Telset.id – Penjualan smartphone global mengalami penurunan tajam sebesar 22 persen year-on-year (YoY) pada kuartal ketiga 2026. Berdasarkan riset pasar terbaru dari IDC, ini merupakan penurunan terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah industri smartphone, dipicu oleh krisis RAM yang berkepanjangan dan kenaikan harga dari seluruh vendor utama.
Krisis RAM yang dimaksud oleh IDC bukan sekadar gangguan pasokan biasa. Lembaga riset tersebut menyalahkan krisis memori yang dipimpin oleh AI, yang terus mengganggu pasar dengan biaya komponen yang meningkat dan pasokan yang terbatas. Dampaknya langsung terasa pada margin vendor dan volume pengiriman perangkat ke seluruh dunia.
Nabila Popal, senior research director for Worldwide Devices di IDC, menyatakan bahwa kondisi pasar belum akan membaik dalam waktu dekat. “Namun, yang terburuk belum terjadi,” ujarnya dalam analisis IDC tersebut. Pernyataan ini menegaskan bahwa tekanan yang dialami pasar smartphone saat ini baru tahap awal dari krisis yang lebih besar.

Krisis Memori AI dan Lonjakan Harga Komponen
IDC mencatat bahwa biaya memori telah melonjak sekitar 350 persen sejak tahun lalu dan masih terus naik. Kondisi ini menciptakan tekanan besar terhadap margin vendor dan volume pengiriman perangkat. “Indikator saat ini menunjukkan bahwa pasar belum mencapai titik terendah. Biaya memori telah melonjak sekitar 350 persen sejak tahun lalu dan masih terus meningkat, menciptakan tekanan besar pada margin vendor dan pengiriman,” lanjut Popal.
Kenaikan biaya komponen ini tidak hanya berdampak pada vendor, tetapi juga mulai merambat ke konsumen. Francisco Jeronimo, vice president for Worldwide Devices di IDC, menyatakan bahwa tekanan kini beralih dari vendor ke konsumen. “Sayangnya, konsumen yang akan mulai merasakan dampaknya ke depan. Kuartal ketiga menunjukkan dampak penuh dan kerusakan dari krisis memori ini,” kata Jeronimo.
Menurut Jeronimo, konsumen kini memilih untuk tidak melakukan upgrade sesering sebelumnya. Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa sebagian besar peningkatan yang ditawarkan saat ini bersifat iteratif. “Saat harga yang lebih tinggi sampai ke rak, banyak pembeli yang mempertahankan perangkat mereka saat ini lebih lama,” tambahnya.
Data IDC menunjukkan bahwa total pengiriman smartphone global pada kuartal ketiga 2026 hanya mencapai 255,3 juta unit, turun dari 327,3 juta unit pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan ini terjadi di hampir semua vendor utama, dengan Xiaomi, OPPO, dan vivo mengalami penurunan paling dalam.
Baca Juga:
Krisis ini juga berdampak pada strategi vendor. Jeronimo mencatat bahwa meskipun penjualan lesu, beberapa vendor justru menaikkan rencana produksi menjelang perkiraan pengetatan pasokan komponen tahun depan. “Jika permintaan tetap lemah, ini bisa menyebabkan penumpukan inventaris menuju 2027, menambah risiko penurunan lebih lanjut pada proyeksi 2027 kami,” ujarnya.
Dampak Langsung ke Harga dan Konsumen
Bagi konsumen, kenaikan harga sudah mulai terasa di berbagai lini produk. iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max baru saja mengalami kenaikan harga sebesar $100. Samsung juga baru menaikkan harga pada jajaran Galaxy S26. Kenaikan ini mencerminkan tekanan biaya memori yang tidak bisa lagi diserap oleh vendor.

IDC memproyeksikan bahwa pasar tidak akan pulih dari kondisi tertekan ini setidaknya hingga 2028. Ini berarti konsumen harus bersiap menghadapi harga smartphone yang tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Sementara itu, vendor menghadapi dilema antara menaikkan harga untuk menjaga margin atau menahan harga demi mempertahankan volume penjualan.
Jeronimo menambahkan bahwa tekanan ini menciptakan skenario yang sulit bagi semua pihak. Dari sisi konsumen, mereka dipaksa membayar harga tinggi untuk smartphone. Dari sisi vendor, penurunan penjualan bukanlah hal yang mereka inginkan. Namun, tidak ada solusi yang jelas terlihat saat ini.
Untuk pasar Indonesia sendiri, kondisi ini berpotensi mempengaruhi strategi peluncuran dan penetapan harga perangkat baru. Vendor yang biasanya bersaing ketat di segmen menengah mungkin akan lebih selektif dalam menghadirkan model baru, mengingat biaya komponen yang terus meningkat. Beberapa model yang baru saja debut global seperti Oppo Find X10 dan jadwal rollout ColorOS 17 bisa menjadi indikator bagaimana vendor menyesuaikan strategi mereka di tengah krisis ini.

Popal dan Jeronimo sama-sama menekankan bahwa ini bukan siklus pasar biasa. Krisis memori yang dipicu oleh kebutuhan AI telah menciptakan ketidakseimbangan struktural antara pasokan dan permintaan. Lonjakan 350 persen dalam biaya memori sejak tahun lalu adalah angka yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam industri ini.
IDC juga mencatat bahwa krisis ini tidak hanya berdampak pada smartphone, tetapi juga pada perangkat lain yang menggunakan memori. Namun, smartphone menjadi salah satu kategori yang paling terdampak karena volume produksinya yang besar dan margin yang relatif tipis dibandingkan perangkat premium lainnya.
Bagi konsumen yang saat ini membutuhkan smartphone baru, saran dari IDC dan Tom’s Guide cukup jelas: jika menemukan penawaran bagus dan perangkat saat ini sudah tidak memadai, sebaiknya segera ambil. Ini adalah saran terbaik yang bisa diberikan selama periode yang belum pernah terjadi sebelumnya ini. Berdasarkan analisis IDC, kita mungkin baru akan melihat pasar stabil kembali pada 2028.
Krisis ini juga menjadi pengingat bahwa ketergantungan industri teknologi pada pasokan komponen global memiliki risiko yang nyata. Ketika satu komponen kunci seperti memori mengalami gangguan, dampaknya bisa merambat ke seluruh ekosistem, dari vendor hingga konsumen akhir. Situasi ini juga sejalan dengan kekhawatiran yang diangkat oleh IMF terkait ekonomi global pada 2028.
Dengan proyeksi pemulihan yang baru terjadi pada 2028, baik konsumen maupun vendor perlu menyesuaikan ekspektasi mereka. Konsumen mungkin perlu mempertahankan perangkat mereka lebih lama, sementara vendor perlu mencari cara untuk tetap kompetitif di tengah tekanan biaya yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
[ META_DESCRIPTION]
Penjualan smartphone global anjlok 22 persen pada Q3 2026 akibat krisis RAM. IDC sebut ini penurunan terbesar, harga iPhone dan Galaxy naik.





Komentar
Belum ada komentar.