📑 Daftar Isi

Kapal permukaan nirawak Saildrone Surveyor yang dilengkapi peluncur rudal JAGM ganda

Drone Layar Saildrone Sukses Luncurkan Rudal JAGM di RIMPAC 2026

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Saildrone Surveyor USV berhasil meluncurkan dua rudal Lockheed JAGM di RIMPAC 2026 pada 20 Agustus
  • Uji tembak dikoordinasikan dengan USS Theodore Roosevelt carrier strike group di bawah Fleet Experimentation Program
  • Kontrol tembakan menggunakan sistem ARES yang dioperasikan dari jarak jauh, keputusan tetap di tangan manusia
  • JAGM adalah penerus rudal Hellfire, senjata 50kg dengan radius efektif 18km, menargetkan drone dan kapal kecil
  • Ini bukan peluncuran rudal USV pertama, USV Ranger pernah menembakkan SM-6 pada September 2021
  • Ukraina telah menggunakan kapal drone Magura dengan rudal R-73 dalam pertempuran nyata
  • Keterbatasan utama: peluncur ganda tidak bisa mengisi ulang sendiri di laut
  • Teknologi teruji namun belum terbukti dalam pertempuran nyata

Telset.id – Saildrone mengumumkan pada 20 Agustus bahwa kapal permukaan nirawak (USV) Surveyor miliknya berhasil menembakkan dua rudal Lockheed JAGM di perairan Hawaii selama latihan RIMPAC 2026. Ini merupakan peluncuran rudal pertama yang dilakukan dari sebuah USV, menandai tonggak penting dalam pengembangan sistem senjata otonom di lingkungan maritim.

Uji tembak ini dikoordinasikan dengan strike group kapal induk USS Theodore Roosevelt di bawah sponsor Fleet Experimentation Program Angkatan Laut AS. Yang menarik, kontrol tembakan berjalan melalui sistem ARES (Adjunct Remote Engagement System) yang dioperasikan dari jarak jauh oleh Angkatan Laut, bekerja sama dengan strike group kapal induk tersebut. Artinya, kapal berlayar secara mandiri, namun keputusan untuk menggunakan senjata tetap sepenuhnya berada di tangan manusia untuk saat ini.

Lockheed Martin mengumumkan pada 20 Agustus bahwa USV kelas Surveyor milik Saildrone, yang dilengkapi dengan peluncur ganda Joint Air-to-Ground Missile (JAGM), meluncurkan dua rudal JAGM selama Exercise Rim of the Pacific 2026. Rudal tersebut menggunakan data penargetan untuk mensimulasikan kapal permukaan berkecepatan tinggi.

Latihan ini, yang dapat dilihat sebagai permainan otonomi penuh berdasarkan pemberitaan sebelumnya, melibatkan penyampaian informasi penargetan jarak jauh ke Saildrone Surveyor, yang kemudian bertindak berdasarkan informasi tersebut dengan sukses. Sistem ARES yang digunakan dalam uji coba ini digambarkan oleh Lockheed sebagai “sistem tempur yang dioperasikan dari jarak jauh”.

Arleigh Burke-class guided-missile destroyers fire standard missile 2 (SM-2)

Bukan Peluncuran Rudal USV Pertama, Namun Berpotensi Lebih Berdampak

Ini bukan pertama kalinya sebuah USV meluncurkan rudal. USV Ranger pernah menembakkan SM-6 dari peluncur kontainer empat sel pada September 2021 di bawah program Ghost Fleet Overlord. Ukraina juga telah membawa konsep ini dari area uji coba ke medan perang, dengan kapal drone seri Magura yang menggunakan rudal udara-ke-udara R-73 yang diadaptasi untuk menembak jatuh helikopter Rusia dan, menurut klaim, berpotensi menembak jatuh pesawat tempur Su-30.

Pilihan senjata pada uji coba Saildrone ini justru lebih banyak berbicara tentang target yang dimaksudkan untuk platform tersebut. JAGM adalah penerus rudal Hellfire, senjata seberat 50kg dengan radius penargetan efektif 18km. Ini menjadikannya bukan sebagai penghancur kapal, melainkan platform yang secara dominan menargetkan target udara dan laut yang lebih kecil serta lebih cepat, seperti drone satu arah dan kapal-kapal kecil.

Perkembangan ini menarik untuk dicermati mengingat sebelumnya Lockheed juga sempat menawarkan peluncur JAGM untuk kapal perusak dan kapal tempur pesisir selama periode konflik dengan Houthi. Mempersenjatai platform yang relatif mudah dikorbankan dengan rudal yang sama dapat membuatnya jauh lebih mematikan dengan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan kapal perang alternatif.

Pada saat yang sama, sensor perang elektronik pasif milik Surveyor, yang juga didemonstrasikan selama outing RIMPAC yang sama, memungkinkannya untuk mendeteksi, mengklasifikasikan, dan mengidentifikasi ancaman bersama dengan helikopter MH-60. Ini secara efektif menjadikannya platform pendukung ganda untuk menghadapi ancaman yang lebih besar.

Namun, sistem ini tetap memiliki keterbatasan. Keterbatasan yang paling menonjol adalah peluncur ganda di laut tidak dapat mengisi ulang dirinya sendiri. Jika masalah ini tidak diatasi, sistem ini secara efektif menjadi senjata terbatas yang dapat dengan cepat kewalahan oleh drone yang lebih murah di sebagian besar teater perang.

Untuk konteks tambahan, pengembangan sistem anti-drone juga menjadi perhatian seiring meningkatnya ancaman drone di berbagai medan konflik. Berbagai sistem pertahanan baru terus dikembangkan untuk menghadapi ancaman ini. Sementara itu, teknologi drone bawah air juga terus berkembang dengan penggabungan berbagai metode deteksi.

Pertanyaan apakah demonstrasi kapal drone ini akan menghasilkan penempatan USV bersenjata oleh Angkatan Laut AS dalam waktu dekat masih belum terjawab. Teknologinya sudah teruji, namun belum terbukti di medan perang. Biaya, kapasitas produksi massal, dan utilitas dalam pertempuran nyata adalah pertanyaan yang mungkin perlu dijawab sebelum kapal ini digunakan oleh Angkatan Laut dalam skala yang berarti.

Uji coba ini menunjukkan bahwa era kapal permukaan nirawak bersenjata semakin dekat, meskipun masih ada sejumlah tantangan yang harus diatasi sebelum platform semacam ini benar-benar siap digunakan dalam operasi militer skala penuh.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.