📑 Daftar Isi

Moonshot AI Kimi dan GPU Nvidia Blackwell di data center Eropa

Moonshot AI Kimi Buru Data Center Eropa demi GPU Blackwell Nvidia

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Moonshot AI, pengembang Kimi, menjajaki data center Eropa untuk menyewa klaster 8.000+ GPU Nvidia Blackwell
  • Tujuan sewa mencakup inferencing dan kapasitas training model AI
  • Perusahaan China dilarang membeli GPU Nvidia Blackwell, tetapi celah sewa data center luar negeri masih terbuka
  • U.S. House telah mengesahkan Remote Access Security Act, menunggu Senate dan White House
  • Nvidia membatasi klien data center melayani maksimal 49% kapasitas untuk entitas China

Telset.id – Moonshot AI, laboratorium asal China yang mengembangkan Kimi, dilaporkan tengah menjajaki data center di Eropa untuk mendapatkan akses ke GPU AI Nvidia Blackwell terbaru. Langkah ini menjadi jalan alternatif setelah perusahaan China menghadapi pembatasan langsung dalam memperoleh chip AI berteknologi Amerika Serikat. Informasi ini pertama kali dilaporkan CNBC dan dikutip Tom’s Hardware.

Menurut laporan tersebut, Moonshot AI sedang dalam pembicaraan dengan setidaknya satu data center Eropa untuk menyewa klaster berisi 8.000 GPU atau lebih. Kapasitas itu ditujukan untuk kebutuhan inferencing, dan perusahaan juga disebut tertarik mengamankan kapasitas komputasi untuk training model.

Langkah Moonshot AI menyoroti celah aturan yang masih dimanfaatkan laboratorium AI China. Perusahaan China dilarang membeli GPU Nvidia Blackwell maupun chip AI lain dengan performa setara atau lebih tinggi yang mengandung teknologi Amerika Serikat. Namun, celah hukum memungkinkan mereka memperoleh akses komputasi dengan menyewa dari data center di luar negeri.

Celah Hukum dan Tekanan Regulasi Amerika Serikat

Dewan Perwakilan Rakyat Amerika Serikat (U.S. House) berupaya menutup celah tersebut melalui Remote Access Security Act. Rancangan undang-undang itu telah disahkan di House, tetapi masih harus melewati Senate dan White House sebelum resmi menjadi undang-undang. Sementara proses legislasi berjalan, laboratorium AI China terus memanfaatkan celah dengan melatih model mereka di data center asing yang telah memiliki chip Nvidia.

Persaingan AI antara Amerika Serikat dan China juga menjadi konteks penting dari langkah Moonshot AI. Model open-weight China, termasuk Kimi K3, disebut hanya tertinggal beberapa bulan dari model frontier Amerika Serikat. Model-model tersebut juga dinilai lebih mudah dijalankan dan berpotensi jauh lebih murah digunakan. Kemajuan ini terjadi meski Washington berupaya mempersulit akses laboratorium AI China ke perangkat keras yang menggunakan teknologi Amerika melalui larangan ekspor.

Presiden Donald Trump sempat berbalik arah dan mengizinkan ekspor chip Nvidia H200 ke China. Namun, Beijing mengambil langkah untuk melindungi industri chip AI domestiknya dengan memblokir impor H200 di perbatasan. Kondisi ini membuat perusahaan China harus mencari sumber lain jika ingin mengakses GPU AI paling kuat untuk melatih model mereka.

Batas Waktu dan Aturan Baru untuk Klien Data Center Nvidia

Moonshot AI juga menghadapi jendela waktu yang terbatas jika ingin mengamankan kapasitas komputasi di luar China. Nvidia dilaporkan telah meminta klien data center-nya untuk membatasi bisnis dan menghindari melayani lebih dari 49% kapasitas mereka kepada entitas China. Aturan internal ini memperkecil ruang gerak laboratorium AI China dalam menyewa komputasi dari operator data center global.

Laporan semacam ini berpotensi menarik perhatian pada rancangan undang-undang bipartisan di Amerika Serikat dan meningkatkan tekanan agar legislasi Remote Access Security Act dibahas lebih cepat. Bagi industri AI, perkembangan ini menunjukkan bahwa akses terhadap GPU Nvidia Blackwell tidak lagi hanya soal kemampuan membeli, tetapi juga soal kepatuhan terhadap aturan lintas negara.

Bagi Moonshot AI, negosiasi dengan data center Eropa menjadi salah satu jalur yang tersisa untuk menjaga laju pengembangan model Kimi. Namun, dengan adanya batas kapasitas yang diberlakukan Nvidia dan proses legislasi yang masih berjalan di Amerika Serikat, kepastian akses komputasi jangka panjang bagi laboratorium AI China masih belum jelas.

Perkembangan infrastruktur AI global juga terlihat dari berbagai proyek teknologi China lainnya, seperti Rekor Fiber Optik yang menunjukkan ambisi negeri itu di sektor konektivitas. Sementara di industri otomotif, Penjualan EV China turut memperlihatkan skala ekspansi teknologi negara tersebut di pasar global.

[IMAGE: https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/fmbubhzMvhqdXsuXX8CbYA.png | Alt: “Moonshot AI’s app on a phone and a laptop” | Caption: “Aplikasi Moonshot AI Kimi di ponsel dan laptop.” | Description: “Tangkapan layar aplikasi Moonshot AI Kimi yang menampilkan antarmuka pada perangkat ponsel dan laptop.”]

[IMAGE: https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/Vh4nY3pMCcmra2ymXah9S7.jpg | Alt: “Microsoft data center in Mount Pleasant, Wisconsin” | Caption: “Ilustrasi data center yang menjadi incaran laboratorium AI China untuk menyewa kapasitas GPU.” | Description: “Foto data center Microsoft di Mount Pleasant, Wisconsin, sebagai gambaran fasilitas komputasi yang menyediakan kapasitas GPU untuk kebutuhan AI.”]

[IMAGE: https://cdn.mos.cms.futurecdn.net/mcUCEv8AzcMnUJJ3xjB6Cf.jpg | Alt: “Nvidia server GPUs” | Caption: “GPU server Nvidia yang menjadi rebutan laboratorium AI global.” | Description: “Deretan GPU server Nvidia yang digunakan untuk kebutuhan komputasi AI di data center.”]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.