Instagram Stories telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital kita. Namun, ada satu kebiasaan unik yang kerap dilakukan banyak pengguna: menonton ulang Stories milik sendiri berulang kali sebelum konten tersebut menghilang setelah 24 jam. Jika Anda termasuk yang melakukannya, jangan khawatir—Anda tidak sendirian. Fenomena ini bahkan memiliki dasar psikologis yang menarik.
1. Mencari Perspektif Orang Lain tentang Diri Sendiri
Menurut psikoterapis Eloise Skinner, salah satu alasan utama kebiasaan ini adalah keinginan alami manusia untuk memahami bagaimana orang lain memandang mereka. “Kita tidak bisa langsung mengetahui persepsi orang lain tentang diri kita, jadi kita mencoba membayangkannya melalui konten yang kita unggah,” jelas Skinner. Dengan menonton ulang Stories, kita seolah-olah sedang melihat diri sendiri dari sudut pandang orang lain—seperti bercermin, tetapi melalui lensa media sosial.
2. Membangun dan Memperkuat Citra Diri
Psikolog sosial menyebut fenomena ini sebagai “self-stalking,” yaitu kecenderungan untuk terus-menerus memantau aktivitas digital diri sendiri. Sebelum era media sosial, manusia melakukan hal serupa dengan memilih pakaian atau memperhatikan cara berbicara di depan umum. Kini, Instagram Stories menjadi alat baru untuk menciptakan citra diri yang diinginkan. “Ini adalah upaya bawah sadar untuk meningkatkan penerimaan sosial dan menampilkan versi terbaik dari diri kita,” ungkap Skinner.
3. Media Sosial sebagai Perpanjangan Identitas
Tidak semua orang menggunakan media sosial dengan cara yang sama. Bagi sebagian orang, platform seperti Instagram bukan sekadar alat bersosialisasi, melainkan ekstensi dari identitas mereka. Menonton ulang Stories bisa menjadi cara untuk memvalidasi eksistensi diri dalam ruang digital. “Ketika kita mengunggah sesuatu, itu adalah representasi dari siapa kita. Melihatnya kembali adalah bentuk penegasan terhadap identitas tersebut,” tambah Skinner.
Namun, penting untuk diingat bahwa kebiasaan ini bisa menjadi bumerang jika berlebihan. Terlalu sering “menguntit” diri sendiri di media sosial dapat memicu kecemasan atau ketidakpuasan terhadap citra yang ditampilkan. Seimbangkan penggunaan media sosial dengan interaksi nyata dan refleksi diri yang sehat.