šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi penggunaan Image Creator di aplikasi Microsoft Paint untuk menghasilkan gambar AI

Microsoft Paint dan Photos Simpan Watermark Tersembunyi Berisi GUID

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Developer Xusheng Li menemukan watermark tersembunyi di Microsoft Paint dan Photos
  • Fungsi WmkWriteWatermark menyisipkan GUID server ke piksel gambar AI
  • Paint menghentikan proses generasi jika watermarking gagal, Photos hanya mencatat error
  • Paint juga menyematkan C2PA Content Credentials melalui ProvenanceHelper.dll
  • Prompt tetap dikirim ke server Microsoft untuk moderasi meski diproses lokal
  • Mekanisme diduga terkait Article 50 EU AI Act yang berlaku 2 Agustus 2026
  • Watermarking bersifat wajib dan tidak bisa dinonaktifkan pengguna

Telset.id – Developer Xusheng Li menemukan fungsi tersembunyi di aplikasi Microsoft Paint dan Photos yang menyisipkan watermark tak terlihat berisi GUID ke dalam gambar hasil generate AI. Temuan ini mengungkap bahwa setiap gambar buatan AI melalui aplikasi bawaan Windows 11 menyimpan penanda digital unik yang tertanam langsung di piksel gambar.

Watermark tersembunyi ini berbeda dengan watermark logo Copilot yang terlihat di pojok kanan bawah gambar. Li menemukan bahwa Microsoft menggunakan fungsi bernama WmkWriteWatermark untuk menyisipkan penanda tak kasat mata tersebut. Yang lebih menarik, proses ini bersifat wajib — jika fungsi watermarking gagal dijalankan, proses generasi gambar di Paint akan berhenti total dan menghasilkan error.

Use Image Creator in Paint to generate AI art

Investigasi Berawal dari Rasa Penasaran

Li mengaku rasa penasarannya muncul saat memeriksa fitur AI di aplikasi Paint Windows 11. Kemampuan image generation yang memanggil remote API memang sudah diduga sebelumnya. Namun, kecurigaan muncul ketika ia menemukan empat file model di direktori aplikasi yang diproses secara lokal.

Dari empat file tersebut, satu merupakan model berformat ONNX dan tiga lainnya adalah file ONNX terenkripsi. Setelah keempat file berhasil dibuka dan dianalisis, investigasi mengarah pada penemuan file watermarker.dll. Awalnya Li mengira file ini hanya berfungsi untuk watermark terlihat yang menambahkan logo Copilot di pojok kanan bawah gambar melalui fungsi AddPerceptibleWatermark.

Namun, ukuran file DLL yang lebih besar dari perkiraan membuat Li penasaran. Ia kemudian meminta bantuan AI untuk menganalisis file tersebut. Hasilnya, ditemukan fungsi lain yang bertugas menyematkan watermark tak terlihat bernama WmkWriteWatermark.

GUID Tertanam di Piksel Gambar

Li memberikan detail teknis lebih lanjut tentang watermark tersembunyi ini. Fakta paling mencolok adalah informasi watermarking yang mencampurkan GUID terbitan server ke dalam piksel gambar. Ini berarti setiap gambar yang dihasilkan AI melalui Paint memiliki identitas unik yang dapat dilacak.

Selain mengubah piksel, Paint juga melakukan lebih dari sekadar itu. Li mencatat bahwa aplikasi tersebut turut menyematkan C2PA Content Credentials ke file yang disimpan. Kode yang bertanggung jawab untuk proses ini berada di ProvenanceHelper.dll yang didukung oleh provenancesdk.dll.

Coalition for Content Provenance and Authenticity (C2PA) merupakan standar industri untuk memverifikasi asal-usul konten digital. Dengan menyematkan kredensial ini, Microsoft memastikan setiap gambar AI di Paint memiliki jejak digital yang dapat diverifikasi.

Perbedaan Perilaku Paint dan Photos

Menariknya, ada perbedaan perilaku antara Paint dan Photos saat proses watermarking menghadapi kegagalan. Di Paint, kegagalan watermarking akan menghentikan seluruh proses generasi gambar. Aplikasi akan menampilkan error dan menolak menghasilkan output.

A representation of a digital fingerprint being scanned

Sementara itu, di aplikasi Photos, mekanisme GUID yang sama diterapkan saat AI digunakan. Namun, jika proses watermarking bermasalah, Photos tetap mengembalikan gambar dan hanya mencatat error di log sistem. Pendekatan ini lebih lunak dibandingkan Paint yang bersikap tegas.

Kaitan dengan EU AI Act

Temuan ini memunculkan spekulasi bahwa semua pemrosesan tersembunyi ini berkaitan dengan Article 50 EU AI Act. Aturan transparansi tersebut mulai berlaku pada 2 Agustus 2026 dan mewajibkan konten buatan AI membawa tanda yang dapat dideteksi serta dibaca mesin.

Namun perlu dicatat, EU AI Act tidak mensyaratkan GUID spesifik per prompt seperti yang diterapkan Microsoft. Aturan tersebut hanya menuntut penanda yang dapat dideteksi secara teknis, bukan identitas unik yang tertanam di setiap gambar.

Selain watermarking, Li juga menemukan bahwa prompt yang dikirim pengguna tetap diteruskan ke server Microsoft untuk moderasi, bahkan pada perangkat yang melakukan generasi gambar secara lokal. Ini berarti proses moderasi konten tetap berjalan di sisi server meskipun komputasi gambar dilakukan di perangkat pengguna.

Implikasi bagi Pengguna

Temuan ini memiliki implikasi signifikan bagi pengguna yang memanfaatkan fitur AI di aplikasi bawaan Windows 11. Setiap gambar yang dihasilkan melalui Paint atau Photos kini membawa identitas digital yang dapat dilacak hingga ke GUID spesifik dari server Microsoft.

Bagi kreator konten, ini berarti gambar buatan AI dari aplikasi Microsoft tidak sepenuhnya anonim. Jejak digital yang tertanam dapat digunakan untuk verifikasi asal-usul gambar, sekaligus menjadi bukti bahwa konten tersebut dihasilkan oleh AI.

Di sisi lain, mekanisme ini juga menjadi bentuk kepatuhan Microsoft terhadap regulasi transparansi konten AI yang semakin ketat di berbagai yurisdiksi. Dengan menerapkan watermarking wajib, Microsoft memastikan produknya memenuhi standar regulasi yang berlaku.

Bagi pengguna yang ingin menghindari pelacakan ini, perlu dipahami bahwa proses watermarking bersifat mandatory di Paint. Tidak ada opsi untuk menonaktifkannya, dan upaya menghindarinya akan berujung pada kegagalan proses generasi gambar.

Sementara itu, Microsoft terus mengembangkan ekosistem AI-nya di Windows. Bagi pengguna yang tertarik dengan perkembangan lain dari perusahaan ini, informasi mengenai skema referral Edge juga menarik untuk disimak. Begitu pula dengan aksesori Xbox terbaru yang dirilis Microsoft.

Ke depannya, mekanisme watermarking tersembunyi seperti ini kemungkinan akan semakin umum diterapkan seiring meningkatnya kebutuhan verifikasi konten AI. Pengguna perlu menyadari bahwa setiap interaksi dengan fitur AI di aplikasi Microsoft meninggalkan jejak digital yang tidak terlihat namun dapat dilacak.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.