📑 Daftar Isi

Ilustrasi torpedo Silent Anvil yang meluncur di udara sebelum masuk ke laut

US Navy Kembangkan Torpedo Silent Anvil yang Meluncur di Udara

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • AL AS kembangkan torpedo Silent Anvil yang bisa meluncur di udara sebelum masuk air
  • Dua jalur pengembangan: torpedo baru atau glide kit pada torpedo yang ada
  • Batasan dimensi: 268 pound, panjang 70 inci, diameter 7,5 inci
  • Kecepatan operasi pada Mach 0,25, 0,50, dan 0,85
  • Ketinggian peluncuran dari 10 kaki hingga 60.000 kaki
  • Sudut masuk air antara 45-90 derajat dengan kecepatan 40-120 kaki per detik
  • Prototipe ditargetkan selesai dalam 18 bulan setelah kontrak
  • Produksi 180 unit tambahan dalam tiga tahun setelah uji berhasil
  • Dikembangkan sebagai respons atas ekspansi armada kapal selam China

Telset.id – Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) tengah mempertimbangkan dua jalur pengembangan menuju kelas baru Air-Launched Torpedo (SAA-LT) yang diberi nama Silent Anvil. Sistem senjata ini dirancang khusus untuk memasuki air secara senyap dan melacak ancaman di bawah permukaan laut.

Salah satu jalur yang dipertimbangkan adalah membangun torpedo yang sepenuhnya baru, dirancang dari awal untuk meluncur di udara menuju target sebelum tenggelam ke dalam air. Pendekatan alternatifnya adalah memasang perlengkapan luncur (glide kit) pada torpedo yang sudah digunakan, sehingga jangkauannya bertambah tanpa perlu desain ulang total.

Pejabat militer telah menetapkan batasan ketat pada dimensi fisik senjata ini. Silent Anvil dibatasi maksimal 268 pound atau sekitar 121 kilogram, dengan panjang maksimal 70 inci dan diameter hingga 7,5 inci. Angka-angka ini menempatkan Silent Anvil dalam kelas berat yang mirip dengan torpedo yang sudah ada, meskipun pihak militer belum mengungkapkan seberapa jauh senjata ini harus meluncur sebelum menghantam target.

Aviation ordnancemen load a Mark 54 torpedo on a P-8A Poseidon aircraft during a proficiency exercise on Kadena Air Base, Okinawa, Japan.

Sebagai perbandingan, torpedo Mark 54 yang saat ini berada dalam inventaris AL AS memiliki jangkauan sekitar 5,7 mil. Angka ini memberikan tolok ukur kasar bagi industri, meskipun angka pasti untuk sistem baru tersebut belum didefinisikan.

“Pemerintah sedang mencari masukan industri tentang jangkauan luncur jarak maksimum yang dapat dicapai,” demikian pernyataan AL AS dalam dokumen pengadaan mereka.

Spesifikasi Peluncuran dan Ketinggian

Pejabat juga telah menguraikan kondisi peluncuran spesifik, yang mengharuskan senjata ini beroperasi pada tiga pita kecepatan berbeda, diukur pada Mach 0,25, 0,50, dan 0,85. Persyaratan ketinggian membentang dari serendah 10 kaki hingga setinggi 60.000 kaki, sebuah batas atas yang melampaui batas operasional pesawat P-8 Poseidon.

Batas ketinggian atas tersebut justru lebih selaras dengan kemampuan MQ-4C Triton, pesawat pengintai ketinggian tinggi yang sudah menjalankan misi untuk armada. Ini menunjukkan Silent Anvil dirancang untuk diintegrasikan dengan platform udara yang lebih bervariasi.

Para insinyur juga harus memperhitungkan bagaimana senjata ini berperilaku saat mendekati permukaan laut, karena perjalanan udara yang berkepanjangan menawarkan keunggulan siluman. “SAA-LT harus memaksimalkan daya tahan penerbangan udara sambil meminimalkan waktu perendaman akuatik, membatasi residensi air secara ketat pada durasi minimum yang diperlukan untuk keberhasilan pelaksanaan misi,” kata pihak AL AS.

Pada konfigurasi perlengkapan luncur, torpedo harus menghantam air dengan sudut antara 45 dan 90 derajat, bergerak dengan kecepatan berkisar 40 hingga 120 kaki per detik.

Target Waktu Pengembangan

Pengembangan diperkirakan akan berjalan cepat setelah kontrak diselesaikan, dengan prototipe kerja yang dibutuhkan dalam waktu 18 bulan setelah pemberian kontrak. Jika uji coba awal tersebut berhasil, program ini kemudian akan berkembang menuju 180 unit tambahan yang dibangun dalam waktu tiga tahun.

Upaya ini berlangsung di tengah meningkatnya kekuatan kapal selam China dalam beberapa tahun terakhir. China menambahkan kapal-kapal dengan kemampuan teknis yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Di antara tambahan tersebut adalah kendaraan bawah air tak berawak yang dirancang untuk beroperasi secara efektif pada jarak yang sangat jauh tanpa memerlukan awak manusia di dalamnya.

Sebagai respons, AL AS juga mengembangkan senjata terpisah yang dikenal secara internal sebagai Long-Range Antisubmarine Warfare system, yang masih dalam tahap awal pengujian. Sistem tersebut akan memungkinkan torpedo diluncurkan dari tabung yang dibangun di geladak kapal dan menyerang kapal selam musuh dari jarak yang jauh lebih besar.

Fase luncur Silent Anvil berpotensi memperluas perburuan kapal selam jauh melampaui jangkauan torpedo konvensional. Kemampuan untuk meluncur di udara sebelum masuk ke air memberikan keunggulan taktis yang signifikan, terutama dalam hal menjaga elemen kejutan dan mengurangi risiko deteksi dini oleh musuh.

Batasan sudut masuk air antara 45 hingga 90 derajat menunjukkan bahwa torpedo ini dirancang untuk masuk secara vertikal atau hampir vertikal, yang merupakan sudut optimal untuk mengurangi percikan air dan kebisingan yang dihasilkan saat memasuki laut. Ini sejalan dengan tujuan utama program: masuk ke air secara senyap.

Persyaratan ketinggian hingga 60.000 kaki membuka kemungkinan integrasi dengan berbagai platform udara, termasuk pesawat pengintai ketinggian tinggi seperti MQ-4C Triton. Ini memberikan fleksibilitas operasional yang lebih besar dibandingkan sistem torpedo udara yang ada saat ini.

Dengan batas berat yang mirip dengan torpedo yang sudah ada, Silent Anvil dirancang agar kompatibel dengan sistem peluncuran yang sudah tersedia di armada. Ini mengurangi kebutuhan modifikasi besar pada pesawat patroli maritim yang sudah beroperasi.

Ketidakjelasan mengenai jarak tempuh yang dibutuhkan menunjukkan bahwa spesifikasi akhir masih menunggu masukan dari industri. AL AS sengaja membuka ruang bagi kontraktor untuk mengusulkan solusi terbaik sebelum menetapkan angka final.

Program Silent Anvil mencerminkan pergeseran strategi dalam peperangan anti-kapal selam, di mana keunggulan udara dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan deteksi dan serangan terhadap ancaman bawah laut. Kombinasi antara fase terbang dan fase akuatik dalam satu sistem adalah pendekatan yang relatif baru.

Perkembangan ini juga menunjukkan bagaimana AL AS merespons dinamika kekuatan maritim global, khususnya ekspansi armada kapal selam China yang semakin canggih. Investasi pada teknologi torpedo udara ini adalah bagian dari upaya lebih luas untuk mempertahankan dominasi bawah laut.

Dengan tenggat 18 bulan untuk prototipe, industri pertahanan akan menghadapi jadwal yang ketat. Namun, pendekatan bertahap yang dimulai dari prototipe sebelum produksi massal memberikan ruang untuk penyempurnaan desain berdasarkan hasil uji coba awal.

Keputusan antara membangun torpedo baru sepenuhnya atau memasang glide kit pada torpedo yang ada akan menentukan biaya, waktu pengembangan, dan kemampuan akhir sistem. Kedua opsi memiliki trade-off yang harus dievaluasi secara cermat oleh AL AS dan mitra industrinya.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.