📑 Daftar Isi

Ilustrasi kampus AI data center dengan rak server dan lampu hijau menyala

Warga Hazle Tolak Tawaran Rp162 Juta per Rumah dari Pengembang Data Center AI

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • NorthPoint Development menawarkan USD10.000 per rumah tangga di Hazle, Pennsylvania
  • Total skema mencapai USD45 juta, plus USD120 juta untuk proyek komunitas dan polisi
  • Warga menyebut pembayaran sebagai "bribe" dan menolaknya
  • Kekhawatiran meliputi polusi, air, energi, kebisingan, dan nilai properti
  • Median pendapatan Hazle USD60.000, di bawah median nasional USD87.000

Telset.id – NorthPoint Development menawarkan USD10.000 atau sekitar Rp162 juta kepada setiap rumah tangga di Hazle, Pennsylvania, demi melancarkan pembangunan kampus AI data center seluas 1.300 acre. Namun skema bernilai total USD45 juta itu justru ditolak banyak warga, yang menyebutnya sebagai “bribe” atau suap. Penolakan ini menunjukkan bahwa uang tidak selalu cukup untuk melunakkan resistensi publik terhadap infrastruktur AI.

Surat penawaran dikirim kepada warga pada Juni. Setiap rumah tangga dijanjikan “grant” senilai USD10.000. Jumlah itu signifikan bagi mayoritas penduduk Hazle, karena median pendapatan rumah tangga di kota tersebut berada di angka USD60.000, jauh di bawah median nasional Amerika Serikat yang sekitar USD87.000.

NorthPoint Development meyakini skema tersebut akan meyakinkan warga setempat untuk mendukung pembangunan kampus data center. Selain grant tunai, pengembang juga merencanakan dana tambahan USD120 juta selama 15 tahun ke depan untuk proyek komunitas dan kepolisian, dengan syarat data center disetujui. Skema ini menyerupai pola pendekatan yang juga muncul dalam dinamika Masa Depan Android yang bergantung pada kesiapan infrastruktur.

“Sebagai jawaban langsung atas pertanyaan ‘Apa untungnya bagi saya?’ saya pikir kami menemukan sesuatu yang cukup radikal dan cukup terdepan,” kata Brent Miles, chief marketing officer NorthPoint, seperti dikutip TechRadar. Pernyataan itu disampaikan meski respons warga di lapangan berjalan jauh dari harapan perusahaan.

A toy robot with the word "Thanks" written on paper standing in front of basket of money.

Tolak Uang, Warga Soroti Dampak Lingkungan

Banyak warga Hazle menilai pembayaran tersebut sebagai upaya menyuap, bukan kompensasi wajar. Mereka juga menyoroti sejumlah kekhawatiran yang menyertai rencana pembangunan kampus data center di kaki Pegunungan Pocono, kawasan yang dikenal dengan danau, sungai, hutan, dan resor rekreasi.

Kekhawatiran itu mencakup polusi, penggunaan air, biaya energi, serta kebisingan berlebihan yang ditimbulkan oleh situs. Warga juga menilai nilai properti berpotensi turun jika situs disetujui, sehingga memperburuk kondisi ekonomi penduduk lokal. Isu semacam ini sejalan dengan sorotan yang muncul dalam kasus Patch Sudah Rilis yang menekankan pentingnya mitigasi risiko teknologi.

Ed Parks, warga yang tinggal berdampingan dengan lokasi yang direncanakan, menilai skema itu memecah komunitas. “Mereka mencoba mendorong pemisahan antara warga Hazle Township yang terdampak langsung oleh data center, seperti saya, dan orang-orang yang mungkin tinggal beberapa mil jauhnya,” ujarnya kepada TechSpot.

Data center

Kekhawatiran warga Hazle mencerminkan tren yang lebih luas di tingkat nasional. Pemerintahan Trump telah membebaskan AI data center dari persyaratan perlindungan lingkungan, dan sejumlah situs telah tercatat mencemari sungai serta instalasi pengolahan air dengan bahan kimia dan bakteri. Warga yang tinggal dekat data center eksisting melaporkan gejala mual dan pusing akibat kebisingan turbin gas berpolusi yang banyak digunakan situs sebagai alternatif koneksi ke jaringan listrik lokal.

Survei terbaru menemukan mayoritas warga Amerika Serikat kini menilai AI data center berdampak buruk bagi lingkungan. Temuan itu menimbulkan masalah serius bagi pemerintahan Trump menjelang pemilihan paruh waktu. Data center pun menjadi isu kunci bagi mereka yang mengejar kursi elektoral atau kembali mencalonkan diri, meski miliaran dolar telah dialirkan ke kampanye kandidat pro-AI.

Persoalan serupa juga menyentuh dunia keamanan digital. Laporan seputar Google Didenda memperlihatkan bagaimana regulasi dan tekanan publik dapat memaksa perusahaan teknologi menanggung konsekuensi finansial yang besar.

A data center with racks of servers and lots of lights glowing

Uang Bukan Segalanya

NorthPoint Development memperkirakan skema pembayaran USD10.000 per rumah tangga akan menelan biaya USD45 juta. Dana tambahan USD120 juta selama 15 tahun untuk proyek komunitas dan kepolisian menjadi insentif kedua yang ditawarkan jika kampus data center mendapat persetujuan.

Meski demikian, penolakan warga menunjukkan bahwa insentif finansial tidak otomatis menyelesaikan persoalan kepercayaan. Sejumlah warga menilai pembayaran itu justru memperuncing perpecahan antara mereka yang tinggal dekat lokasi dan yang berjarak beberapa mil dari rencana pembangunan.

Isu ini diprediksi terus berlanjut. Lebih banyak situs data center berpotensi mengalami penundaan atau pembatalan oleh warga lokal, terlepas dari upaya pemerintah mengubah cara penyebutan AI. Bagi industri, kasus Hazle menjadi penanda bahwa penerimaan komunitas tetap menjadi variabel penentu kelayakan proyek infrastruktur AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.