Telset.id – Identitas sintetis buatan AI kini dijual di dark web dengan harga sekitar US$200 atau setara Rp3 juta, dan mampu menembus pemeriksaan know-your-customer (KYC) otomatis di bank maupun bursa kripto. Temuan ini diungkap oleh penyedia layanan perlindungan pencurian identitas Coveron bersama platform threat exposure management NordLayer Intelligence, setelah menelusuri forum dark web dan kanal Telegram.
Identitas sintetis adalah sosok palsu yang tidak benar-benar ada, tetapi dirancang sedemikian rupa sehingga mampu menipu banyak sistem verifikasi identitas otomatis. Paket ini menggabungkan data curian asli, seperti nomor Social Security, dengan informasi palsu hasil AI berupa nama, alamat, selfie deepfake, dan suara yang dikloning. Para peneliti menyebutnya sebagai “digital Frankenstein” dan menilai identitas tersebut “sepenuhnya mampu” melewati pemeriksaan ID.
Fenomena ini bukan lagi tawaran kriminal pinggiran. Menurut para peneliti, layanan tersebut sudah menjadi arus utama di pasar gelap, sehingga siapa pun dengan modal relatif kecil bisa memakai identitas palsu untuk mendaftarkan akun di bank, bursa kripto, dan layanan sejenis. Kemudahan inilah yang menjadi inti persoalan: verifikasi identitas otomatis yang selama ini diandalkan justru bisa dilewati oleh kombinasi data curian dan konten buatan AI.

Popularitas Identitas Sintetis Melonjak
Analisis Coveron dan NordLayer Intelligence mencakup 22 kueri terhadap 362.000 unggahan yang membahas penipuan identitas, layanan deepfake, dan apa yang mereka sebut “pembuatan identitas sintetis”. Dari penelusuran itu terlihat lonjakan permintaan yang tajam. Pada kuartal pertama 2024, ada sekitar 40 unggahan per bulan yang membahas deepfake. Pada kuartal kedua 2026, jumlahnya naik menjadi 307 per bulan, atau delapan kali lipat.
Peningkatan tersebut tidak berlangsung mulus. Sepanjang 2025, angka bulanan bertahan mirip dengan tahun sebelumnya dan relatif datar. Baru pada 2026 rata-rata bulanan melonjak menjadi 255 unggahan, demikian peringatan para peneliti. Selama setahun terakhir, tercatat lebih dari 10.000 unggahan yang menawarkan data identitas lengkap, lengkap dengan selfie deepfake dan dokumen yang cocok.
Seluruh paket itu dijual sekitar US$200. Yang lebih meresahkan, pelaku tidak harus membeli paket utuh. Mereka bisa membeli sebagian saja, misalnya selfie deepfake atau suara hasil kloning, dengan harga serendah US$10. Model penjualan terpisah ini membuat ambang masuk bagi pelaku kejahatan semakin rendah dan akses terhadap komponen identitas palsu semakin mudah.
Baca Juga:
Ancaman identitas sintetis ini melengkapi deretan modus penipuan digital yang sudah lebih dulu marak. Pelaku kejahatan OTP Fraud misalnya, memanfaatkan kode verifikasi untuk membajak akun korban, sementara skema SIM Swap Fraud menyasar nomor telepon sebagai pintu masuk. Pola yang sama terlihat pada identitas sintetis: pelaku mengeksploitasi titik lemah pada proses verifikasi yang seharusnya melindungi pengguna.
Bagi pengguna, langkah mitigasi yang disarankan Coveron adalah memantau data pribadi dan bertindak cepat begitu menemukan kebocoran. Pembekuan kredit atau credit freeze perlu dilakukan jika tidak sedang mengajukan akun baru. Selain itu, setiap orang diminta bersikap skeptis terhadap permintaan verifikasi identitas yang tidak biasa.

Dari sisi bisnis, Coveron menyarankan agar perusahaan memperkuat sistem verifikasi secara berlapis dan memanfaatkan layanan perlindungan pencurian identitas. Pendekatan berlapis ini penting karena verifikasi tunggal berbasis dokumen dan selfie otomatis terbukti bisa dilewati oleh identitas sintetis yang memadukan data asli dengan elemen buatan AI.
Pengguna yang ingin memperkuat pertahanan digital dapat merujuk pada panduan Tips Hindari OTP Fraud maupun langkah pencegahan pada kasus Kejahatan SIM Swap. Keduanya menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap permintaan data dan pemantauan aktivitas akun secara berkala. Prinsip serupa berlaku dalam menghadapi identitas sintetis: deteksi dini dan verifikasi berlapis menjadi kunci.

Implikasi bagi Bank dan Bursa Kripto
Temuan ini menempatkan bank, bursa kripto, dan layanan keuangan digital pada posisi yang rentan. Sebab, identitas sintetis dirancang khusus untuk lolos dari pemeriksaan KYC otomatis yang menjadi gerbang utama pembukaan akun. Ketika satu identitas palsu berhasil melewati verifikasi, pelaku dapat membuka akun untuk aktivitas fraud tanpa terdeteksi sebagai orang yang tidak ada.
Skala penawaran di dark web menunjukkan bahwa pasar identitas sintetis sudah terorganisasi, dengan harga transparan dan paket yang bisa dibeli sebagian. Kombinasi data curian asli, selfie deepfake, dan suara kloning membuat sistem verifikasi yang hanya mengandalkan satu lapis pemeriksaan berisiko tinggi ditembus. Karena itu, rekomendasi para peneliti mengarah pada verifikasi berlapis dan pemantauan berkelanjutan, bukan sekadar pemeriksaan dokumen di awal pendaftaran.
Bagi masyarakat umum, kesadaran bahwa identitas palsu bisa dibeli seharga US$200 menjadi pengingat bahwa data pribadi memiliki nilai di pasar gelap. Kebocoran data sekecil apa pun berpotensi menjadi bahan baku identitas sintetis. Memantau data pribadi, membekukan kredit saat tidak diperlukan, dan bersikap waspada terhadap permintaan verifikasi mencurigakan menjadi langkah paling langsung yang bisa dilakukan.

Lonjakan delapan kali lipat dalam pembahasan deepfake dari 2024 ke 2026 menunjukkan bahwa adopsi teknologi AI oleh pelaku kejahatan berjalan cepat. Coveron dan NordLayer Intelligence menegaskan bahwa permintaan identitas sintetis terus meningkat, dan paket lengkap dengan selfie deepfake serta dokumen pendukung kini dijual dalam jumlah besar. Tanpa penguatan sistem verifikasi, celah ini akan terus dimanfaatkan untuk mendaftarkan akun-akun palsu di layanan keuangan.
[ META_DESCRIPTION]
Identitas sintetis buatan AI dijual di dark web sekitar US$200 dan mampu lolos verifikasi KYC bank serta bursa kripto. Simak temuan Coveron dan NordLayer.





Komentar
Belum ada komentar.