πŸ“‘ Daftar Isi

Pekerja kantor dilanda stres akibat risiko keamanan IT dan ancaman berbasis AI

Stres Keamanan IT Naik, 91% Pekerja Tertekan Ancaman AI

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 91% pekerja stres karena risiko keamanan IT, naik 7 poin dari tahun lalu
  • 9 dari 10 pekerja merasa AI meningkatkan produktivitas, tapi 7 dari 10 khawatir ancaman AI
  • Hanya 24% percaya organisasi mereka siap hadapi ancaman AI
  • 74% sebut alat pemulihan data sulit dipakai tanpa keahlian keamanan
  • 78% alami penurunan performa kerja, 39% pernah ingin berhenti

Telset.id – Tekanan keamanan IT di tempat kerja meningkat tajam. Data baru dari Object First menemukan bahwa 91% pekerja merasa stres karena risiko keamanan IT, naik tujuh poin persentase dibanding tahun lalu. Peningkatan ini tidak lepas dari peran AI yang berkembang pesat di lingkungan kerja.

Temuan ini menunjukkan bahwa keamanan IT bukan lagi sekadar isu tim IT atau manajemen puncak, melainkan sudah berdampak langsung pada kesehatan mental dan produktivitas pekerja. Sembilan dari sepuluh pekerja mengaku alat AI telah meningkatkan produktivitas mereka, namun tujuh dari sepuluh menyebut pertumbuhan ancaman berbasis AI sebagai pemicu utama stres.

Yang lebih mengkhawatirkan, kurang dari seperempat responden, tepatnya 24%, percaya bahwa organisasi mereka cukup siap menghadapi ancaman tersebut. Angka ini mengungkap adanya jurang antara adopsi AI yang cepat dan kesiapan keamanan yang tertinggal.

Stress

Ancaman AI dan Beban Kerja Jadi Pemicu Utama

Risiko serangan siber menjadi penyebab stres yang signifikan di tempat kerja, dengan 50% pekerja menyebutnya sebagai sumber tekanan. Namun, angka tersebut berbagi posisi teratas dengan beban kerja tinggi dan kekurangan staf yang juga mencapai 50%.

Selain itu, celah dalam efektivitas pencadangan dan pemulihan data turut menjadi masalah besar bagi pekerja, dengan 41% mengaku terganggu olehnya. Tekanan untuk menjaga sistem tetap berjalan, yang disebut oleh 44% responden, menambah beban tersendiri. Hal ini menyiratkan bahwa tekanan tidak hanya datang dari serangan langsung, tetapi juga dari beban kerja dan operasional sehari-hari.

Stres ini berdampak nyata pada produktivitas. Empat dari lima pekerja, atau 78%, menyatakan bahwa stres berdampak negatif pada performa kerja mereka. Dua dari lima pekerja, atau 39%, bahkan mengaku pernah berpikir untuk berhenti dari pekerjaan mereka.

Alat Pemulihan Data Sulit Digunakan Tanpa Keahlian Keamanan

Salah satu temuan penting dari laporan ini adalah soal kemudahan penggunaan alat pemulihan data. Tiga dari empat pekerja, atau 74%, mengatakan bahwa alat pemulihan mereka sulit digunakan tanpa keahlian keamanan khusus. Kondisi ini membuat pekerja dengan pengetahuan biasa berada dalam posisi sulit ketika menghadapi insiden.

Dampaknya cukup serius. Satu dari lima pekerja, atau 19%, mengaku merasa putus asa dan kewalahan selama dan setelah insiden keamanan terjadi. Perasaan ini muncul ketika mereka harus berhadapan dengan alat yang rumit di tengah situasi yang menegangkan.

Frustrated Computer User

Laporan ini menyebutkan bahwa memiliki penyimpanan data yang kuat dapat membantu mengatasi persoalan tersebut. Penyimpanan data yang andal menjadi salah satu faktor yang dapat meringankan beban pekerja ketika harus menghadapi dan memulihkan diri dari insiden keamanan.

CEO perusahaan, David Bennett, menegaskan bahwa manusia dan teknologi sama-sama penting dalam menghadapi tantangan ini. β€œSebegitu pentingnya teknologi bagi ketahanan siber, mereka yang bertanggung jawab melindungi dan memulihkan data organisasi juga sama esensialnya,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa investasi pada teknologi saja tidak cukup. Pekerja sebagai pengguna utama sistem juga perlu mendapatkan dukungan agar mampu menjalankan peran mereka dalam menjaga keamanan dan memulihkan data organisasi.

AI model distillation

Laporan Object First ini memperlihatkan bahwa adopsi AI yang meningkat pesat di tempat kerja telah menciptakan dua sisi yang bertolak belakang. Di satu sisi, AI membantu produktivitas. Di sisi lain, AI memunculkan ancaman baru yang membuat pekerja semakin tertekan.

Kesiapan organisasi dalam menghadapi ancaman berbasis AI masih menjadi persoalan serius. Hanya 24% pekerja yang percaya organisasi mereka siap, sementara mayoritas lainnya masih bergulat dengan tekanan operasional dan keterbatasan alat yang mereka gunakan sehari-hari.

Bagi pekerja, temuan ini menjadi pengingat bahwa tekanan keamanan IT kini tidak lagi terbatas pada ruang server atau rapat manajemen. Tekanan tersebut sudah merambah ke meja kerja setiap karyawan, memengaruhi performa, dan bahkan memunculkan keinginan untuk meninggalkan pekerjaan.

Bagi organisasi, data ini menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih menyeluruh. Bukan hanya memperkuat teknologi keamanan, tetapi juga memastikan alat yang digunakan pekerja cukup mudah dipahami dan didukung oleh penyimpanan data yang andal agar proses pemulihan tidak menjadi beban tambahan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.