📑 Daftar Isi

Ilustrasi Starcloud, startup didukung Nvidia yang akan menambang Bitcoin di luar angkasa

Starcloud Bakal Jadi Perusahaan Pertama Menambang Bitcoin di Luar Angkasa

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Starcloud, startup didukung Nvidia, akan menambang Bitcoin di luar angkasa lewat Starcloud-2
  • CEO Philip Johnston klaim jadi perusahaan pertama yang menambang Bitcoin di orbit
  • ASIC penambangan dibawa pada misi komersial pertama tahun ini
  • ASIC disebut 30x lebih murah dari GPU per kilowatt
  • 1 BTC bernilai sekitar US$86.000 saat artikel ditulis

Telset.id – Starcloud, startup yang didukung Nvidia, berencana menjalankan operasi penambangan Bitcoin di luar angkasa sebelum akhir tahun ini. Perusahaan akan mengaktifkan ASIC penambangan mata uang kripto setelah wahana antariksa keduanya mencapai orbit pada 2026.

Klaim tersebut disampaikan langsung oleh CEO Starcloud, Philip Johnston, dalam sebuah wawancara dengan Documenting Bitcoin. “Kami akan menjadi yang pertama menambang Bitcoin di luar angkasa,” ujar Johnston. Ia menegaskan bahwa pihaknya akan membawa sejumlah ASIC penambangan Bitcoin pada wahana antariksa kedua yang diluncurkan tahun ini.

Starcloud didirikan pada 2024 dengan tujuan utama memindahkan pusat data ke luar angkasa. Dalam pernyataan misinya, perusahaan menyebut bahwa seiring menurunnya biaya peluncuran, pusat data di luar angkasa akan memanfaatkan energi matahari berkelanjutan dan pendinginan radiatif, berkembang pesat hingga skala gigawatt, sekaligus menghindari kendala perizinan di Bumi.

Perusahaan menjabarkan proposisinya secara lebih rinci dalam sebuah white paper di situsnya, yang menyoroti daya tarik pelatihan AI di luar angkasa. Namun, pasokan energi matahari yang melimpah juga sangat menguntungkan untuk penambangan kripto. Karena itu, ketika Starcloud-2 mencapai orbit, wahana tersebut akan ditugaskan menghasilkan cuan dari kripto.

Alasan Ekonomi di Balik Penambangan Bitcoin di Orbit

Dalam potongan wawancara yang disematkan, Johnston menyatakan bahwa pihaknya akan membawa sejumlah ASIC penambangan Bitcoin pada wahana antariksa kedua yang diluncurkan tahun ini. Saat artikel ini ditulis, 1 BTC bernilai sekitar US$86.000, cukup jauh dari titik tertingginya beberapa bulan lalu.

Starcloud-2 merupakan wahana kedua dari empat peluncuran satelit yang saat ini direncanakan startup tersebut. Misi ini dibingkai sebagai misi komersial pertama perusahaan, dan seperti satelit sebelumnya, akan dilengkapi klaster GPU. Menariknya, halaman proyek resmi Starcloud-2 tidak menyebut penambangan Bitcoin atau ASIC, sehingga pengungkapan Johnston cukup mengejutkan.

Lebih jauh, untuk sesuatu yang tampak seperti tambahan belakangan, Johnston menyebut bahwa penambangan Bitcoin berpotensi menjadi salah satu kasus penggunaan paling menarik dari komputasi luar angkasa. Ia mengatakan hal itu kepada Documenting Bitcoin.

Johnston juga memberikan gambaran finansial tentang alasan munculnya lini bisnis atau pivot Bitcoin ini. Ia menyoroti biaya ASIC yang lebih rendah dibandingkan GPU, yakni sekitar 30 kali lebih murah daripada GPU per kilowatt. Contoh spesifik yang diberikan adalah chip Nvidia B200 1KW seharga US$30.000 versus ASIC 1KW seharga US$1.000.

Menurut Johnston, penyelesaian persoalan pasokan energi di luar angkasa, baik untuk GPU maupun ASIC, tidak relevan dengan bisnis perusahaan. Pernyataan ini pun memunculkan pertanyaan tentang bagaimana respons Nvidia terhadap langkah tersebut. Sebagai informasi, Nvidia sebelumnya menghadirkan path tracing untuk 007 First Light pada 15 September, menunjukkan ekspansi berkelanjutan perusahaan di berbagai lini teknologi.

Tantangan Komputasi dan Penambangan Kripto di Luar Angkasa

Ketersediaan tenaga surya yang nyaris tanpa gangguan menjadi daya tarik besar bagi komputasi berbasis luar angkasa. Namun, ada sejumlah kelemahan yang menyertainya. Misalnya, satelit tidak mudah untuk dirawat, dan pendinginan konveksi tidak berfungsi di ruang hampa.

Pusat data komersial berbasis luar angkasa masih sangat baru, sehingga sebagian masalah dan solusinya baru akan sepenuhnya jelas setelah penerapan perintis seperti Starcloud-2. Hal ini menjadikan misi tersebut sebagai uji coba penting bagi model bisnis komputasi orbital yang digagas Starcloud.

Starcloud-2 sendiri merupakan bagian dari rencana empat peluncuran satelit yang direncanakan perusahaan. Dengan membawa klaster GPU pada misi sebelumnya dan menambahkan ASIC penambangan Bitcoin pada misi kedua, Starcloud tampak menguji dua jalur komputasi sekaligus di orbit rendah Bumi.

Pengungkapan Johnston juga menempatkan Starcloud pada posisi berbeda dibandingkan pemain komputasi luar angkasa lain yang lebih fokus pada beban kerja AI. Pendekatan hybrid antara GPU untuk AI dan ASIC untuk penambangan kripto menjadi pembeda yang jarang ditemui di sektor ini.

Dari sisi biaya, argumen Johnston tentang efisiensi ASIC dibanding GPU per kilowatt menjadi dasar rasionalisasi lini bisnis baru ini. Dengan rasio biaya sekitar 30 kali lebih murah, ASIC dinilai lebih ekonomis untuk beban kerja penambangan Bitcoin yang bersifat intensif energi namun tidak membutuhkan fleksibilitas komputasi seperti GPU.

Namun, sejumlah pertanyaan teknis masih belum terjawab, terutama terkait bagaimana perangkat keras tersebut akan bertahan dalam kondisi luar angkasa dan bagaimana proses pemeliharaan akan dilakukan. Starcloud menyebut bahwa jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini baru akan muncul setelah penerapan perintis berjalan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi lebih lanjut mengenai jadwal pasti peluncuran Starcloud-2 selain pernyataan bahwa wahana tersebut akan diluncurkan tahun ini. Detail teknis mengenai konfigurasi ASIC yang akan dibawa juga belum diungkap secara resmi oleh perusahaan.

Yang jelas, langkah Starcloud menandai babak baru dalam eksplorasi komputasi di luar angkasa, di mana penambangan Bitcoin tidak lagi hanya menjadi aktivitas berbasis Bumi. Jika berhasil, Starcloud akan mencatatkan namanya sebagai perusahaan pertama yang menambang Bitcoin di luar angkasa, sesuai klaim CEO-nya sendiri.

[INFO_BOX]
Judul: Starcloud dan Rencana Penambangan Bitcoin di Luar Angkasa
Isi:

  • Perusahaan: Starcloud
  • Pendiri: Berdiri 2024
  • CEO: Philip Johnston
  • Misi: Starcloud-2 (misi komersial pertama)
  • Perangkat: ASIC penambangan Bitcoin dan klaster GPU
  • Klaim: Perusahaan pertama yang menambang Bitcoin di luar angkasa
  • Nilai BTC saat artikel ditulis: sekitar US$86.000

[/INFO_BOX]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.