17,5 Juta Data Pengguna Instagram Diduga Bocor, Meta Buka Suara

REKOMENDASI
ARTIKEL TERKAIT

Telset.id – Kabar kurang sedap kembali menerpa raksasa teknologi, Meta. Sebuah laporan keamanan siber terbaru mengungkapkan bahwa sebanyak 17,5 juta data pengguna Instagram diduga telah bocor dan beredar di internet. Insiden ini kembali memicu perdebatan sengit mengenai seberapa aman privasi pengguna di platform media sosial terbesar di dunia tersebut, mengingat rekam jejak Meta yang kerap tersandung masalah serupa.

Kasus ini mencuat setelah seorang peneliti keamanan menemukan sebuah database raksasa yang tidak terproteksi dengan baik. Database tersebut disinyalir berisi informasi sensitif yang melibatkan jutaan akun, mulai dari nomor telepon, alamat email, hingga ID profil pengguna. Situasi ini tentu menjadi alarm bahaya bagi para pengguna aktif yang menggantungkan interaksi digital mereka di platform berbagi foto dan video ini.

Beredarnya informasi ini tentu membuat publik bertanya-tanya mengenai validitas sistem keamanan yang dibangun oleh Mark Zuckerberg dan timnya. Di tengah upaya mereka membangun metaverse, celah keamanan pada aplikasi inti mereka justru tampak masih menganga lebar.

Dugaan Kebocoran vs “Scraping” Data

Dalam dunia keamanan siber, terminologi sangatlah penting. Terkait insiden ini, terdapat perdebatan teknis mengenai bagaimana data tersebut bisa terlepas ke publik. Laporan awal mengindikasikan bahwa data ini kemungkinan besar didapatkan melalui metode scraping, bukan peretasan sistem internal (breach) secara langsung.

Metode scraping melibatkan penggunaan bot otomatis untuk menyalin informasi yang tersedia secara publik di profil pengguna dalam skala massal. Meskipun Meta sering berdalih bahwa ini adalah “data publik”, namun ketika jutaan data tersebut dikompilasi menjadi satu database terstruktur yang menautkan nomor telepon asli dengan akun pengguna, potensinya menjadi senjata berbahaya bagi para penjahat siber.

Data 17,5 juta pengguna Instagram diduga bocor, Instagram beri penjelasan.

Terkait temuan ini, pihak Instagram tidak tinggal diam. Mereka memberikan penjelasan bahwa pihaknya sedang menyelidiki klaim tersebut. Namun, seperti pola komunikasi korporasi pada umumnya, mereka cenderung menepis anggapan bahwa sistem mereka telah dijebol. Penjelasan ini penting untuk menjaga kepercayaan investor dan pengguna, meski bagi pakar keamanan, hal tersebut tidak mengurangi risiko yang dihadapi pemilik akun.

Kasus ini mengingatkan kita pada insiden serupa yang pernah terjadi sebelumnya. Anda mungkin ingat peringatan mengenai Data Akun Bocor yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Polanya hampir selalu sama: data pengguna terekspos, perusahaan menyangkal adanya peretasan sistem, namun data tersebut tetap berakhir di forum jual beli data ilegal.

Risiko Nyata bagi Pengguna: Phishing hingga SIM Swap

Mengapa kebocoran 17,5 juta data ini begitu berbahaya? Jawabannya bukan sekadar pada hilangnya privasi, melainkan potensi tindak kejahatan finansial dan pencurian identitas. Ketika nomor telepon dan email pengguna jatuh ke tangan yang salah, pelaku kejahatan dapat melancarkan serangan phishing yang sangat tertarget.

Salah satu skenario terburuk adalah serangan SIM Swap. Dengan bermodalkan data nomor telepon yang valid dan informasi profil yang cocok, pelaku bisa mengelabui operator seluler untuk mengambil alih nomor korban. Jika berhasil, kode OTP (One-Time Password) untuk layanan perbankan atau dompet digital bisa dengan mudah mereka akses.

Selain itu, modus penipuan dengan mengirimkan email palsu yang seolah-olah berasal dari Instagram juga marak terjadi. Email tersebut biasanya berisi tautan untuk “mereset password” karena adanya aktivitas mencurigakan, padahal tautan tersebut justru menjebak pengguna untuk menyerahkan kredensial login mereka secara sukarela.

Penting bagi pengguna untuk memahami bahwa keamanan data bukan hanya tanggung jawab platform, tetapi juga pengguna itu sendiri. Di Eropa, regulasi ketat seperti GDPR telah memaksa raksasa teknologi untuk lebih transparan. Bahkan, Batasi Data Pengguna menjadi opsi yang akhirnya diberikan Meta di wilayah tersebut karena tekanan hukum. Sayangnya, fitur dan perlindungan serupa belum tentu tersedia secara merata di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Tanggapan Meta dan Langkah Mitigasi

Hingga berita ini diturunkan, Meta menegaskan bahwa mereka terus meningkatkan kemampuan AI dan sistem keamanan mereka untuk mendeteksi bot scraping. Mereka mengklaim telah memblokir jutaan upaya pengumpulan data setiap harinya. Namun, lolosnya 17,5 juta data ini membuktikan bahwa pertahanan mereka belum sepenuhnya tak tertembus.

Ilustrasi Instagram Stories.

Bagi pengguna di Indonesia, isu kedaulatan data juga menjadi sorotan. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) kerap kali harus turun tangan meminta klarifikasi ketika ada isu kebocoran data global yang melibatkan warga negara Indonesia. Hal ini sejalan dengan sikap tegas pemerintah sebelumnya, di mana Menteri Komunikasi pernah membantah isu penyerahan data warga RI ke pihak asing, menegaskan bahwa perlindungan data adalah prioritas nasional.

Lantas, apa yang harus Anda lakukan sekarang? Jangan panik, namun tetap waspada. Langkah pertama yang paling krusial adalah mengaktifkan otentikasi dua faktor (2FA). Gunakan aplikasi otentikator pihak ketiga (seperti Google Authenticator) alih-alih SMS, karena SMS rentan terhadap penyadapan atau kloning SIM.

Selain itu, tinjau kembali pengaturan privasi Anda. Fitur-fitur baru seringkali membawa risiko tersendiri jika tidak dikonfigurasi dengan benar. Sebagai contoh, fitur lokasi atau peta bisa menjadi celah jika Anda tidak hati-hati, seperti yang pernah diulas dalam artikel mengenai Fitur Baru Instagram Map. Pastikan Anda hanya membagikan informasi kepada orang yang Anda kenal.

Ilustrasi Instagram Stories.

Jika Anda merasa ponsel atau akun Anda menunjukkan aktivitas aneh, segera lakukan tindakan pengamanan. Anda bisa mengikuti panduan Lindungi Data untuk meminimalisir kerugian. Mengganti password secara berkala dengan kombinasi yang rumit juga merupakan langkah preventif yang sangat disarankan.

Kasus dugaan kebocoran 17,5 juta data pengguna Instagram ini menjadi pengingat keras bahwa di era digital, data adalah komoditas paling berharga. Meta mungkin akan terus berinovasi dengan fitur-fitur canggih, namun tanpa jaminan keamanan dasar yang kuat, kepercayaan pengguna akan terus tergerus. Kita tunggu saja apakah akan ada sanksi tegas atau perbaikan signifikan dari Meta pasca insiden ini.

TINGGALKAN KOMENTAR
Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ARTIKEL TERKINI
HARGA DAN SPESIFIKASI