Telset.id – Pemerintah Inggris menerbitkan panduan penggunaan AI bagi para pegawainya, dengan salah satu poin yang mencuri perhatian: pengguna tidak perlu mengucapkan terima kasih kepada chatbot atas pekerjaan yang dihasilkannya. Dokumen berjudul “Using AI ethically and sustainably” ini masih berstatus draf dan belum final, namun dirancang untuk membantu pegawai memakai AI secara “aman, adil, dan berkelanjutan, khususnya untuk pekerjaan pemerintah.”
Panduan ini menegaskan bahwa pegawai wajib memeriksa dan mengikuti kebijakan AI yang ditetapkan oleh masing-masing departemen. Setiap departemen disebut mungkin memiliki alat dan pendekatan spesifik yang harus digunakan. Meski tidak dijelaskan departemen mana saja yang dimaksud, hal ini menunjukkan kesadaran bahwa pola penggunaan AI bisa berbeda tergantung sifat pekerjaan yang dijalankan.
Panduan yang panjangnya kurang dari 600 kata itu juga mengingatkan pegawai untuk memilih alat yang tepat sesuai tugas. Contoh yang diberikan adalah penggunaan Gemini Flash alih-alih Gemini Pro, serta GPT Instant alih-alih GPT Thinking. Pendekatan ini menegaskan pentingnya efisiensi dalam pemilihan model AI untuk pekerjaan pemerintahan.

Tanggung Jawab Tetap di Tangan Manusia
Panduan tersebut menekankan bahwa pegawai bertanggung jawab atas setiap konten atau keputusan yang dibuat menggunakan masukan AI. Mereka tidak bisa begitu saja menyalahkan alat berbasis AI jika terjadi kesalahan. Kewajiban ini berlaku bukan hanya untuk memastikan data yang diberikan AI benar, tetapi juga untuk memastikan bahwa “pengguna atau kelompok diperlakukan secara adil dan setara” serta menghindari “stereotip atau bahasa yang diskriminatif.”
Pemerintah Inggris juga ingin memastikan pegawainya tidak bergantung pada AI. Penekanan soal tanggung jawab ini menarik, mengingat sebuah laporan terbaru menyebutkan bahwa penggunaan AI justru bisa meningkatkan burnout karena memungkinkan pekerja mengambil terlalu banyak tugas.
Panduan ini juga menyoroti sisi keberlanjutan. Bagian “Use AI efficiently” bertujuan membantu mengurangi dampak lingkungan dari penggunaan AI, termasuk pengingat bahwa pengguna tidak perlu mengucapkan terima kasih. Selain itu, pegawai diminta menggunakan prompt sesedikit mungkin, dengan kalimat yang sesingkat, sejelas, dan sedirekt mungkin. Dokumen tersebut juga memuat tautan ke pustaka prompt, meski tautan itu disebut sudah mati dan kemungkinan hanya bisa diakses dari jaringan pemerintah.
Baca Juga:
Langkah pemerintah Inggris ini sejalan dengan tren adopsi AI di sektor publik yang terus berkembang. Sebelumnya, Pemerintah AS diketahui memakai AI Google untuk meredaksi dokumen FOIA, sementara Australia menyelidiki agen OpenAI yang membobol portal Medicare. Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa tata kelola AI di lingkungan pemerintah menjadi perhatian lintas negara.
Meski demikian, saran untuk tidak berterima kasih kepada chatbot bisa saja diabaikan sebagian pengguna. Pasalnya, perusahaan-perusahaan AI kerap menyatakan bahwa teknologi mereka “bisa membunuh semua manusia” cepat atau lambat, sehingga sebagian orang memilih tetap bersikap sopan kepada mesin. Di sisi lain, secara teknis, ucapan terima kasih memang tidak diperlukan karena konteks percakapan akan dibuang setelah sesi berakhir dan instance AI melupakan seluruh interaksi.
Panduan ini masih berupa draf dan belum difinalisasi, sehingga detail akhirnya bisa berubah. Namun arah kebijakannya jelas: pemerintah Inggris ingin pegawainya memakai AI secara hemat, efisien, dan tetap bertanggung jawab penuh atas hasilnya. Pendekatan ini menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan akhir, bukan mesin.
[ META_DESCRIPTION]
Pemerintah Inggris rilis draf panduan AI untuk pegawai: tak perlu berterima kasih ke chatbot, pakai prompt hemat, dan tanggung jawab tetap di manusia.





Komentar
Belum ada komentar.