Telset.id – Warga Gilroy, California, mengungkapkan kekecewaan atas pembangunan data center Amazon yang mereka klaim tidak pernah dikonsultasikan sebelumnya. Protes ini memuncak ketika seorang warga yang mencoba menyampaikan keluhan justru mendapat jawaban bahwa masa komentar telah ditutup pada 2024, jauh sebelum sebagian besar warga mengetahui rencana pembangunan tersebut.
Proyek data center seluas 438.500 kaki persegi ini menempati area lahan pertanian seluas 56 hektar yang berlokasi sekitar 30 mil di selatan San Jose. Pembangunan yang berada di antara Walmart dan pusat perbelanjaan lokal ini tampaknya berhasil lolos melalui pemanfaatan celah aturan perencanaan kota yang berusia 45 tahun, sehingga tidak memerlukan pengawasan ketat dari warga.
Wali Kota Gilroy, Greg Bozzo, merespons kekhawatiran warga dengan menganalogikan data center yang membutuhkan banyak air dan listrik tersebut dengan pusat distribusi makanan yang baru saja disetujui. Sementara itu, Amazon Web Services (AWS) melalui Wakil Presiden Pembangunan Ekonomi, Roger Wehner, menyatakan proyek ini “mengikuti proses persetujuan standar” dan mengklaim telah bertemu langsung dengan warga serta mengadakan open house untuk mendengar masukan.
Kronologi Protes Warga dan Tanggapan Pihak Terkait
Rencana pembangunan data center Amazon di Gilroy sebenarnya pertama kali diajukan pada tahun 2020. Namun, informasi ini tidak tersebar luas di kalangan warga. Coleen Crew, seorang guru sekolah dasar, mengungkapkan dalam rapat dewan kota bahwa “banyak jika tidak sebagian besar warga pertama kali mengetahui proyek ini setelah konstruksi dimulai.”
Ketidakpuasan warga kemudian terorganisir menjadi gerakan oposisi terhadap proyek tersebut. Salah satu pengorganisir, Landon Sepulveda, mahasiswa berusia 21 tahun, menyampaikan kepada Wall Street Journal bahwa ada masalah kepercayaan antara penduduk dan administrator kota. “Proses ini tidak cukup bagi warga Gilroy untuk melakukan apa pun. Kami memilih mereka untuk memberi tahu kami, dan kami seharusnya tidak harus mengawasi mereka dari belakang,” ujarnya.
Pemanfaatan aturan zonasi kota lama yang awalnya dimaksudkan untuk pengembangan industri di sepanjang jalan bebas hambatan menjadi kunci kelancaran proyek ini. Aturan tersebut memungkinkan data center untuk melanjutkan pembangunan penuh tanpa pengawasan perencanaan dari warga. Kolaborasi yang tampak jelas antara Amazon dan dewan kota serta wali kota Gilroy ini menjadi sorotan utama dalam proyek data center Amazon tersebut.
Baca Juga:
Amazon dan dewan kota Gilroy berupaya menonjolkan keuntungan dari kesepakatan ini, termasuk lapangan kerja, pendapatan pajak, dan solusi atas kekhawatiran penggunaan air. Sebagai bentuk kompensasi, Amazon telah menyumbangkan USD 1 juta untuk mobil pemadam kebakaran baru kota, serta memberikan donasi kepada organisasi nirlaba dan festival tahunan Gilroy Garlic Festival.
Wali Kota Bozzo merespons kegelisahan publik dengan menyoroti “kesempatan untuk mengubah cara kita berbisnis di Gilroy. Kita beradaptasi dengan zaman.” Sementara itu, AWS mengklaim telah melakukan pertemuan langsung dengan warga dan mengadakan open house untuk menerima umpan balik serta menjawab pertanyaan.
Yang menjadi perhatian utama adalah bagaimana Amazon tampaknya telah membuat ketentuan untuk mengalihkan air limbah ke data center tersebut. Langkah ini dinilai sebagai upaya antisipasi atas kritik yang mungkin muncul terkait konsumsi air yang besar untuk operasional data center.
Kasus di Gilroy ini menjadi contoh nyata bagaimana pembangunan infrastruktur digital besar dapat berjalan tanpa transparansi yang memadai kepada masyarakat. Meskipun tantangan dan keuntungan data center di era modern sering dianggap setara dengan oposisi terhadap pembangkit nuklir 50 tahun lalu, kelanjutan pembangunan yang tampaknya tak terhindarkan ini meninggalkan kekecewaan mendalam karena warga tidak pernah mendapat informasi yang layak.
Ketidakpuasan warga Gilroy terhadap proses pembangunan ini juga menyoroti pentingnya komunikasi yang lebih baik antara perusahaan teknologi, pemerintah kota, dan masyarakat. Walaupun Amazon telah memberikan sejumlah kompensasi yang cukup besar, fakta bahwa warga baru mengetahui proyek ini setelah konstruksi dimulai menjadi masalah terbesar yang perlu dievaluasi.
Peristiwa ini juga menjadi pelajaran penting bagi kota-kota lain yang mungkin akan menghadapi pembangunan data center serupa. Transparansi dan keterlibatan publik sejak awal merupakan elemen krusial yang tidak boleh diabaikan, terutama ketika menyangkut pembangunan infrastruktur berskala besar yang berdampak langsung pada kehidupan warga sekitar.
Hingga saat ini, pembangunan data center tersebut terus berlanjut, dan warga Gilroy harus menerima kenyataan bahwa proyek ini akan tetap berjalan. Namun, kasus ini telah membuka diskusi yang lebih luas tentang bagaimana proses persetujuan pembangunan infrastruktur teknologi seharusnya melibatkan partisipasi publik secara lebih bermakna.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.