Telset.id – Sebuah drone kecil dalam uji coba di Swedia pada Januari 2026 memilih, mengurutkan, dan menyerang kendaraan teknik lapis baja tanpa campur tangan manusia di tahap akhir misi. Uji coba ini menjadi salah satu demonstrasi paling jelas bahwa model AI berukuran kecil kini dapat menangani seluruh rantai misi, dari pemilihan target hingga netralisasi, bukan hanya bagian penentuan sasaran.
Drone tersebut terbang di atas kawasan uji tertutup salju di Swedia, menemukan beberapa objek, menilai sebuah kendaraan teknik lapis baja sebagai target paling bernilai, lalu mengarah ke objek itu dan menjatuhkan bahan peledak. Seluruh proses berlangsung tanpa keterlibatan manusia, mencakup pemilihan, penargetan, hingga netralisasi. Pendekatan ini jauh lebih otonom dibandingkan yang digunakan di medan perang saat ini.
Penerbangan itu merupakan bagian dari program Affordable Loitering Modular Ammunition (ALMA) milik BAE Systems Bofors, dengan AI di dalamnya dipasok Scaleout Systems yang berbasis di Uppsala. Uji coba tersebut kembali mencuat bulan ini ketika keselamatan AI menjadi topik utama di kalangan pelaku industri maupun pemangku kepentingan pemerintah.
Scaleout Systems menguji AI tersebut dengan seorang pilot yang bersiaga serta koneksi yang terus aktif selama latihan berlangsung. Dalam latihan itu, drone memakai AI untuk mendeteksi, mengidentifikasi, dan menentukan lokasi ancaman potensial. Manusia menetapkan misi, menyalakan sistem, dan menyiapkan pilot cadangan, tetapi pilot tersebut pada akhirnya tidak digunakan selama pengujian.
Peluang dan Risiko Drone Otonom
Bergantung cara memandangnya, hasil ini bisa disebut ancaman sekaligus keuntungan bagi militer modern. Drone otonom yang dapat memilih target tanpa pengawasan atau tautan balik pada dasarnya kebal terhadap jamming, sehingga peluang menyelesaikan misinya jauh lebih tinggi dibandingkan alternatif lain.
Namun risikonya juga meningkat ketika drone sepenuhnya terputus dari komunikasi, mengalami malfungsi, atau gagal memilih target yang benar tanpa pengawasan manusia. Persoalan ini menjadi relevan di tengah perdebatan soal pengawasan manusia atas sistem senjata otonom, termasuk pembahasan mengenai Antitrust AI yang menyoroti batas tanggung jawab pengembang sistem kecerdasan buatan.

Menariknya, rilis resmi BAE Systems Bofors soal Winter Demo 2026 sama sekali tidak menyebut soal serangan tersebut. Rilis itu membingkai acara tiga hari di Karlskoga sebagai ajang yang melibatkan sekitar 20 startup dan perusahaan teknologi, dengan Menteri Pertahanan Swedia Pål Jonson hadir dalam panel dan menyatakan, “We need more actors and entrepreneurs in the defense industry.”
Baca Juga:
Meski tahap akhir misinya berjalan tanpa interaksi manusia, pengujian ini tetap bergantung pada masukan manusia sampai batas tertentu. Seorang pengguna menekan tombol untuk memulai latihan, dan manusia menetapkan parameter yang mengawasi seluruh jalannya latihan.
Ini bukan mesin pertama yang memilih targetnya sendiri. Harpy loitering munition milik Israel, yang digunakan sejak 1990-an, dapat secara otonom mendeteksi dan menyerang pemancar radar yang lokasinya belum diketahui saat peluncuran.
Waktunya pun dinilai janggal bagi para regulator. Pada 5 September, 128 negara pihak dalam Convention on Certain Conventional Weapons menyepakati teks tidak mengikat soal senjata otonom yang mematikan, setelah Amerika Serikat dan Rusia mendorong perubahan di menit akhir, termasuk pada bagian tentang penilaian dan kendali manusia. Akibatnya, Nicole van Rooijen dari Stop Killer Robots mengatakan kepada Reuters bahwa kerja selama tiga tahun telah “substantially diluted in the last hours.”
Jalan Menuju Medan Perang Modern
Untuk saat ini, Scaleout telah menunjukkan bahwa deteksi, pengurutan peringkat, dan penargetan dapat berjalan pada airframe kecil tanpa tautan data, dalam parameter yang ditetapkan manusia. Apakah ini sampai ke medan perang modern semakin mungkin terjadi, terlebih ketika konflik Rusia-Ukraina makin bergantung pada mesin otonom.
Pertanyaan yang lebih mendesak adalah sesuatu yang cepat atau lambat akan terjawab: bagaimana drone semacam ini mengambil keputusan jika terputus dari sumbernya tanpa pengawasan manusia sama sekali?
Perkembangan drone otonom juga bersinggungan dengan isu keamanan dan kebijakan teknologi yang lebih luas, seperti yang dibahas dalam Update Keamanan dan Fitur Baru pada platform digital besar.

Pengujian ini menegaskan satu hal: kemampuan memilih target secara mandiri kini tidak lagi terbatas pada sistem besar dan mahal. Model AI kecil yang tertanam pada airframe ringan sudah cukup untuk menjalankan misi secara end-to-end, dan itu mengubah cara industri pertahanan menilai otonomi, pengawasan manusia, serta risiko yang menyertainya.





Komentar
Belum ada komentar.