Ilustrasi transformasi Nvidia dari closed source menjadi open source di ekosistem Linux

Nvidia Berbalik Arah: Dari Musuh Linux Jadi Pionir Open Source

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Nvidia berubah dari musuh Linux menjadi pionir open source setelah hampir 15 tahun
  • Linus Torvalds pernah memaki Nvidia pada 2012 karena menutup kode driver
  • Nvidia kini merilis driver GPU Linux open source sebagai opsi default sejak 2022
  • Perusahaan menciptakan DGX OS berbasis Linux untuk produk superkomputer DGX Spark
  • Transformasi ini menandakan masa depan komputasi enterprise dan AI di lingkungan open source

Telset.id – Nvidia yang selama bertahun-tahun menjadi musuh bebuyutan komunitas Linux kini justru berbalik arah menjadi pionir open source. Transformasi ini menandai perubahan fundamental dalam strategi perusahaan, dari menutup rapat kode sumber menjadi merangkul ekosistem terbuka.

Perubahan haluan Nvidia ini terbilang dramatis. Hampir 15 tahun lalu, pendiri Linux Linus Torvalds melontarkan makian keras kepada Nvidia dalam sebuah sesi tanya jawab di Aalto University pada Juni 2012. Saat itu, Torvalds dengan nada marah mengatakan, “Nvidia adalah perusahaan terburuk yang pernah kami hadapi!” Seruan itu muncul setelah seorang peserta mengeluhkan bahwa chip Nvidia Optimus tidak lagi didukung di Linux.

Chip Nvidia Optimus merupakan prosesor yang beralih antara grafis terintegrasi dan grafis khusus. Ketidakmampuan Nvidia menyediakan dukungan driver membuat chip mahal tersebut tidak berguna di laptop Linux, kecuali pengembang melakukan reverse-engineering.

Pada masa itu, Torvalds menuding Nvidia meraup keuntungan dari ekosistem Linux Foundation melalui produk seperti chip Tegra untuk perangkat Android. Namun, perusahaan enggan bekerja sama membangun driver native. “Kompetitor seperti Intel dan AMD senang bekerja sama dengan Linux, sementara Nvidia memperlakukan kode kepemilikan mereka sebagai material rahasia,” keluh Torvalds.

Kini, situasi berubah total. Nvidia telah merangkul open source dan sepenuhnya beralih ke modul kernel GPU Linux open source sebagai opsi default sejak 2022. Driver tersebut dirilis di bawah lisensi GPL/MIT ganda.

Transformasi ini tidak berhenti di situ. Dengan pesatnya pembangunan infrastruktur AI, Nvidia menciptakan DGX OS berbasis Linux untuk produk superkomputer mini DGX Spark. Sistem berbasis Ubuntu ini dirancang untuk bekerja dengan seluruh tumpukan perangkat lunak Nvidia, termasuk CUDA, cuDNN, dan NCCL yang tetap bersifat tertutup.

Meskipun pertempuran antara open source dan closed source masih berlangsung, pembalikan arah Nvidia menandakan bahwa masa depan komputasi enterprise dan AI berada di lingkungan open source. CEO Nvidia Jensen Huang pernah menyatakan, “Software sedang memakan dunia, tetapi AI akan memakan software.”

Perubahan sikap Nvidia ini menunjukkan bagaimana tekanan dari komunitas dan perubahan lanskap industri dapat memaksa perusahaan raksasa untuk beradaptasi. Merek HP Lain juga berpotensi menghilang jika tidak mampu beradaptasi dengan perubahan pasar.

Linus Torvalds at the Open Source Summit, Lyon in 2019

Linus Torvalds di Open Source Summit, Lyon 2019. Sumber: TechRadar

Keputusan Nvidia untuk membuka kode sumber driver GPU Linux menjadi titik balik penting. Langkah ini tidak hanya memperbaiki hubungan dengan komunitas Linux, tetapi juga membuka peluang baru bagi pengembang untuk mengoptimalkan perangkat keras Nvidia di berbagai aplikasi.

Dengan adopsi AI yang semakin masif, Nvidia memposisikan diri sebagai pemain kunci dalam ekosistem open source. Perusahaan menyadari bahwa kolaborasi dengan komunitas open source justru menguntungkan bisnis mereka, terutama di segmen AI dan komputasi performa tinggi.

Nvidia GTC 2025 Jensen Huang keynote

CEO Nvidia Jensen Huang di GTC 2025. Sumber: TechRadar

Transformasi Nvidia dari musuh menjadi pionir open source membuktikan bahwa ekosistem teknologi terus berkembang. Perusahaan yang dulunya dimaki kini menjadi salah satu pendorong utama adopsi open source di era AI.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.