Ilustrasi CPU AMD EPYC Turin yang menopang sistem host AI agent Meta Muse

Meta Muse Pakai AMD EPYC Turin, Celah SSH Jadi Sorotan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • Meta Muse berjalan di CPU AMD EPYC 9D25 Turin, Ubuntu 24.04, kernel Linux 7.0
  • Setiap sandbox dapat dua core dan 8GB memori, tanpa GPU karena inference pakai server GPU terpisah
  • Muse lewat 500.000 pengguna aktif harian, estimasi sekitar 2.000 tray server
  • Muse bisa jalankan perintah Ubuntu sederhana dan mengungkap spesifikasi host
  • Celah reverse SSH tunnel jadi sorotan, belum terjadi insiden nyata

Telset.id – AI agent terbaru Meta, Muse, berjalan di atas sistem host AMD EPYC Turin dengan setiap sandbox hanya mendapat dua core khusus dan memori 8GB. Temuan ini sekaligus memunculkan kekhawatiran soal celah keamanan, karena Muse dilaporkan menawarkan untuk menyiapkan koneksi SSH ke VM privatnya sendiri.

Informasi tersebut berasal dari blogger Evan Hoffman dan analis Tae Kim yang sama-sama menemukan bahwa Muse dapat menjalankan sejumlah perintah Ubuntu sederhana jika diminta. Output dari perintah itu kemudian diteruskan kepada pengguna, sehingga membantu mengidentifikasi spesifikasi sistem host yang menopang agent AI tersebut. Kondisi ini membuat batas antara sandbox dan sistem host menjadi perhatian tersendiri bagi pengguna yang menaruh data di dalamnya.

Keduanya lantas menanyakan spesifikasi VM kepada Muse, dan pada dua kesempatan berbeda Muse mengungkap bahwa dirinya berjalan di atas CPU AMD EPYC 9D25. Chip tersebut merupakan prosesor Turin berdensitas tinggi dengan hingga 128 core. VM yang digunakan berjalan di Ubuntu 24.04 dan memakai kernel Linux 7.0. Sistem yang menopang Muse juga tidak menyertakan GPU.

Menurut pengungkapan agent tersebut, Meta memakai server GPU terpisah untuk keperluan inference. Dengan begitu, agent dibatasi hanya pada sandbox berbasis CPU. Muse juga menyebut setiap pengguna memperoleh sandbox privatnya sendiri yang bersifat persisten. Dari keterangan itu, perhitungan kasar soal kapasitas satu tray server pun bisa dilakukan.

CPU EPYC Turin yang dipasang di socket

Dengan asumsi sistem 2P yang menyediakan hingga 512 vCPU dan memori 2TB, satu tray dapat menampung hingga 256 pengguna Muse. Muse dilaporkan telah melewati 500.000 pengguna aktif harian beberapa hari sebelumnya. Angka itu setara dengan sekitar 2.000 tray server berisi dua CPU EPYC 9D25 dan memori 2TB.

Perhitungan tersebut ditegaskan sebagai estimasi kasar dan tidak bisa dijadikan patokan pasti. Ada kemungkinan Meta menurunkan server khusus CPU dengan beberapa jenis chip berbeda untuk menjalankan Muse, dan ada pula kemungkinan muncul overhead dalam konfigurasi. Chip Turin sendiri mendukung memori hingga 6TB dengan DIMM berdensitas tinggi.

Meski begitu, host berbasis EPYC tampak populer untuk kebutuhan semacam ini, terutama karena kepadatan core-nya. Sandbox berisi dua core saja bisa terakumulasi cepat ketika dikalikan dengan ratusan ribu, bahkan jutaan, pengguna. Kapasitas inilah yang membuat pilihan prosesor menjadi faktor penting dalam operasional agent AI berskala besar.

Di sisi lain, Muse tidak sepenuhnya terbuka. Hoffman membagikan contoh ketika sebuah perintah gagal dijalankan karena izin yang tidak memadai, tepat saat Muse mencoba mengakses kernel buffer. Diduga perintah sudo atau perintah admin lainnya juga akan diblokir dengan cara serupa.

Logo Meta

Namun, masih ada kemungkinan celah keamanan yang tersisa. Hoffman menyebut Muse menawarkan untuk menyiapkan SSH ke VM privat Muse. Dengan reverse SSH tunnel, yaitu koneksi yang justru diinisiasi oleh mesin tujuan sehingga melewati firewall, penyerang berpotensi menjalankan perintah yang lebih merusak. Hingga kini, kondisi tersebut belum terjadi.

Kekhawatiran soal tata kelola dan keamanan platform Meta memang bukan hal baru. Sebelumnya, Meta juga sempat menjadi sorotan dalam isu lain, termasuk ketika Menkomdigi desak Meta mempercepat penonaktifan akun anak di Indonesia. Isu ini menunjukkan bahwa pengawasan terhadap layanan Meta terus berjalan di berbagai lini.

Muse saat ini tersedia sebagai aplikasi untuk Android, iOS, dan MacOS. Platform lain dapat mengaksesnya melalui browser dengan akun Meta. Ketersediaan lintas perangkat ini membuat jangkauan Muse berpotensi terus meluas seiring pertumbuhan pengguna aktif hariannya.

Pusat data Meta

Dari sisi arsitektur, pemisahan antara sandbox CPU dan server GPU untuk inference memperlihatkan bagaimana Meta menyusun layanan agent AI-nya. Setiap pengguna mendapat sandbox privat yang persisten, sementara beban komputasi utama ditangani perangkat terpisah. Susunan ini menjelaskan mengapa kebutuhan core CPU menjadi begitu besar ketika jumlah pengguna bertambah.

Pengungkapan spesifikasi host oleh Muse sendiri menunjukkan bahwa agent AI dapat memberikan informasi teknis yang biasanya tidak dipublikasikan secara terbuka. Kemampuan menjalankan perintah Ubuntu sederhana dan meneruskan hasilnya membuat batas privasi antara pengguna dan sistem host menjadi lebih tipis. Hal ini menjadi catatan penting bagi siapa pun yang memakai agent AI untuk keperluan sehari-hari.

Sampai saat ini, belum ada keterangan resmi dari Meta mengenai detail arsitektur maupun insiden keamanan yang disebut Hoffman. Perhitungan kapasitas server yang beredar juga masih bersifat estimasi dan tidak bisa dianggap sebagai angka final. Pembahasan soal salah gunakan privilege di lingkungan Meta pun menambah panjang daftar hal yang perlu dicermati dari layanan berbasis AI perusahaan tersebut.

Bagi pengguna, temuan ini menjadi pengingat bahwa agent AI tidak hanya soal kecanggihan percakapan. Ada lapisan infrastruktur, izin akses, dan konfigurasi sandbox yang menentukan sejauh mana agent dapat bertindak. Selama celah seperti reverse SSH tunnel belum tertutup sepenuhnya, kewaspadaan tetap diperlukan ketika memberikan perintah kepada agent yang berjalan di sistem privat.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.