Telset.id – Riset terbaru dari perusahaan keamanan siber Surfshark mengungkapkan bahwa hampir setengah dari aplikasi mobile populer mengumpulkan data riwayat browsing pengguna. Dari 40 aplikasi Android dan iOS yang dianalisis, ditemukan 18 aplikasi atau 45 persen di antaranya melaporkan pengumpulan riwayat browsing dalam label privasi di app store masing-masing.
Temuan ini menjadi perhatian serius bagi pengguna smartphone yang selama ini mengira hanya web browser yang memantau aktivitas online mereka. Faktanya, aplikasi media sosial dan belanja yang digunakan sehari-hari juga berpotensi mencatat situs web yang dikunjungi pengguna, bahkan saat tautan dibuka melalui browser internal aplikasi tersebut.
Aplikasi Media Sosial Jadi Kolektor Data Terbesar
Surfshark membagi 40 aplikasi yang diteliti ke dalam empat kategori: generative AI, media sosial, e-commerce, dan messaging. Hasilnya, media sosial menjadi pengumpul data riwayat browsing terbesar. Sembilan dari sepuluh aplikasi sosial yang diteliti mengumpulkan riwayat browsing di setidaknya satu platform.
Facebook, Instagram, TikTok, X, YouTube, dan Pinterest tercatat mengumpulkan data tersebut baik di Android maupun iOS. Sementara Reddit, LinkedIn, dan Snapchat hanya melakukannya di Android. Discord menjadi satu-satunya aplikasi sosial yang tidak mengumpulkan data ini di kedua platform.
Di kategori e-commerce, setengah dari aplikasi belanja yang dianalisis mengumpulkan data serupa di setidaknya satu platform. Kategori messaging tercatat lebih rendah, dengan hanya Rakuten Viber, Messenger, dan LINE yang mengumpulkannya. Sementara di kategori generative AI, Google Gemini menjadi satu-satunya aplikasi dari sepuluh yang diteliti yang melaporkan pengumpulan riwayat browsing.

Menurut Surfshark, logika di balik praktik ini cukup sederhana: semakin banyak aplikasi mengetahui situs yang dikunjungi pengguna, semakin presisi iklan yang ditargetkan dan konten yang ditampilkan di feed. Sayangnya, sebagian besar aplikasi ini tidak membutuhkan data riwayat browsing untuk menyediakan layanan inti mereka.
Surfshark juga menemukan bahwa banyak aplikasi kini mengarahkan tautan eksternal melalui “embedded browsers” atau browser internal mereka sendiri. Begitu pengguna mengetuk tautan, aplikasi dapat melacak apa yang dicari dan dilihat pengguna tanpa harus meninggalkan aplikasi tersebut.
Cara Melindungi Privasi dari Aplikasi
Karolis Kaciulis, lead system engineer Surfshark, menjelaskan bahwa persetujuan untuk praktik ini biasanya terkubur dalam syarat dan ketentuan yang jarang dibaca pengguna. Aplikasi yang paling gigih menahan pengguna di browser internal mereka cenderung merupakan aplikasi yang menjual iklan, bukan yang membutuhkan riwayat browsing untuk berfungsi.
Meski tidak ada satu tombol pun yang bisa mematikan seluruh praktik ini, ada beberapa kebiasaan yang dapat membantu pengguna melindungi privasi mereka. Cara termudah adalah menghindari browser internal aplikasi dengan memilih opsi “Open in default browser” atau menyalin URL ke browser default saat membuka tautan.
Langkah ini mencegah aplikasi induk mengawasi situs yang dikunjungi pengguna setelah meninggalkan aplikasi tersebut. Pengguna juga disarankan untuk beralih ke browser yang berfokus pada privasi untuk menghindari praktik pengumpulan data terburuk tanpa banyak usaha.

Riset Surfshark ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan digital pengguna perlu diperhatikan, terutama bagi mereka yang sering membuka tautan dari aplikasi media sosial. Pengguna juga perlu memahami bahwa aplikasi yang mereka gunakan setiap hari mungkin memiliki akses lebih luas terhadap aktivitas online daripada yang mereka sadari.
Dengan meningkatnya kesadaran akan privasi digital, penting bagi pengguna untuk secara berkala memeriksa pengaturan privasi aplikasi dan memahami kebijakan data masing-masing aplikasi. Langkah kecil seperti memilih browser default saat membuka tautan dapat memberikan dampak signifikan terhadap jumlah data yang dikumpulkan aplikasi.
Pengguna yang ingin meminimalkan pelacakan juga dapat mempertimbangkan untuk menggunakan layanan VPN sebagai lapisan perlindungan tambahan, meskipun perlu dipahami bahwa VPN sekalipun tidak sepenuhnya menghentikan aplikasi mencatat aktivitas di dalam aplikasi itu sendiri.
Kesimpulannya, temuan Surfshark menegaskan bahwa pengguna perlu lebih waspada terhadap aplikasi yang terpasang di perangkat mereka. Memahami apa yang dikumpulkan aplikasi dan bagaimana cara kerjanya adalah langkah pertama untuk melindungi privasi di tengah ekosistem digital yang semakin kompleks.





Komentar
Belum ada komentar.