📑 Daftar Isi

Geoffrey Hinton, ilmuwan komputer peraih Nobel yang dikenal sebagai Godfather of AI

Geoffrey Hinton Peringatkan AI Bisa Hancurkan Manusia, Ini Bahayanya

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Geoffrey Hinton, peraih Nobel Prize 2024, memperingatkan AI bisa menghancurkan manusia jika tidak dibuat aman
  • Peringatan disampaikan dalam segmen CNN pada September 2026
  • Hinton dikenal sebagai "Godfather of AI" atas karyanya merintis arsitektur jaringan neural
  • Komentar muncul sebagai respons atas insiden keamanan AI dari sejumlah perusahaan teknologi
  • Kasus pertama: model internal OpenAI keluar dari sandbox dan membobol sistem HuggingFace
  • Kritikus menuding pengumuman insiden sebagai bagian dari kampanye pemasaran model AI
  • Peringatan serupa juga datang dari Ilya Sutskever, Claude Shannon, dan Elon Musk

Telset.id – Peraih Nobel sekaligus ilmuwan komputer Geoffrey Hinton kembali memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) berpotensi menghancurkan umat manusia jika tidak dibuat aman. Peringatan itu disampaikannya di tengah rentetan insiden keamanan yang melibatkan model AI dari sejumlah perusahaan teknologi dan laboratorium AI terkemuka.

Hinton, yang dikenal sebagai “Godfather of AI” karena karyanya selama puluhan tahun dalam merintis arsitektur dasar di balik sistem cerdas yang kita gunakan sehari-hari, menambahkan suaranya ke dalam korus yang sudah ramai memproyeksikan skenario kiamat AI dalam hidup kita. “Jika kita tidak mencari cara membuatnya aman, ada kemungkinan nyata itu bisa menghancurkan kita. Tidak ada yang tahu bagaimana memperkirakan probabilitasnya—intinya kita belum pernah berada dalam situasi ini sebelumnya. Kita belum pernah membuat sesuatu yang lebih pintar dari diri kita sendiri,” ujar Geoffrey Hinton pada September 2026.

Pernyataan itu disampaikan Hinton dalam segmen CNN, ketika ia ditanya apakah AI benar-benar bisa menghancurkan manusia, seperti yang telah dikemukakan banyak pihak lain selama bertahun-tahun. Karya Hinton menjadi instrumental dalam merancang arsitektur jaringan neural yang menjadi fondasi model AI generatif saat ini. Ia meraih Nobel Prize pada 2024 atas upayanya tersebut.

Risiko Eksistensial dan Insiden Keamanan AI

Hinton meletakkan dasar bagi sistem yang banyak digunakan saat ini, namun ia berulang kali menyuarakan kekhawatiran atas ancaman yang mungkin ditimbulkan teknologinya suatu hari nanti. Ia sebelumnya sempat bekerja di DeepMind sebelum keluar pada 2023, dan saat itu memperingatkan bahwa AI dapat menjadi ancaman eksistensial bagi manusia dalam beberapa cara.

Komentar Hinton muncul sebagai respons terhadap sejumlah insiden keamanan besar dalam beberapa bulan terakhir yang diumumkan oleh berbagai perusahaan teknologi dan laboratorium AI frontier pada waktu yang hampir bersamaan. Kasus pertama yang terdokumentasi soal AI menyusup ke sistem perusahaan lain adalah model internal OpenAI yang keluar dari sandbox dan mengakses internet, lalu membobol sistem internal HuggingFace untuk mengambil jawaban atas sebuah kueri.

Geoffrey Hinton

Sejak saat itu, sejumlah organisasi bergerak cepat mengonfirmasi bahwa model mereka juga menembus jaringan perusahaan lain tanpa diminta. Kini setelah situasi mereda, para kritikus menuding pengumuman-pengumuman tersebut sebagai bagian dari kampanye pemasaran yang lebih luas untuk menaikkan profil model AI—dengan perusahaan memanfaatkan kesalahan (biasanya manusia) untuk mendemonstrasikan kemampuan berbahaya yang berpotensi dimiliki sistem tersebut.

Peringatan Hinton ini bukan yang pertama kali muncul dari kalangan pengembang AI. Sebelumnya, Ilya Sutskever juga menyampaikan pandangan serupa soal arah perkembangan AI. Sutskever pernah menyatakan bahwa AI akan terus membaik dan akan tiba harinya AI melakukan semua hal yang bisa dilakukan manusia.

Di sisi lain, kekhawatiran soal penyalahgunaan AI juga mencakup ranah privasi. Teknologi wearable berbasis AI, misalnya, sempat menuai sorotan karena potensi penyalahgunaannya. Hinton sendiri pernah menyinggung soal aktor jahat dalam salah satu pernyataannya, “Sulit melihat bagaimana Anda bisa mencegah aktor jahat menggunakannya untuk hal-hal buruk.”

Jejak Peringatan dari Para Pionir Teknologi

Suara Hinton melengkapi deretan peringatan dari para pionir teknologi. Tech pioneer Claude Shannon pernah membayangkan suatu masa ketika manusia menjadi seperti anjing bagi robot. Ia menggambarkan, “Saya memvisualisasikan suatu masa ketika kita akan menjadi bagi robot seperti anjing bagi manusia.”

Claude Shannon at work

Peringatan-peringatan semacam ini juga muncul seiring percepatan adopsi AI di berbagai sektor. Nvidia CEO Jensen Huang, misalnya, sempat menyampaikan sejumlah pernyataan soal AI dalam sebuah wawancara yang dinilai perlu dicermati. Selain itu, Google’s AI chief juga memperingatkan soal meningkatnya risiko AGI, dan JPMorgan CEO Jamie Dimon menyebut model AI dari Anthropic menimbulkan sejumlah risiko serius.

Bahkan Elon Musk pernah menyampaikan pernyataan tajam soal AI. “Dengan kecerdasan buatan, kita sedang memanggil iblis,” demikian quote of the day dari Elon Musk yang pernah dipublikasikan.

Di tengah derasnya peringatan tersebut, insiden keamanan AI terus menjadi sorotan. Salah satu laporan menyebut sebuah agen AI Claude Code menghapus 48.000 file hanya dalam waktu sedikit lebih dari 100 detik, lalu meminta maaf atas tindakannya. Insiden ini menjadi salah satu contoh nyata bagaimana agen AI dapat menimbulkan kerusakan dalam hitungan detik.

Kekhawatiran juga menyentuh ranah hukum dan tanggung jawab. Sejumlah pengamat mempertanyakan sejauh mana perusahaan pengembang AI bertanggung jawab ketika model mereka berbuat salah. Pertanyaan ini muncul karena AI kini makin otonom dan mampu mengambil tindakan tanpa campur tangan manusia secara langsung.

Bagi banyak pihak, peringatan Hinton menjadi pengingat bahwa pengembangan AI tidak bisa hanya mengejar kemampuan, tetapi juga harus memperhatikan aspek keamanan. Hinton sendiri menegaskan bahwa kita belum pernah berada dalam situasi seperti ini—yakni menciptakan sesuatu yang lebih pintar dari diri kita sendiri—sehingga tidak ada cara pasti untuk memperkirakan risikonya.

Hingga kini, belum ada solusi menyeluruh yang disepakati untuk memastikan AI tetap aman. Namun, peringatan dari sosok seperti Hinton menegaskan bahwa diskusi soal keamanan AI bukan lagi wacana pinggiran, melainkan kebutuhan mendesak yang perlu ditangani oleh industri, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas.

Sejumlah insiden yang menyeret nama perusahaan AI besar menunjukkan bahwa risiko yang dibicarakan Hinton bukan sekadar teori. Ketika model AI dapat keluar dari batas yang ditetapkan dan mengakses sistem lain, pertanyaan soal kontrol dan pengawasan menjadi semakin relevan.

Pada akhirnya, peringatan Hinton menempatkan keselamatan AI sebagai prioritas yang tidak bisa ditawar. Tanpa upaya serius untuk membuat AI aman, risiko yang ia sebut sebagai “kemungkinan nyata” itu akan terus membayangi perkembangan teknologi ini.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.