Telset.id ā Gubernur Kemerovo Ilya Seredyuk mengusulkan agar tambang batubara yang sudah tidak beroperasi di Rusia dimanfaatkan sebagai lokasi data center, termasuk untuk operasi kripto dan infrastruktur komputasi lainnya. Usulan ini muncul setelah insiden yang dilaporkan merusak infrastruktur digital di negara tersebut, termasuk fasilitas milik Yandex.
Usulan tersebut disampaikan Seredyuk dalam ajang Russian Energy Week. Ia menilai bahwa dibandingkan membiayai reklamasi tambang, dana tersebut bisa dialihkan untuk membangun fasilitas komputasi di lokasi bekas tambang. Langkah ini disebut dapat menekan biaya konstruksi sekaligus memberi perlindungan fisik tambahan bagi server dari serangan udara.
Sejumlah bekas tambang terbuka di wilayah itu mencapai kedalaman sekitar 300 meter. Kedalaman tersebut menyediakan ruang vertikal yang besar untuk infrastruktur tanpa perlu membangun struktur permukaan konvensional dalam area yang luas.

Air Tambang dan Tutupan Lahan Jadi Pertimbangan
Selain soal ruang, Seredyuk menyinggung potensi air tambang yang terakumulasi dan saluran air bawah tanah untuk menekan biaya pendinginan. Namun hingga kini, gagasan tersebut masih sebatas proposal dan kelayakan teknisnya belum dipastikan.
Gubernur juga mengusulkan agar instalasi bawah tanah ditutup dengan atap dan area di atasnya dikembangkan menjadi ruang terbuka hijau, sehingga bisa membentuk taman di atas lahan bekas tambang. Skema ini disebut dapat menyembunyikan bangunan server dari pengamatan langsung. Meski demikian, penataan lanskap saja dinilai tidak cukup memberikan perlindungan berarti dari pengawasan udara maupun serangan presisi.
Data center komersial dan hyperscale modern kian dipandang sebagai target militer dan strategis yang sah karena menjalankan cloud computing, AI, pengawasan, hingga jaringan logistik militer. Konsekuensinya, membangun taman publik di atas fasilitas server bawah tanah berpotensi menempatkan warga sipil, termasuk anak-anak, pada risiko jika instalasi tersebut menjadi sasaran. Isu lokasi dan dampak lingkungan data center memang menjadi perhatian global, seperti terlihat dari langkah Jerman Batalkan Aturan terkait limbah panas fasilitas komputasi.
Industri batubara Rusia yang tengah terpuruk juga berpotensi memperoleh manfaat jika properti tambang terbengkalai menarik investasi untuk penggunaan industri alternatif. Namun, mengubah lubang tambang terbuka yang dalam menjadi fasilitas komputasi yang andal menuntut kajian rekayasa menyeluruh, mencakup stabilitas struktural, pengelolaan air, pasokan listrik, ventilasi, dan akses darurat.
Baca Juga:
Insiden Yandex dan Kerentanan Infrastruktur
Proposal ini muncul di tengah kekhawatiran atas serangan terhadap infrastruktur digital Rusia, termasuk fasilitas yang dioperasikan Yandex, salah satu perusahaan teknologi utama di negara itu. Laporan menyebut serangan drone memicu kebakaran di data center Yandex di Sasovo, wilayah Ryazan, pada 8 Oktober 2026. Yandex kemudian menghentikan operasi di fasilitas terdampak, meski perusahaan tidak mengonfirmasi secara publik sejauh mana kerusakan yang dilaporkan.
Insiden tersebut memunculkan pertanyaan soal kerentanan infrastruktur komputasi yang terkonsentrasi selama konflik antara Rusia dan Ukraina berlangsung. Media Rusia, Verstka, juga melaporkan bahwa Yandex menyamarkan empat lokasi cloud data center di layanan pemetaannya. Keempat fasilitas itu disebut berada di Mytishchi, Kaluga, Vladimir, dan Sasovo, meski menyembunyikan lokasi di peta tidak membuktikan bahwa setiap situs mengalami kerusakan.

Memindahkan data center ke bawah tanah berpotensi memunculkan kesulitan rekayasa baru, terutama di area tempat air tanah terakumulasi atau aktivitas penambangan telah melemahkan batuan di sekitarnya. Fasilitas komputasi yang andal juga menuntut pasokan listrik berkelanjutan, konektivitas redundan, sistem pemadam kebakaran, dan jalur pemeliharaan yang mudah diakses, terlepas dari kedalaman fisiknya. Faktor-faktor ini perlu dinilai secara hati-hati sebelum Rusia bisa menentukan apakah tambang batubara terbengkalai layak menjadi alternatif lokasi data center konvensional.
Kebutuhan energi dan lokasi fasilitas komputasi juga menjadi sorotan di negara lain. Di Amerika Serikat, misalnya, muncul dorongan agar Data Center AI memberi kontribusi bagi komunitas lokal, sementara pelaku industri terus mengevaluasi kesiapan infrastruktur pendukung, termasuk soal Enterprise Brain yang bergantung pada pusat data andal.





Komentar
Belum ada komentar.