Telset.id ā Google mengakui bahwa sebagian aplikasi Android kompleks atau game berat berpotensi tidak berjalan optimal di Googlebooks berbasis prosesor Intel. Pengakuan ini muncul setelah lima laptop Googlebooks resmi dijual pada Minggu, dan menjadi informasi penting bagi calon pembeli yang mengharapkan pengalaman Android penuh dari perangkat baru tersebut.
Dalam pernyataan kepada Android Authority, Google menyatakan bahwa mayoritas besar aplikasi Android berjalan lancar di kedua platform, baik Intel maupun Qualcomm, langsung setelah keluar dari kotak. Namun, karena banyak aplikasi Android awalnya dirancang untuk chip Arm, sejumlah kecil aplikasi kompleks atau game memerlukan penyesuaian dari pengembang agar dapat berjalan maksimal di platform berbasis Intel.
Google menegaskan pihaknya bekerja sama dengan para pengembang aplikasi, Intel, dan Qualcomm untuk terus mengoptimalkan performa serta memperluas kompatibilitas di seluruh portofolio Googlebooks. Meski demikian, Google tidak menyebutkan secara spesifik aplikasi mana yang berpotensi bermasalah di sistem berbasis Intel. Klaim ini juga baru disampaikan setelah Googlebooks tersedia di rak toko, bukan sebelum peluncurannya.
Pembagian Chip di Lima Model Googlebooks
Lima model Googlebooks yang dijual menggunakan dua jalur prosesor berbeda. Tiga model mengandalkan prosesor Intel, yaitu Asus Googlebook 14, Lenovo Googlebook 15, dan Acer Googlebook 14. Sementara dua model lainnya, Dell XPS Googlebook dan HP Googlebook 14, menggunakan chip Qualcomm Snapdragon X Elite.

Perbedaan arsitektur inilah yang menjadi akar persoalan kompatibilitas. Sebagian besar aplikasi Android kemungkinan besar tetap berjalan di Googlebook Intel karena luasnya penggunaan Kotlin dalam pengembangan Android, dan banyak aplikasi dibangun menggunakan Java. Jika pipeline sebuah aplikasi didominasi Java atau Kotlin, peluangnya berjalan di Googlebook Intel cukup tinggi berkat library dan SDK yang bersifat architecture-agnostic.
Namun, masih ada aplikasi yang bergantung pada komponen native yang dikompilasi khusus untuk ARM64 tanpa versi x86-64. Intel Bridge dan Native Bridge Android memang dapat menerjemahkan kode ARM64 agar kompatibel dengan x86, tetapi jika pengembang tidak benar-benar memperhitungkan x86, aplikasi tersebut berpotensi mengalami kendala saat dijalankan.
Baca Juga:
Ekossistem Play Store dan Strategi Harga
Seluruh aplikasi di Googlebooks berasal dari Google Play Store, yang berisi campuran aplikasi teroptimasi dan belum teroptimasi. Pengguna tidak dapat mengunduh aplikasi dari web kecuali diarahkan ke Google Play. Pendekatan ini menegaskan strategi Google untuk bersaing dengan Mac dengan menawarkan pengalaman ekosistem Android penuh, dari ponsel hingga laptop, mirip dengan kemudahan yang ditawarkan Apple antara laptop dan ponselnya.

Dari sisi harga, Googlebooks dibanderol pada rentang 899 hingga 1.299 dolar AS, cukup jauh di atas MacBook Neo yang berada di kisaran 699 hingga 799 dolar AS. Namun, Googlebooks menawarkan kapasitas RAM lebih besar, yaitu pilihan 16GB atau 32GB. Penyimpanan tetap terbatas, hanya tersedia opsi 256GB atau 512GB, tetapi setiap Googlebook disertai 12 bulan Google AI Pro yang mencakup penyimpanan cloud 5TB dengan nilai saat ini 249,99 dolar AS.
Kombinasi kapasitas RAM besar dan bonus layanan cloud menjadi nilai tawar utama Googlebooks di segmen harga premium. Meski begitu, isu kompatibilitas aplikasi di varian Intel menjadi catatan tersendiri bagi pengguna yang mengandalkan aplikasi atau game tertentu untuk produktivitas maupun hiburan harian.
Bagi pengguna yang mempertimbangkan perangkat dengan arsitektur chip tertentu, informasi mengenai aplikasi Android berat ini menjadi pertimbangan sebelum membeli. Perkembangan optimasi dari Google bersama Intel dan Qualcomm akan menentukan seberapa merata pengalaman Android di seluruh lini Googlebooks ke depannya.





Komentar
Belum ada komentar.