Telset.id ā Pencari kartu grafis (GPU) kembali dihadapkan pada kabar buruk. Sebuah peritel asal Jepang, Applied, telah mengeluarkan peringatan resmi mengenai potensi kenaikan harga GPU di tengah krisis RAM yang sedang melanda industri PC. Peringatan ini disampaikan melalui laporan VideoCardz dan menjadi sinyal bahwa tekanan harga pada komponen PC belum mereda.
Peritel tersebut tidak menyebutkan secara spesifik model GPU mana yang akan mengalami kenaikan harga. Namun, Applied mendesak para pemilik PC yang berniat meningkatkan spesifikasi kartu grafis mereka untuk segera melakukan pembelian. Imbauan ini muncul hanya beberapa waktu setelah peritel Jepang lainnya, khususnya di kawasan Akihabara, baru saja menyesuaikan harga GPU ke level yang lebih tinggi pada bulan Agustus lalu. Kenaikan tersebut diperkirakan mencapai 20% hingga 30% di atas harga normal.
Kabar ini tentu menjadi pukulan telak bagi para gamer dan pengguna PC yang selama ini menanti harga GPU kembali normal. Pasalnya, krisis RAM yang menjadi biang keladi kenaikan harga ini menunjukkan tidak ada tanda-tanda akan segera berakhir.
Krisis RAM Jadi Biang Keladi Kenaikan Harga
Penyebab utama dari gejolak harga ini adalah krisis RAM yang tengah melanda industri komponen PC. Kelangkaan ini mempengaruhi hampir semua jenis komponen, dan kartu grafis menjadi salah satu yang paling terdampak. Hal ini disebabkan oleh melonjaknya biaya produksi video RAM (VRAM) yang tertanam pada GPU. Ketika biaya produksi VRAM naik, produsen kartu grafis tidak punya pilihan selain meneruskan beban tersebut kepada konsumen melalui harga jual yang lebih tinggi.
Kondisi ini diperparah dengan adanya kabar bahwa krisis memori akan berlangsung lama. Laporan dari Samsung dan analis industri mengindikasikan bahwa kelangkaan memori ini diprediksi akan berlangsung hingga melewati tahun 2027 atau bahkan lebih lama lagi. Artinya, para konsumen harus bersiap menghadapi harga komponen PC yang tinggi dalam jangka waktu yang cukup panjang.

Meskipun peringatan kenaikan harga ini datang dari peritel Jepang, dampaknya berpotensi meluas. Mengingat adanya kabar serupa dari mitra papan atas (board partners) Nvidia mengenai potensi kenaikan harga, bukan tidak mungkin kebijakan ini akan berlaku juga di wilayah lain di luar Jepang. Jika rumor tersebut terbukti benar, maka konsumen di berbagai negara, termasuk Indonesia, harus bersiap menghadapi gelombang kenaikan harga GPU berikutnya.
Kondisi pasar GPU saat ini memang sudah sangat tidak bersahabat. Sejak awal tahun 2026, para pemilik PC sudah kesulitan menemukan komponen dengan harga yang terjangkau. Berbagai peritel besar menjual GPU Nvidia GeForce atau AMD Radeon pihak ketiga dengan harga yang tidak masuk akal atau jauh di atas harga eceran yang disarankan (MSRP).
Baca Juga:
Harga GPU di Pasaran Jauh di Atas MSRP
Beberapa contoh nyata menunjukkan betapa parahnya situasi ini. Sebagai gambaran, GPU RTX 5080 kini dijual dengan harga USD 1.699 di Best Buy, Amerika Serikat. Sementara itu, RTX 5060 yang memiliki MSRP USD 299, kini dijual dengan harga lebih tinggi, berkisar antara USD 450 hingga USD 500. Kenaikan harga yang signifikan ini jelas memberatkan kantong konsumen yang ingin melakukan upgrade.
Kondisi serupa juga terjadi pada lini produk AMD. Radeon RX 9070 XT yang memiliki MSRP USD 599, kini dapat dihargai hingga USD 929 untuk model overclocked dari Gigabyte. Tidak hanya itu, Radeon RX 9060 XT (16GB) juga dijual dengan harga setidaknya USD 200 hingga USD 300 di atas MSRP-nya. Daftar kenaikan harga ini diperkirakan masih akan terus bertambah, baik di Amerika Serikat maupun di negara-negara lain.

Dengan kondisi harga yang demikian, membeli GPU baru saat ini terasa tidak sepadan, kecuali bagi gamer yang baru pertama kali ingin merakit PC. Bagi mereka yang sudah memiliki GPU dan ingin upgrade, situasi ini menjadi dilema yang sulit. Menunggu harga turun terasa seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti, sementara membeli di harga tinggi terasa sangat merugikan.
Meskipun demikian, ada satu nasihat penting yang perlu dipertimbangkan: panic buying atau membeli karena panik bukanlah solusi yang tepat. Justru, perilaku ini dapat memperburuk keadaan. Ketika banyak orang berbondong-bondong membeli GPU karena takut harga semakin naik, permintaan akan melonjak. Lonjakan permintaan ini justru dapat memicu kenaikan harga lebih lanjut dalam jangka pendek, menciptakan siklus yang tidak sehat bagi pasar.

Alih-alih panik, konsumen disarankan untuk lebih bijak dalam merencanakan pembelian. Memantau harga secara berkala dan memanfaatkan fitur notifikasi harga bisa menjadi langkah yang lebih cerdas. Dengan begitu, konsumen dapat membeli GPU di waktu yang paling tepat tanpa harus terjebak dalam pusaran panic buying.
Krisis RAM yang berkepanjangan ini memang menjadi ujian besar bagi industri PC. Para konsumen dituntut untuk lebih sabar dan cermat dalam mengambil keputusan pembelian. Sementara itu, para produsen dan peritel diharapkan dapat menemukan solusi untuk menstabilkan harga di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.
Yang jelas, situasi ini belum akan berakhir dalam waktu dekat. Para calon pembeli GPU harus menyiapkan diri menghadapi realita harga yang tinggi, dan yang terpenting, hindari keputusan impulsif yang justru dapat merugikan diri sendiri dan memperparah kondisi pasar.





Komentar
Belum ada komentar.