Telset.id – Oposisi lokal memblokir atau menunda proyek data center senilai $68 miliar di Amerika Serikat sepanjang periode April hingga Juni tahun ini. Angka tersebut terungkap dalam laporan Bloomberg pada 21 September, yang mengutip data dari lembaga riset Data Center Watch. Penolakan ini menjadi sinyal kuat bahwa ekspansi infrastruktur AI kini berhadapan langsung dengan kekhawatiran warga soal konsumsi sumber daya.
Laporan itu menyebut sebanyak 30 gedung legislatif negara bagian telah menerapkan aturan terkait lokasi data center dan konsumsi sumber dayanya. Komunitas bahkan mengupayakan moratorium atas konstruksi yang direncanakan, bahkan sebelum pengembang mengajukan izin. Situasi ini menciptakan ketegangan antara kebutuhan infrastruktur AI yang mendesak dan tuntutan warga akan eksekusi yang bertanggung jawab.
Di sisi lain, para hyperscaler justru telah membelanjakan lebih dari $1 triliun untuk infrastruktur data sejak 2023. Tambahan belanja modal (Capex) sebesar $745 miliar diperkirakan bakal terjadi pada 2026 saja. Angka-angka ini menunjukkan skala ekspansi yang masif, sekaligus menjelaskan mengapa gesekan dengan masyarakat lokal semakin tajam.

Gelombang Protes dan Kekhawatiran Sumber Daya
Angka proyek yang terblokir mencerminkan penolakan luas terhadap data center di seluruh Amerika Serikat. Warga menyoroti isu penggunaan lahan, polusi suara, serta konsumsi listrik dan air. Pada Juli tahun ini, 142 protes data center AI digelar serentak di 42 negara bagian dalam satu akhir pekan. Riset Data Center Watch memperkirakan terdapat 843 kelompok oposisi di seluruh negara bagian AS, kecuali Hawaii.
Salah satu kekhawatiran utama adalah dampak lingkungan dari data center AI. Setiap fasilitas mengonsumsi air dalam jumlah besar untuk mendinginkan ratusan ribu akselerator yang menjalankan kecerdasan artifisial. AI disebut bakal mengonsumsi hingga 600 miliar galon air pada 2030. Isu konsumsi sumber daya ini juga menjadi perhatian dalam pengembangan teknologi komputasi lain, sebagaimana dibahas dalam artikel tentang masa depan local AI di perangkat rumah.
Para hyperscaler berpendapat isu ini dibesar-besarkan. CEO OpenAI Sam Altman menyatakan 38.000 kueri ChatGPT menggunakan air sebanyak produksi satu buah almond. Microsoft mengeklaim arsitektur data center barunya mengonsumsi air sesedikit sebuah restoran. Namun, pada Mei tahun ini, sebuah proyek data center AI diam-diam mengonsumsi 29 juta galon air dalam setahun tiga bulan sebelum tekanan air rendah menyadarkan warga sekitar akan keberadaannya.
Baca Juga:
Konsumsi listrik juga kerap menjadi alasan protes. Analis memproyeksikan data center akan mengonsumsi 20% listrik AS pada 2035. Dampaknya sudah dirasakan warga. Sebuah data center AI di Virginia menyebabkan kenaikan tagihan listrik penduduk sebesar 76% yang tidak dapat dipulihkan, hingga negara bagian itu akhirnya mewajibkan hyperscaler menanggung biaya infrastruktur transmisi yang dibutuhkan khusus untuk proyek tersebut.
Banyak wilayah kini menerapkan mandat serupa, dengan hyperscaler menawarkan kompensasi atas tagihan listrik dalam banyak kasus. Kekhawatiran ini, bersama kebutuhan daya data center AI yang ekstrem, juga mendorong hyperscaler membangun pembangkit listrik di lokasi. Sebagian bahkan menawarkan memasok listrik kembali ke jaringan. Meta, misalnya, baru-baru ini menandatangani perjanjian dengan perusahaan utilitas Entergy Louisiana untuk 7 GW daya bagi fasilitas Hyperion-nya. Entergy mengeklaim pembayaran Meta akan menghemat $20 miliar bagi pelanggan lain selama 20 tahun.
Peralihan ke Pembangkit Gas dan Polusi
Peralihan ke pembangkit listrik di lokasi yang off-grid justru memunculkan masalah baru yang memicu protes. Karena skalabilitas dan kecepatan ketersediaannya, banyak hyperscaler mengandalkan pembangkit gas yang sebagian besar membakar bahan bakar fosil. Data center Colossus 2 milik Elon Musk baru-baru ini disorot setelah 59 turbin gas alam tanpa izin yang memasok data center melepaskan ribuan ton polutan ke komunitas kulit hitam di Mississippi.
Di tempat lain, pembangkit gas khusus 35 turbin milik Amazon telah diizinkan melepaskan 33 juta ton gas rumah kaca setiap tahun. Langkah ini akan menjadikannya sumber polusi CO₂ tunggal terbesar di Amerika Serikat. Isu keberlanjutan teknologi juga menjadi sorotan dalam perkembangan perangkat konsumen, seperti yang dibahas pada artikel soal Nvidia RTX 60 Series.

Sentimen yang berkembang menghadirkan semacam dilema. AI terbukti menjadi teknologi yang revolusioner dengan adopsi masif dan penggunaan yang melonjak. Untuk memenuhi permintaan, hyperscaler mendirikan data center dengan kecepatan tinggi, yang kini ditentang warga. Pihak pendukung menyatakan data center adalah kebutuhan mutlak dan segala oposisi menghambat pertumbuhan. Pihak penentang menyatakan mereka hanya menuntut eksekusi yang bertanggung jawab dan tidak menentang AI.
Presiden Trump mengecam komunitas yang menentang data center, dengan mengatakan mereka “ingin berakhir menjadi terbelakang dan miskin.” Ia juga menyiratkan China mungkin berada di balik sentimen tersebut, dengan mengatur gerakan di balik layar. Sementara itu, pejabat di seluruh negeri dilaporkan menghadapi ancaman pembunuhan dan tembakan terkait proyek data center AI. Investasi data center AI sendiri diproyeksikan mencapai $32 triliun pada 2050.
Dinamika penolakan terhadap infrastruktur besar ini juga tercermin pada bagaimana platform digital mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Inisiatif seperti hyperlocal Tokopedia menunjukkan pendekatan berbeda dalam memberdayakan komunitas lokal, alih-alih memicu resistensi seperti yang terjadi pada proyek data center di AS.
Ketegangan antara ekspansi data center AI dan penolakan warga kini menjadi persoalan struktural. Dengan proyek senilai $68 miliar yang terblokir atau tertunda hanya dalam satu kuartal, serta 843 kelompok oposisi yang tersebar di hampir seluruh negara bagian, para pengembang infrastruktur menghadapi kenyataan bahwa pertumbuhan AI tidak lagi semata soal ketersediaan modal dan teknologi. Persetujuan sosial dari komunitas lokal menjadi faktor yang menentukan kelangsungan proyek.
[ META_DESCRIPTION]
Oposisi lokal blokir proyek data center AI senilai $68 miliar di AS sepanjang April-Juni. Simak pemicu protes dan dampaknya bagi industri.





Komentar
Belum ada komentar.