📑 Daftar Isi

Wanita terkejut melihat layar laptop karena harga notebook yang melonjak

Pengiriman PC Global Anjlok 20 Persen, Harga Laptop Naik 2027

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Pengiriman PC global turun 20,1 persen YoY pada Q3 2026, dari 78,5 juta ke 62,7 juta unit
  • Penyebabnya krisis RAM dan kenaikan harga komponen PC
  • TrendForce prediksi penjualan notebook turun hingga mendekati 10 persen pada 2027
  • CPU, RAM, dan SSD ambil 68 persen biaya komponen laptop kelas menengah ke atas
  • IDC sebut harga tetap tinggi, tapi ada peluang promo jangka pendek

Telset.id – Pengiriman PC global anjlok 20,1 persen secara tahun-ke-tahun pada kuartal ketiga 2026, turun dari 78,5 juta unit menjadi 62,7 juta unit. Penurunan tajam ini dipicu krisis RAM dan kenaikan harga berbagai komponen PC, dan analis memperkirakan harga laptop akan tetap tinggi hingga 2027.

Data tersebut berasal dari laporan terbaru IDC Research untuk kuartal ketiga 2026 yang dikutip PC Gamer. Penurunan 20,1 persen ini jauh lebih dalam dibandingkan laporan IDC untuk kuartal kedua, yang saat itu pengiriman PC masih turun 3,8 persen secara tahun-ke-tahun. Artinya, tekanan terhadap pasar komputer justru semakin berat, bukan mereda.

Penyebabnya disebut jelas: krisis RAM dan kenaikan harga di berbagai komponen PC, bukan hanya memori. Kondisi ini membuat harga perangkat jadi lebih mahal, permintaan melemah, dan produsen maupun konsumen sama-sama menahan diri.

TrendForce Prediksi Penurunan Berlanjut ke 2027

Analis lain, TrendForce, juga merilis laporan yang diamati Wccftech. Lembaga riset itu menilai kenaikan biaya komponen mengancam melemahkan permintaan notebook pada 2027. Dalam laporannya, TrendForce menyebut, “Global notebook shipments are currently projected to decline by a low-single-digit percentage in 2027.”

Namun, TrendForce memberi catatan penting. Jika harga RAM dan CPU tetap tinggi, yang tampaknya hampir tak terhindarkan, pembuat notebook “may be forced to pass more of these costs on to consumers”. Harga ritel yang tinggi membuat lebih sedikit konsumen membeli laptop baru, sehingga penurunan penjualan notebook berpotensi mencapai high single digit, atau mendekati 10 persen pada tahun depan.

Angka itu menambah gambaran suram yang sudah terlihat saat ini. Sebelumnya, Telset.id juga melaporkan bahwa pengiriman laptop global berisiko turun akibat harga komponen yang terus naik.

Baik IDC maupun TrendForce menyoroti satu hal yang sama: sebagian masalah 2026 muncul karena konsumen yang berencana membeli laptop baru justru membeli lebih awal pada tahun ini. Mereka terpicu kekhawatiran nyata terhadap kenaikan harga yang akan datang, sehingga penjualan saat ini lebih sedikit dari yang seharusnya.

Komponen Inti Kuasai Dua Pertiga Biaya Laptop

Produsen laptop juga mulai menipis persediaan komponen yang mereka beli dengan harga lebih murah, tepat seperti yang dilakukan konsumen sebagai antisipasi kenaikan harga. Akibatnya, margin keuntungan mereka menghadapi tekanan yang semakin berat akibat naiknya biaya RAM, penyimpanan, dan CPU.

TrendForce tidak menyebut GPU, tetapi komponen itu tetap menjadi faktor untuk sebagian notebook, terutama laptop gaming. Jika produsen tidak menaikkan harga, mereka terpaksa memangkas spesifikasi.

TrendForce membeberkan satu statistik menarik soal kondisi biaya produksi laptop saat ini. Pada notebook kelas menengah ke atas dengan harga sekitar 900 dolar AS, 68 persen dari bill of materials atau biaya komponen mentah diisi oleh CPU, RAM, dan SSD. Dengan kata lain, tiga komponen inti itu kini mengambil dua pertiga dari total biaya sebuah laptop.

Intense close-up of RAM against a black background

IDC juga memprediksi kondisi suram untuk tahun depan, setidaknya pada paruh pertama 2027. Lembaga itu menyatakan, “[PC] prices will remain elevated. With macro conditions worsening, the risk is that the outlook for the next few quarters gets worse before it gets better.”

Kenaikan biaya komponen ini juga sudah memukul sejumlah produsen. Telset.id mencatat bahwa MSI Prestige N16 Flip AI+ hadir dengan RAM 128 GB di tengah situasi pasokan memori yang ketat, sementara di sisi lain ada laporan soal modder Metabox yang memaksa laptop pakai watercooling demi menekan suhu CPU hingga turun 60°C.

Satu titik terang datang dari IDC. Karena peritel khawatir “carrying too much inventory into a market where high prices are suppressing demand”, mereka berpotensi menggelar “promotions and some short-term relief for consumers”. Artinya, ada kemungkinan muncul promo menarik, termasuk potensi diskon Black Friday. Meski begitu, IDC menegaskan harga tidak akan “anywhere near what it was a year ago”.

Worried man using laptop and credit card in a modern kitchen, stressed about inflation and high prices.

Sejumlah penawaran tetap mungkin muncul, seperti yang terlihat pada Prime Day dan momen lain belakangan ini. Bagi yang sedang mencari laptop, langkah paling masuk akal adalah langsung mengambil penawaran bagus begitu menemukan model yang diinginkan.

Hampir semua prediksi soal krisis RAM saat ini bernada negatif, dengan sentimen pesimistis yang terus bertambah. Kecuali banyak analis dan pengamat industri ternyata salah besar, menunggu hingga tahun depan untuk membeli perangkat baru bukan pilihan yang bijak. Membeli sekarang atau menahan diri untuk jangka panjang tampak jadi pendekatan yang tepat, terutama untuk laptop atau PC, dan juga kartu grafis.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.