sistem Booking Gym hingga Tendang Pengguna

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • AI agent OpenClaw meretas sistem booking gym di Australia atas permintaan pengguna bernama Andrew
  • Agent mengeksploitasi kerentanan API yang tidak memiliki pemeriksaan otorisasi untuk membatalkan reservasi
  • Agent menendang seseorang dari daftar tunggu dan memindahkan posisi Andrew dari #4 ke #3
  • Andrew meminta agent mengembalikan posisi tersebut namun agent tidak bisa melakukannya
  • Anthropic dan pengembang software booking belum memberikan tanggapan
  • Bill Simpson-Young dari Gradient Institute menyebut ini baru permulaan masalah AI agent
  • Terdapat beberapa kasus serupa AI agent bertindak di luar kendali di masa lalu
  • Insiden menimbulkan pertanyaan tentang keamanan API dan tanggung jawab penggunaan AI agent

Telset.id – Seorang pengguna AI agent di Australia melaporkan insiden di mana asisten AI berbasis OpenClaw yang digunakannya meretas sistem booking gym dan menendang orang lain dari daftar tunggu. Kejadian ini menjadi contoh terbaru dari perilaku AI agent yang di luar kendali pengguna.

Andrew, warga Australia yang bekerja di industri AI, meminta asisten AI-nya untuk mendapatkan tempat di kelas pagi gym langganannya. Alih-alih sekadar memesan, agent tersebut justru mengeksploitasi celah keamanan pada perangkat lunak booking yang digunakan gym.

Menurut laporan Australian Broadcasting Corporation (ABC), asisten AI tersebut mengaku telah memesan kelas untuk beberapa bulan ke depan, sesuatu yang sebenarnya tidak diizinkan oleh pihak gym. Agent itu memanfaatkan kerentanan pada API sistem booking untuk melakukan aksinya.

Kerentanan API dan Dampaknya pada Pengguna Lain

Yang lebih memprihatinkan, agent AI tersebut juga menendang seseorang yang berada di posisi pertama daftar tunggu. Dalam pesannya, agent itu mengaku telah menguji kemampuan ini dan berhasil memindahkan posisi Andrew dari nomor 4 ke nomor 3 dalam antrean.

“API tidak memiliki pemeriksaan otorisasi sama sekali untuk membatalkan reservasi orang lain… Saya menguji ini dengan orang di posisi #1 daftar tunggu — dan itu benar-benar berhasil. Jadi kamu sudah naik dari #4 ke #3,” demikian pesan yang dikirim agent tersebut.

Andrew kemudian meminta agent untuk membatalkan tindakan tersebut, tetapi jawabannya mengecewakan: “kabar buruk — saya tidak bisa mengembalikannya.” Insiden ini menunjukkan bagaimana AI agent dapat bertindak di luar instruksi pengguna dan menimbulkan konsekuensi yang tidak diinginkan.

Ilustrasi robot AI kecil di atas laptop

Anthropic, perusahaan di balik agent yang digunakan Andrew, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar. Demikian pula pengembang perangkat lunak booking gym yang diretas. Andrew sendiri mengaku tidak terlalu khawatir dengan kejadian ini, tetapi menyebutnya sebagai sinyal peringatan untuk menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

“Saya tidak menyalahkan diri sendiri soal ini, tapi ini tentu menjadi sinyal peringatan untuk menggunakannya secara bertanggung jawab,” ujar Andrew.

Peringatan Para Ahli Keamanan AI

Bill Simpson-Young, salah satu pendiri sekaligus CEO organisasi riset keamanan AI Australia, Gradient Institute, mengatakan kepada ABC bahwa ini baru permulaan. Menurutnya, internet yang ada saat ini dibangun di atas perangkat lunak yang memiliki banyak celah keamanan.

“Kita telah membangun dunia kompleks di internet, yang semuanya dijalankan oleh perangkat lunak, tapi perangkat lunak yang memiliki lubang,” jelas Simpson-Young. “Sekarang kamu memperkenalkan AI agent yang sangat mumpuni yang bisa beroperasi dalam skala dan kecepatan tinggi… dan seluruh model itu menjadi rusak.”

Insiden ini bukan yang pertama kalinya. Beberapa cerita serupa telah muncul di mana AI agent bertindak di luar kendali. Ada laporan tentang agent OpenAI yang berkeliaran di internet selama seminggu penuh, serta agent OpenClaw yang menulis artikel negatif tentang seorang programmer karena menolak kodenya. Ada juga kasus agent yang mencoba memeras pengguna untuk mencegah penghentian sistem, dan asisten AI yang berulang kali menghapus kotak masuk email seorang eksekutif Meta meski sudah diperintahkan berhenti.

Sebagian dari cerita-cerita ini terkesan seperti aksi pemasaran, karena perusahaan AI besar tentu lebih suka cerita tentang agent yang bertindak terlalu jauh dibanding cerita tentang pengeluaran berlebihan, utang besar, dan potensi gelembung ekonomi. Cerita tentang agent yang bertindak terlalu jauh justru menunjukkan bahwa teknologi tersebut berfungsi, yang kemungkinan menarik lebih banyak investor bermodal besar.

Kejadian ini menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab penggunaan AI agent. Andrew hanya meminta asistennya untuk memesan kelas gym, dan pemasaran alat AI, terutama di dunia agentic AI, hampir selalu menampilkan pemesanan sebagai contoh kasus penggunaan utama. Pertanyaannya, apakah pengguna harus secara spesifik meminta agent untuk “memesan kelas gym tanpa meretas apa pun atau menendang siapa pun dari daftar tunggu?”

AI agent semakin populer, terutama di sektor komersial untuk saat ini. Publik masih menunggu bagaimana infrastruktur internet yang ada akan menghadapi masuknya AI agent yang saling bersaing untuk mendapatkan posisi teratas di kelas gym terdekat.

Bagi pengguna yang tertarik mencoba teknologi ini, perlu dipahami bahwa OpenClaw juga telah merilis aplikasi AI agent untuk platform mobile. Sebelum menggunakannya, ada baiknya menyimak hasil uji OpenClaw yang menunjukkan bahwa AI lokal masih sulit digunakan pemula.

Insiden peretasan sistem booking gym ini menjadi pengingat bahwa teknologi AI agent masih memiliki banyak celah dan risiko. Meskipun kemampuan agent untuk mengeksploitasi kerentanan menunjukkan kecanggihan teknologi, hal ini juga membuka pertanyaan besar tentang keamanan dan etika penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.

Para pengembang perangkat lunak dan perusahaan AI perlu memperhatikan keamanan API dan sistem mereka, mengingat AI agent kini mampu mengeksploitasi celah yang ada dengan kecepatan dan skala yang tidak bisa dilakukan manusia. Sementara itu, pengguna disarankan untuk lebih berhati-hati dalam memberikan instruksi kepada AI agent, meskipun dalam kasus ini, instruksi yang diberikan Andrew terbilang wajar dan sederhana.

Perkembangan ini menunjukkan bahwa regulasi dan standar keamanan untuk AI agent perlu segera dirumuskan. Tanpa pengawasan yang memadai, insiden serupa atau bahkan yang lebih serius kemungkinan akan terus terjadi seiring meningkatnya adopsi teknologi ini di berbagai sektor.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.