šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi krisis RAM global dengan modul memori DDR5 dan latar belakang motherboard komputer

Krisis RAM Berlanjut, YMTC Prediksi Kelangkaan Memori 3 Tahun

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø4 menit membaca
Bagikan:
  • YMTC prediksi kelangkaan memori global berlangsung minimal tiga tahun lagi
  • YMTC naikkan harga chip dan alihkan produksi ke margin lebih tinggi
  • TrendForce sebut pasokan DRAM 'very tight' dengan kenaikan harga di Q4 2026
  • Cloud provider AS jadi pendorong utama lonjakan permintaan RAM
  • DDR5 di pasar Jerman naik 544% dibanding sebelum krisis RAM
  • Prediksi senada datang dari CEO Nvidia dan sejumlah analis industri

Telset.id – Kelangkaan memori global yang saat ini menekan pasar RAM dan SSD diprediksi akan berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan sebelumnya. Seorang sumber di pembuat chip besar asal China, YMTC, menyatakan bahwa perusahaan ā€œmemperkirakan kelangkaan memori global akan berlangsung setidaknya tiga tahun lagiā€. Proyeksi ini secara langsung mematahkan harapan akan pemulihan pasokan dalam waktu dekat, sekaligus memperkuat sinyal bahwa harga RAM dan SSD akan terus berada di level tinggi hingga akhir dekade ini.

Informasi ini pertama kali diangkat oleh Jukan dari firma analis Citrini Research melalui unggahan di X, yang merujuk pada laporan The Wire China. Dalam laporan tersebut, seorang karyawan YMTC menyebut bahwa perusahaan telah menaikkan harga chipnya dan mengalihkan produksi ke chip dengan margin keuntungan lebih tinggi. Langkah ini dinilai sebagai respons logis terhadap kondisi pasar yang ketat, namun sekaligus menjadi indikasi bahwa tekanan biaya akan terus berlanjut ke sisi konsumen.

Menurut Jukan, pernyataan tersebut secara spesifik berkaitan dengan produksi NAND untuk SSD, meski kutipan yang disampaikan merujuk pada krisis memori secara lebih luas, termasuk RAM. Konteks ini menjadi penting karena YMTC saat ini menempati posisi sebagai pemasok chip NAND terbesar ketiga di dunia, berada di bawah Samsung dan SK Hynix. Posisi strategis tersebut membuat setiap keputusan produksi dan penetapan harga YMTC berdampak signifikan terhadap dinamika pasokan global.

RAM sticks stacked on top of each other

Proyeksi YMTC ini berbanding terbalik dengan sejumlah prediksi sebelumnya. Firma analis TrendForce, misalnya, sempat memperkirakan pasokan NAND akan kembali seimbang pada 2027. Namun, pernyataan dari sumber di YMTC secara terang-terangan mempertanyakan asumsi tersebut. Jika proyeksi tiga tahun ke depan itu akurat, maka pemulihan pasar memori baru akan terlihat menjelang 2030, bukan dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Tekanan Harga dari Cloud Provider AS

Sinyal kelangkaan juga datang dari laporan terbaru TrendForce yang menyebut pasokan DRAM berada dalam kondisi ā€˜very tight’ atau sangat ketat. Dalam laporan tersebut, TrendForce mencatat bahwa diskusi awal pemasok mengenai harga kontrak kuartal keempat 2026 mengarah pada kenaikan harga yang signifikan. Kenaikan ini disebut mencerminkan momentum permintaan yang menguat, terutama dari penyedia layanan cloud (CSP) asal Amerika Serikat.

Dengan kata lain, raksasa cloud di AS menjadi kekuatan utama di balik lonjakan permintaan yang mendorong harga RAM pada kuartal keempat ke tingkat kenaikan yang berarti. Kondisi ini menciptakan tekanan berlapis bagi pasar: di satu sisi pasokan terbatas, di sisi lain permintaan dari sektor komputasi awan terus meningkat. Kombinasi keduanya membuat harga memori sulit untuk turun dalam waktu dekat.

Analisis mengenai kenaikan harga RAM yang ā€œberartiā€ ini terasa mengkhawatirkan karena harga memori sudah naik cukup tajam dalam beberapa bulan terakhir. Mengacu pada pasar Jerman, memori DDR5 tercatat mengalami kenaikan hingga 544% dibandingkan harga sebelum krisis RAM dimulai. Angka tersebut memberikan gambaran betapa besarnya tekanan biaya yang harus ditanggung konsumen, dan potensi kenaikan lebih lanjut menjadi prospek yang sulit diabaikan.

SSD juga diprediksi akan mengikuti tren kenaikan harga, merujuk pada kebocoran informasi dari YMTC. Meski demikian, terdapat catatan penting bahwa YMTC memiliki kepentingan untuk membicarakan prospek dan keuntungan masa depannya secara positif, terutama menjelang proses IPO. Perlu ditekankan bahwa informasi ini bukan pernyataan resmi perusahaan, melainkan sebuah kebocoran yang bisa saja sengaja disebarkan untuk kepentingan tertentu.

Prediksi Senada dari Berbagai Pihak

Terlepas dari statusnya sebagai kebocoran, narasi mengenai krisis memori yang berkepanjangan sejalan dengan sejumlah prediksi lain. Pandangan bahwa krisis ini akan berlangsung setidaknya tiga tahun lagi, atau hingga 2030, juga dibagikan oleh analis dan figur industri lainnya, termasuk CEO Nvidia. Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran akan kelangkaan memori tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari konsensus yang lebih luas di kalangan pelaku industri.

Computer memory RAM on motherboard background

Sebagai konteks, sejumlah prediksi sebelumnya telah mengarah pada kesimpulan serupa. Ada yang memperkirakan krisis RAM bisa memburuk tahun depan dan bertahan melampaui 2030, ada pula yang menilai krisis RAM berpotensi jauh lebih parah pada 2027 dengan AI sebagai salah satu pemicunya. Bahkan Samsung sempat memperingatkan bahwa kondisi yang dijuluki ā€˜RAM-pocalypse’ bisa berlangsung hingga 2028 seiring naiknya keuntungan perusahaan.

Di sisi lain, tidak semua pihak sepakat dengan proyeksi jangka panjang tersebut. CEO Acer pernah menilai bahwa krisis RAM tidak mungkin berlangsung hingga 2030. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa dinamika pasar memori masih menjadi perdebatan terbuka di kalangan pelaku industri, meski mayoritas prediksi saat ini condong ke arah kenaikan harga yang berlanjut sepanjang 2026 dan 2027.

Bagi konsumen, rangkaian informasi ini menjadi sinyal bahwa perencanaan pembelian perangkat yang bergantung pada memori, seperti PC rakitan, laptop, dan SSD, perlu mempertimbangkan faktor harga yang kemungkinan besar masih akan tinggi. Selama pasokan DRAM dan NAND belum kembali seimbang dan permintaan dari penyedia layanan cloud AS terus menguat, tekanan harga diperkirakan akan tetap menjadi karakter utama pasar memori global.

Hand holding two DDR5 RAM memory modules in front of gaming computer with RGB lighting

[ META_DESCRIPTION]
Krisis RAM diprediksi berlanjut hingga tiga tahun ke depan. YMTC memperingatkan kelangkaan memori global, sementara TrendForce melihat kenaikan harga DRAM.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.