Telset.id β Riset terbaru Pax8 mengungkap bahwa 39% usaha kecil dan menengah (UKM) di Inggris mengalami tagihan AI yang jauh lebih tinggi dari perkiraan. Temuan ini menjadi sinyal bahwa adopsi AI di kalangan bisnis Inggris bergerak lebih cepat dibanding kesiapan tata kelola mereka.
Survei Pax8 menyoroti sejumlah celah yang saling berkaitan. Selain lonjakan biaya tak terduga, hampir seperempat (24%) UKM Inggris menemukan alat AI tidak resmi yang beroperasi di dalam bisnis mereka dalam enam bulan terakhir. Kondisi ini menunjukkan bahwa visibilitas terhadap konsumsi AI di banyak perusahaan masih belum memadai.
Tekanan untuk mengadopsi AI yang sedang berada di titik tertinggi dikhawatirkan membuat bisnis Inggris terburu-buru mengambil keputusan tanpa memikirkan fondasinya terlebih dahulu. Padahal, tanpa dasar yang jelas, biaya dan risiko bisa terus membengkak seiring bertambahnya penggunaan AI.
Visibilitas AI End-to-End Masih Jadi Masalah
Meski fenomena shadow AI disebut cukup luas, hanya satu dari empat (23%) bisnis Inggris yang memiliki proses peninjauan formal dan terdokumentasi untuk AI yang dibangun secara internal. Angka itu lebih rendah dibanding Jerman (32%) dan Amerika Serikat (36%).
Kesenjangan tata kelola ini turut memengaruhi seberapa jauh UKM mengembangkan AI mereka sendiri. Hanya sekitar setengah (54%) UKM Inggris yang mengembangkan AI sendiri, jauh tertinggal dari Amerika Serikat yang mencapai 81%.
Di sisi lain, Pax8 menilai kondisi adopsi AI saat ini justru menjadi peluang besar bagi vendor perangkat lunak dan penyedia layanan TI. Temuan ini tidak semata menjadi pekerjaan rumah bagi bisnis sebagai konsumen, melainkan menempatkan tanggung jawab lebih besar pada penyedia layanan untuk memberi jaminan melalui kontrol visibilitas, keamanan, tata kelola, serta opsi manajemen biaya tambahan.

Baca Juga:
Persoalan visibilitas ini juga menyentuh aspek strategi pengembangan model AI yang tengah menjadi perhatian industri, sebagaimana dibahas dalam artikel soal strategi scaling konvensional. Tanpa pengelolaan yang rapi, setiap lapisan teknologi yang ditambahkan berpotensi memperbesar biaya yang sulit dilacak.
Anggaran AI Khusus Masih Minim
Bisnis Inggris juga menghadapi tantangan dalam pengelolaan biaya. Hanya 12% yang memiliki anggaran AI khusus. Sebanyak 19% bahkan tidak dapat membedakan pengeluaran AI dari pengeluaran teknologi secara umum. Akibatnya, hanya 16% UKM Inggris yang yakin mampu menentukan ROI dari AI mereka.
Angka keyakinan itu hanya sekitar sepertiga dari jumlah bisnis di Swedia (45%) yang merasa percaya diri dalam menentukan ROI AI. Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kemampuan mengukur nilai investasi AI masih menjadi titik lemah bagi banyak UKM Inggris.
Ke depan, kekhawatiran soal keamanan tetap menjadi hambatan adopsi yang paling banyak disebut. Namun Pax8 melihat kondisi adopsi AI saat ini sebagai peluang besar bagi para vendor dan penyedia layanan TI untuk mengambil peran lebih besar dalam membantu bisnis.

Pola serupa terlihat pada perangkat pintar rumah tangga yang mulai mengadopsi standar interoperabilitas, seperti pada dukungan Matter di perangkat baru. Adopsi teknologi yang cepat tanpa tata kelola memadai memang kerap memunculkan persoalan baru di kemudian hari.
Menanggapi temuan tersebut, EMEA CEO Harald Nuij mengatakan, βThese findings highlight the importance of trusted businesses that can help SMBs bring agents, workflows, data and tools together as a connected intelligence layer.β
Pernyataan itu menegaskan bahwa peran mitra tepercaya menjadi kunci bagi UKM untuk menyatukan agen, alur kerja, data, dan alat dalam satu lapisan intelijen yang terhubung. Dengan begitu, bisnis tidak hanya mengejar adopsi, tetapi juga memastikan setiap elemen AI dapat dipantau dan dikelola secara bertanggung jawab.
Bagi UKM Inggris, temuan Pax8 ini menjadi gambaran bahwa percepatan adopsi AI perlu diimbangi dengan kontrol biaya, keamanan, dan tata kelola yang jelas. Tanpa itu, risiko tagihan membengkak dan penggunaan alat AI tak resmi akan terus menghantui operasional bisnis.





Komentar
Belum ada komentar.