Telset.id – Phishing bertema AI dan teknologi menjadi umpan paling efektif untuk menembus karyawan. Dalam pengujian Kaspersky, tema tersebut mencatat tingkat klik tertinggi, mencapai 45 persen. Artinya, hampir setiap dua penerima email berpotensi mengklik tautan berbahaya dan terpapar malware atau menyerahkan kredensial login kepada pelaku ancaman.
Temuan ini berasal dari analisis Kaspersky terhadap data anonim yang diberikan secara sukarela melalui Phishing Simulator mereka. Peneliti menyebut tingginya tingkat klik menunjukkan pelatihan keamanan siber spesifik apa yang dibutuhkan organisasi. Dari data itu, Kaspersky memetakan lima topik yang paling berhasil memancing korban.
Topik AI & Tech menempati posisi teratas. Tema seperti “introducing next-gen artificial intelligence” mencatat click-through rate 45 persen. Posisi berikutnya ditempati Healthcare & Insurance dengan rata-rata 28 persen, lalu IT Policies & Compliance (26 persen), Gifts & Promotions (24 persen), dan HR & Corporate Communications (22 persen).

Umpan Sensitif dan Kontekstual Paling Berbahaya
Di kategori Healthcare & Insurance, satu jenis email menonjol tajam. Email mengenai laporan inspeksi sanitasi mencapai click-through rate 92 persen. Sementara di kategori Gifts & Promotions, dua pertiga atau 66 persen penerima mengklik email yang mengajak mereka memakai jersey tim nasional sepak bola dan memenangkan hadiah.
Kaspersky menyebut email di kategori HR & Corporate Communications yang mengangkat topik internal sensitif dan berdaya tarik tinggi sebagai “especially dangerous”. Menurut Svetlana Kalashnikova, Security Awareness expert di Kaspersky, orang secara alami merespons email sensitif dan sangat kontekstual, terutama ketika phishing meniru alur kerja atau kekhususan lokal mereka.
“Mengetahui hal ini, penjahat siber membuat jebakan mereka lebih personal dan tren ini akan semakin cepat dengan munculnya generative AI,” kata Kalashnikova. Ia menambahkan bahwa budidaya kewaspadaan siber yang tepat terbukti menurunkan risiko secara terukur: pelatihan rutin dan simulasi serangan menurunkan tingkat kerentanan phishing dari 60 persen menjadi hanya 5–7 persen, berdasarkan analitik efektivitas KASAP.
Kaspersky menegaskan phishing tetap menjadi insiden siber paling umum bagi bisnis di semua tahap pertumbuhan dan menduduki peringkat teratas insiden yang berujung pada konsekuensi bisnis merugikan. Serangan terhadap manusia pun tumbuh lebih canggih, lebih cepat, dan lebih luas, serta berkat Artificial Intelligence (AI) kini menjadi upaya multi-tahap.
Baca Juga:
Cara Mengenali Email Phishing di Tengah Gempuran AI
Sebelum AI, email phishing relatif mudah dikenali. Sebagian besar ditulis pelaku ancaman yang bukan penutur asli bahasa Inggris, sehingga bahasanya canggung dan tidak mampu menyampaikan gaya atau nada komunikasi resmi perusahaan. Kini AI membuat email berbahaya nyaris tak bisa dibedakan dari komunikasi sah, sehingga identifikasi bergeser ke tautan, lampiran, dan keseluruhan sentimen pesan.
Beberapa hal tetap sama pada semua email yang dipersenjatai. Rasa urgensi menjadi penanda utama. Sebagian besar organisasi sah tidak akan mengancam pelanggan dengan penangguhan akun dalam 24 jam. Mereka juga tidak akan menaruh dokumen di layanan pihak ketiga yang tidak dikenali, dan tidak akan membagikan lampiran dalam format executable.
Memeriksa ulang domain pengirim masih menjadi cara yang baik untuk mendeteksi serangan. Sebagian besar email phishing berasal dari alamat email yang dicuri, atau alamat yang dibuat di layanan publik. Sebagaimana dicontohkan, layanan pos Inggris tidak memiliki akun email Proton. Karena itu, meningkatkan kesadaran, pelatihan, dan simulasi tetap menjadi cara utama untuk bertahan di 2026.

Bagi organisasi, rekomendasi Kaspersky adalah menerapkan program kesadaran keamanan siber berkelanjutan untuk seluruh karyawan. Pelatihan rutin dan simulasi serangan disebut sebagai cara paling efektif menekan kerentanan, dari 60 persen menjadi 5–7 persen. Sementara bagi individu, kewaspadaan terhadap email bertema AI, kesehatan, kebijakan IT, promosi, dan urusan HR tetap menjadi lapisan pertahanan pertama. Sebagai pembanding, insiden kredensial yang menyasar perangkat kerja juga marak lewat Situs Palsu WatchGuard.
[INFO]
Baca juga: Google Health Guardian | Huawei Watch GT 7





Komentar
Belum ada komentar.