Telset.id â Presiden AS Donald Trump secara terbuka mendesak masyarakat Amerika Serikat untuk mendukung pembangunan data center AI di tengah gelombang penolakan yang semakin meluas. Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump memperingatkan bahwa komunitas yang menolak data center berisiko tertinggal secara ekonomi dan teknologi.
âSatu-satunya alasan komunitas di seluruh AS tidak menginginkan Data Center adalah karena mereka ingin menjadi terbelakang dan miskin,â tulis Trump. Ia menambahkan bahwa daerah yang menerima data center akan menikmati pajak lebih rendah dan lapangan kerja yang melimpah.
Pernyataan Trump ini muncul di tengah meningkatnya sentimen anti-data center di berbagai wilayah AS. Jajak pendapat Gallup pada Mei 2026 menunjukkan bahwa 7 dari 10 warga Amerika menentang pembangunan data center AI di daerah mereka, mencerminkan sentimen ânot in my townâ yang kian kuat.
Konsumsi Energi dan Sumber Daya yang Mengkhawatirkan
Kekhawatiran publik terhadap data center AI bukan tanpa alasan. Menurut World Resources Institute (WRI), satu data center AI dapat mengonsumsi energi setara dengan 100.000 rumah. Selain itu, data center skala besar juga membutuhkan hingga 5 juta galon air per hari untuk sistem pendinginan.
Masalah lain yang kerap dikeluhkan warga adalah kebisingan. Data center menghasilkan dengung konstan yang dapat terdengar hingga ke komunitas sekitar. Ketiga isu iniâenergi, air, dan kebisinganâmenjadi pemicu utama resistensi publik terhadap pembangunan fasilitas tersebut.

Cleanview melaporkan terdapat sekitar 3.400 data center di AS dengan tambahan 2.059 unit lagi yang direncanakan. Sebagian besar pembangunan baru terkonsentrasi di pesisir timur AS dan Texas, di mana gubernur setempat baru saja memberlakukan moratorium pembangunan data center.
Yang lebih memprihatinkan, sejumlah data center AI direncanakan dibangun di Colorado, Nevada, Utah, Arizona, dan New Mexico. Wilayah-wilayah ini tengah dilanda kekeringan berkepanjangan dan penyusutan Sungai Colorado, yang berpotensi memicu kebijakan konservasi air yang lebih ketat.
Janji Ekonomi vs Kenyataan di Lapangan
Trump memang benar bahwa data center dapat mendatangkan investasi dan lapangan kerja baru bagi komunitas setempat. Namun, efek ekonomi tersebut seringkali hanya bersifat jangka pendek. Tenaga kerja hanya dibutuhkan selama fase konstruksi dan instalasi, sementara operasional sehari-hari sebagian besar ditangani oleh sistem otomatisasi.
Kekhawatiran tentang tertinggal dari China dalam perlombaan AI global memang memiliki dasar yang kuat. Namun, argumen bahwa konsumen akan menjadi kaya dari kehadiran data center dinilai berlebihan. Komunitas memang berpotensi mendapat manfaat ekonomi jika basis pajak tersebar, namun hal tersebut tidak menyelesaikan masalah air, listrik, kebisingan, dan estetika.

Beberapa pengembang data center memang telah bekerja sama dengan komunitas dan utilitas lokal untuk memastikan pembayaran listrik yang adil serta penggunaan air secara efisien. Namun, belum ada regulasi yang menjamin pembangunan data center dilakukan secara bertanggung jawab.
Menariknya, administrasi Trump justru dalam beberapa hari terakhir bekerja sama dengan EPA untuk menghilangkan kesempatan komunitas memberikan komentar sebelum pembangunan data center AI dimulai di lingkungan mereka. Langkah ini semakin memperkuat persepsi bahwa suara warga diabaikan dalam proses perencanaan.
Fenomena penolakan ini tidak hanya terjadi di AS. Di Inggris, gerakan penolakan data center semakin membesar, dan Skotlandia bahkan siap memberlakukan moratorium. Sementara itu, CEO OpenAI sendiri telah mengakui bahwa publik secara umum membenci AI, sebuah pengakuan yang mencerminkan tantangan besar industri ini ke depan. Perusahaan teknologi kini tengah menyusun strategi narasi baru untuk meredam tekanan publik.

Slogan âLet data reignâ mungkin terdengar menarik bagi isu-isu yang lebih sederhana, namun janji Trump tentang lapangan kerja dan kekayaan bagi semua kemungkinan besar akan berbenturan dengan kenyataan yang dilihat komunitas: crane bertebaran di lanskap, dinding-dinding menjulang dari debu, dan pada akhirnya sumber daya alam yang tersedot habis.
Pertanyaan mendasar yang belum terjawab adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan infrastruktur AI yang masif dengan kelestarian lingkungan dan kualitas hidup masyarakat. Tanpa regulasi yang jelas dan dialog yang melibatkan semua pemangku kepentingan, konflik antara ambisi teknologi dan kepentingan komunitas diprediksi akan terus berlanjut.
Perkembangan ini menjadi pelajaran penting bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang mulai merintis pembangunan infrastruktur data center. Keseimbangan antara kemajuan teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan penerimaan sosial menjadi kunci keberhasilan jangka panjang industri ini.
Sikap tegas Trump terhadap penolakan data center menunjukkan betapa seriusnya pemerintah AS mengejar supremasi AI global. Namun, mengabaikan kekhawatiran publik yang sah tentang konsumsi energi, air, dan dampak kualitas hidup justru dapat memicu resistensi yang lebih besar dalam jangka panjang.
[CONTENT_END]





Komentar
Belum ada komentar.