Telset.id – Adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia telah mencapai 40%, dengan 75% pelaku usaha yang mengadopsinya melaporkan peningkatan produktivitas yang terukur. Temuan ini menjadi titik balik bagi perekonomian digital Indonesia, di mana fokus utama kini bergeser dari sekadar eksperimen menuju eksekusi dan perluasan skala manfaat AI secara nyata.
Data tersebut terungkap dalam studi AWS bertajuk “Unlocking Indonesia’s AI Potential 2026” yang diluncurkan di AWS Summit Jakarta. Studi yang dilakukan oleh Strand Partners ini menyurvei 1.000 pemimpin bisnis dan 1.000 anggota masyarakat umum untuk memetakan bagaimana adopsi AI dan cloud berlangsung di seluruh Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa organisasi di Indonesia tidak lagi mempertanyakan apakah AI adalah solusi yang tepat, melainkan seberapa cepat mereka dapat memperluas skalanya, bagaimana mengelolanya secara bertanggung jawab, serta di mana menemukan talenta yang mendukung.
Peningkatan Produktivitas dan Pertumbuhan Pendapatan
Temuan studi ini menandai fase berikutnya dalam adopsi AI di Indonesia. Di antara para pengadopsi AI, 75% melaporkan peningkatan produktivitas, naik dari 68% pada tahun lalu. Sebanyak 72% menyatakan bahwa AI telah mempercepat siklus inovasi mereka, dan 62% melaporkan pertumbuhan pendapatan yang didorong oleh pemanfaatan AI. Adopsi cloud juga semakin kuat, meningkat menjadi 62% dari 54% pada tahun sebelumnya.
Salah satu contoh nyata penerapan AI adalah hibank, bank digital yang melayani 64 juta usaha mikro dan kecil di Indonesia. hibank membangun AI langsung ke dalam inti bisnisnya, mencakup penilaian kelayakan kredit (underwriting), deteksi kecurangan (fraud), hingga layanan pelanggan. Hasilnya adalah keputusan yang lebih cepat, risiko yang lebih rendah, serta jalan menuju profitabilitas yang tidak dapat dicapai model tradisional pada skala tersebut.
Baca Juga:
hibank juga kini menggunakan Kiro, layanan koding AI agentik, untuk memodernisasi sistem buy now pay later (BNPL) miliknya. Dengan Kiro menangani spesifikasi, desain, dan implementasi melalui bahasa alami, tim hibank berhasil mempercepat proses akhir hari (end-of-day processing) sebesar 30% sekaligus mengurangi penggunaan infrastruktur sebesar 25%.
Agentic AI dan Startup AI-Native
Gelombang AI berikutnya mulai menunjukkan berbagai potensi baru saat organisasi melangkah lebih jauh dari skenario penggunaan yang berdiri sendiri. Pelaku usaha yang telah mengadopsi agentic AI melaporkan hasil produktivitas yang lebih kuat, dengan 84% di antaranya mencatat peningkatan produktivitas. Mereka juga menunjukkan manfaat operasional yang lebih canggih: 47% melaporkan pengambilan keputusan dan eksekusi yang lebih cepat, 44% melaporkan peningkatan efisiensi operasional, serta 38% melaporkan skalabilitas operasional yang lebih baik.
Kesadaran akan agentic AI masih terus berkembang, dengan 38% pelaku usaha menyatakan pernah mendengar istilah tersebut. Namun sinyal yang lebih penting adalah besarnya minat: begitu konsep agentic AI dijelaskan, sebanyak 58% pelaku usaha menyatakan berencana untuk mengadopsinya atau tengah aktif mempertimbangkan hal tersebut.
Startup AI-native di Indonesia menunjukkan akselerasi yang jauh lebih pesat dalam pergeseran ini. Mereka melaporkan pertumbuhan pendapatan tahunan rata-rata 142%, jauh melampaui rata-rata startup nasional yang sebesar 60%. Selain itu, mereka memiliki peluang 4,8 kali lebih besar untuk membukukan pendapatan tahunan di atas US$1 juta. Hampir seluruhnya (97%) memperkirakan bahwa AI akan terus memacu pertumbuhan pendapatan mereka pada tahun mendatang.
Rey, sebuah perusahaan healthtech, memberikan gambaran nyata dari implementasi ini. Perusahaan tersebut membangun Olvo AI menggunakan Amazon Bedrock untuk mengotomatisasi proses klaim dan menghadirkan layanan kesehatan terintegrasi dalam skala besar. Keputusan klaim dan penggantian dana yang sebelumnya memakan waktu satu hingga dua minggu, kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari sehari. Saat ini, platform tersebut mampu memproses lebih dari 7.000 klaim per hari untuk melayani lebih dari 500.000 anggota berasuransi.
Adopsi AI juga merata di berbagai sektor. Di jasa keuangan, 58% pelaku usaha telah mengadopsi AI dibandingkan rata-rata nasional 40%, dan 78% di antaranya melaporkan peningkatan produktivitas. Sektor kesehatan mencatat adopsi AI sebesar 42%, dengan 72% melaporkan peningkatan produktivitas dan 80% menyatakan bahwa AI akan mentransformasi industri mereka dalam lima tahun ke depan. Di sektor publik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membangun chatbot omnichannel berbasis AI di atas Amazon Bedrock pada AWS Asia Pacific (Jakarta) Region.
Perkembangan ini sejalan dengan upaya memperkuat ekosistem digital nasional. Berbagai inisiatif serupa terus bermunculan untuk mendorong adopsi AI di berbagai sektor, termasuk persiapan infrastruktur masa depan seperti yang didorong oleh Mastel untuk adopsi 6G di Indonesia.
Tantangan dan Langkah Selanjutnya
Seiring dengan semakin banyaknya organisasi yang beralih dari tahap eksperimen ke tahap produksi, fondasi yang dibutuhkan untuk memperluas skala AI menjadi kian jelas. Saat ini, 24% perusahaan yang mengadopsi AI melaporkan telah memiliki strategi AI formal, 21% telah menerapkan tata kelola data, dan 17% telah memiliki kerangka kerja AI yang bertanggung jawab. Sebanyak 47% pelaku usaha mengidentifikasi pengukuran ROI yang andal sebagai prioritas utama, sementara 19% memiliki kerangka kerja jelas untuk menentukan keberhasilan penerapan AI mereka.
Keterampilan juga menjadi area yang tengah mengalami penguatan. Sebanyak 56% organisasi mengidentifikasi kurangnya keterampilan digital dan AI sebagai hambatan dalam mengadopsi atau memperluas pemanfaatan AI. Para pemimpin bisnis mengidentifikasi kemampuan menginterpretasikan, memvalidasi, serta mengkritisi output yang dihasilkan AI sebagai salah satu keterampilan terpenting yang perlu dipelajari staf mereka dalam lima tahun ke depan.
AWS Asia Pacific (Jakarta) Region memberikan para pelaku usaha, instansi pemerintah, startup, dan organisasi di Indonesia akses langsung ke infrastruktur cloud lokal, didukung rencana investasi sekitar US$5 miliar selama 15 tahun. AWS juga telah melatih lebih dari 1,3 juta orang Indonesia dalam bidang cloud dan keterampilan AI. Pada tahun 2026, AWS mengumumkan kehadiran “IndonesiapandAI” serta program “MAIN”, keduanya merupakan inisiatif pelatihan cloud dan AI gratis yang dirancang untuk membuka akses luas terhadap keterampilan tersebut dalam bahasa Indonesia.
Riset ini mengidentifikasi empat prioritas utama untuk fase berikutnya di Indonesia: mempercepat kesiapan menyambut agentic AI dan generative AI khususnya bagi sektor UKM, membangun keyakinan melalui pengukuran ROI yang lebih kuat, berinvestasi pada kapabilitas SDM yang berjalan selaras dengan praktik AI yang bertanggung jawab, serta melibatkan para pemimpin sektor industri untuk membagikan pembelajaran praktis.
“Kisah AI di Indonesia telah bergeser dari eksperimen menuju eksekusi. Hasilnya berbicara dengan sendirinya,” ujar Anthony Amni, Country Manager, Indonesia. “Yang terpenting sekarang adalah mengubah kemenangan-kemenangan awal menjadi transformasi di seluruh perusahaan. Infrastruktur, layanan, dan program pengembangan talenta sudah tersedia. Perusahaan-perusahaan yang bergerak cepat dan tegas akan menentukan arah dekade berikutnya bagi ekonomi digital Indonesia.”
Bagi pelaku usaha yang ingin mengoptimalkan penggunaan AI, efisiensi energi juga menjadi pertimbangan penting. Beberapa cara hemat energi saat pakai AI dapat membantu organisasi menjalankan beban kerja AI secara lebih berkelanjutan. Sementara itu, inovasi AI terus berkembang di berbagai bidang, termasuk model AI untuk prediksi cuaca yang menunjukkan luasnya potensi penerapan teknologi ini.





Komentar
Belum ada komentar.