Telset.id – Presiden Trump resmi menerapkan tarif besar-besaran terhadap drone dan komponen drone impor, sebuah langkah yang langsung mengubah peta persaingan industri drone Amerika Serikat. Kebijakan ini menyasar ketergantungan pasar pada perangkat keras asal China, terutama DJI yang menguasai 80% pangsa pasar global. Lewat kebijakan tarif ini, Amerika Serikat berupaya memperkuat produksi dalam negeri sekaligus mengurangi risiko gangguan rantai pasok yang selama ini menjadi titik lemah industri.
Ancaman yang mendasari kebijakan ini bukan tanpa alasan. Ketergantungan pada perangkat keras China membawa risiko rantai pasok terputus, biaya melonjak, hingga kemungkinan perangkat lunak berbahaya dipasang secara diam-diam. Teknologi drone sendiri telah berkembang pesat dalam lima tahun terakhir, mulai dari merekam peristiwa olahraga, membantu melacak pergerakan kebakaran hutan, hingga mengantar pesanan McDonald’s. Namun sisi lain dari kemajuan itu kian nyata, sebagaimana ditunjukkan perang di Ukraina di laut, darat, dan udara, di mana kemampuan drone sebagai alat perang terus berevolusi, termasuk penggunaan drone first-person view (FPV) presisi tinggi untuk serangan tertarget di zona perang.
Dalam kebijakan baru ini, drone dengan berat di atas 25 kilogram atau yang memiliki kemampuan pencitraan termal dikenai tarif 100%. Sementara drone berukuran lebih kecil tanpa “kemampuan tertentu yang secara khusus berkaitan dengan keamanan nasional” dikenai tarif 25%. Tarif 25% juga berlaku untuk komponen drone. Kebijakan ini menjadi sinyal bahwa Amerika Serikat tidak lagi bersedia menggantungkan pasokan teknologi strategisnya pada satu sumber tunggal.

Menariknya, Trump tidak ingin memperkeruh hubungan dengan sekutu. Karena itu, tarif sebesar 15% diterapkan untuk drone dan komponen dari Uni Eropa, Jepang, Liechtenstein, Republik Korea, Swiss, dan Taiwan. Inggris bahkan mendapat tarif jauh lebih ringan, hanya 10%. Perbedaan tarif ini menunjukkan adanya pertimbangan geopolitik yang lebih luas di balik kebijakan dagang tersebut, bukan sekadar proteksi ekonomi murni.
Pertanyaan besarnya kini adalah bagaimana produsen drone di Amerika Serikat beradaptasi dengan kenaikan biaya impor, dan bagaimana tarif ini memengaruhi manufaktur di tengah permintaan yang terus tumbuh dari pasar sipil, penegak hukum, dan militer. Untuk memahami tantangan yang dihadapi pemasok komponen domestik, TechRadar berbicara dengan CEO Lantronix, Saleel Awsare. Lantronix sendiri menyediakan compute, platform System-on-Module, dan rancangan referensi siap terbang untuk drone serta Unmanned Autonomous Vehicles (UAV).
Awsare mengakui bahwa begitu mendengar kabar tarif baru Trump terhadap suku cadang drone buatan asing, ia langsung teringat pada persoalan rantai pasok yang dihadapi Amerika Serikat setelah tarif yang diterapkan pada awal 2025. Menurutnya, dampak yang lebih luas adalah pasar kini terdorong menuju pengadaan yang lebih regional, transparan, dan tepercaya, alih-alih optimalisasi global yang murni berbasis biaya. Produsen drone harus jauh lebih cermat melihat di mana komponen kunci dirancang, diproduksi, dirakit, dan didukung.
Baca Juga:
Lantronix, kata Awsare, berada dalam posisi yang menguntungkan karena System-on-Modules (SOM) mereka merupakan platform dual-use yang dirancang untuk berbagai aplikasi komersial dan pertahanan. Hal ini membantu memastikan pelanggan tidak terpapar risiko regulasi atau rantai pasok yang tidak perlu. SOM mereka sudah berupa platform komputasi tertanam yang siap produksi, dan Drone Reference Platform dirancang dengan mempertimbangkan kepatuhan NDAA serta Trade Agreements Act (TAA). Dengan opsi manufaktur di Amerika Serikat yang mulai tersedia, Lantronix dapat memberi pelanggan jalur menuju solusi SOM buatan Amerika tanpa mengorbankan performa, dukungan perangkat lunak, dan skalabilitas yang dibutuhkan platform drone generasi berikutnya.
Meski begitu, Awsare menilai masa tenggang tetap bisa menjadi tantangan bagi pelanggan. Sebab, mengkualifikasi dan merancang platform komputasi baru ke dalam drone produksi membutuhkan waktu, bahkan ketika alternatif yang patuh regulasi sudah tersedia hari ini. Ini menggambarkan bahwa transisi rantai pasok tidak bisa terjadi dalam semalam, sekalipun kebijakan sudah diteken.
Dari sisi tantangan, Awsare menyebut dampak jangka pendek terbesar akan menghantam pasar drone konsumen dan komersial. Di segmen ini, produk yang sensitif terhadap biaya masih sangat bergantung pada motor, electronic speed controller, baterai, kamera, dan elektronik asal luar negeri. Tarif bisa membuat alternatif terjangkau sulit didapat hingga pemasok Amerika Serikat atau sekutu mampu meningkatkan skala produksi. Sebaliknya, pemasok pertahanan dinilai lebih siap karena banyak yang sudah merancang berdasarkan persyaratan NDAA, Blue UAS, dan rantai pasok tepercaya yang telah berlaku sebelumnya.
Untuk jangka panjang, tarif ini diperkirakan mempercepat terbentuknya rantai pasok drone Amerika Serikat dan sekutu yang lebih kuat, dengan fokus lebih besar pada pengadaan tepercaya, bill of materials (BOM) yang terkendali, dan manufaktur domestik. Bagi Lantronix, ini menjadi peluang karena solusi mereka sudah menyediakan platform komputasi patuh regulasi dan siap produksi dengan dukungan siklus hidup panjang serta rekayasa Amerika Utara.

Soal tarif lebih rendah bagi sekutu Amerika Serikat, Awsare menilai kebijakan itu membantu industri drone tetap kompetitif sembari kapasitas domestik tumbuh. Produsen tetap memiliki akses ke pemasok tepercaya di Taiwan, Jepang, Korea, Eropa, dan Inggris. Menurutnya, perangkat keras akan jauh lebih terdampak dibanding perangkat lunak, terutama motor, baterai, ESC, sensor, dan komponen struktural, di mana China memiliki skala yang signifikan. Tarif juga diprediksi mempercepat investasi dalam manufaktur Amerika Serikat dan teknologi seperti additive manufacturing. Bagi Lantronix, hal ini menguntungkan karena mereka dapat menyediakan platform komputasi tepercaya dan patuh regulasi sambil tetap memanfaatkan rantai pasok semikonduktor Amerika Serikat dan sekutu yang mapan, alih-alih bersaing di kategori perangkat keras yang paling terdampak.
Terkait pengecualian onshoring dari Departemen Perdagangan Amerika Serikat, Awsare menilai kebijakan itu menguntungkan perusahaan yang sejak awal proaktif soal kepatuhan, perencanaan rantai pasok, dan operasi di Amerika Serikat. Lantronix sendiri sudah memiliki rencana membawa produksi SOM ke fasilitas mereka di Plymouth, Minnesota. Karena itu, pengecualian tersebut memperkuat kemampuan mereka mendukung program drone berbasis Amerika Serikat yang patuh regulasi. Perusahaan dengan infrastruktur operasional dan rantai pasok tepercaya dinilai tidak akan terdampak negatif, dan dalam banyak kasus justru lebih siap tumbuh serta mendukung pasar drone Amerika Serikat.
Namun, ada potensi sisi negatif di ranah internasional. Sebagian pelanggan Uni Eropa dan non-Amerika Serikat lainnya bisa memandang persyaratan lokalisasi Amerika Serikat sebagai preseden atau ancaman kompetitif, terutama jika semakin banyak negara mulai mewajibkan manufaktur lokal. Industri akan sulit beroperasi efisien jika setiap pasar mensyaratkan rantai pasok domestiknya sendiri. Saat ini, banyak pasar internasional memiliki persyaratan asal komponen yang lebih longgar dibanding Amerika Serikat, tetapi hal itu bisa berubah seiring pemerintah berupaya mengurangi ketergantungan pada pemasok China atau pemasok tunggal lainnya. Dalam jangka panjang, Awsare memperkirakan akan ada penekanan lebih besar pada manufaktur regional, rantai pasok sekutu tepercaya, dan pengadaan yang terdiversifikasi, bukan rantai pasok global murni.
Soal daya saing global, Awsare menilai Amerika Serikat kini lebih siap bersaing, meski secara historis tidak ada urgensi yang sama untuk membangun kembali manufaktur dan rantai pasok drone domestik. Situasi itu berubah cepat, tetapi lini masanya menantang karena memindahkan dan mengkualifikasi rantai pasok membutuhkan waktu. Ada pula rentang komponen kritis yang luas, dari motor, baterai, dan elektronik hingga magnet, material tanah jarang, dan sumber daya dasar lainnya. Selain itu, dibutuhkan kapasitas domestik atau sekutu tepercaya untuk meningkatkan produksi. Amerika Serikat mungkin tidak bisa menyamai DJI dan China murni dari sisi biaya dan skala dalam jangka pendek, sehingga peluang yang lebih besar adalah bersaing pada rantai pasok tepercaya, AI dan otonomi canggih, keamanan siber, kustomisasi, dan dukungan rekayasa. Bagi perusahaan seperti Lantronix, itu menciptakan peluang menyediakan platform komputasi patuh regulasi dan siap produksi dengan rekayasa berbasis Amerika Serikat serta dukungan manufaktur domestik yang terus berkembang.

Kebijakan tarif ini pada akhirnya menegaskan satu hal: keamanan rantai pasok kini menjadi pertimbangan utama dalam industri drone, setara dengan harga dan performa. Bagi pasar Indonesia dan pengguna global, arah kebijakan Amerika Serikat ini bisa menjadi rujukan soal bagaimana teknologi strategis dikelola ketika ketergantungan pada satu negara dianggap sebagai risiko tersendiri.





Komentar
Belum ada komentar.