Telset.id – Disney mulai menguji robot otonom untuk memandu tamu mencari tempat parkir di Disneyland Anaheim, California, dan Walt Disney World Orlando, Florida. Lewat program Disney Accelerator 2026, Disney menggandeng Field AI untuk menguji kemampuan robot otonom mengarahkan mobil di area parkir taman hiburan.
Pengujian ini menjadi bagian dari eksplorasi Disney terhadap peran robot di luar fungsi hiburan. Selama ini robot di taman Disney identik dengan karakter yang menghibur tamu. Kini, teknologi yang sama diarahkan ke operasional harian, dimulai dari persoalan sederhana yang dihadapi hampir semua pengunjung: mencari tempat parkir.
Dalam demonstrasi yang diperlihatkan Disney, robot tampil menyerupai mobil dari film animasi Pixar, Cars. Bodi robot dicat oranye cerah dengan rompi keselamatan kuning dan tongkat pengarah. Layar di bagian atas menampilkan panah petunjuk arah untuk memberi tahu tamu ke mana harus berbelok dan memarkir kendaraan. Robot itu bahkan memberi kedipan ramah saat tamu mulai berbelok.
Saat kendaraan mendekati tempat parkir, kendaraan kecil lain bergulir di sampingnya. Layarnya menampilkan tulisan “slow”, lalu ibu jari mengacung, dan terakhir pesan “have a nice day”. Pengalaman ini menjadi semacam sambutan sebelum tamu benar-benar masuk ke area taman.

Peran Field AI dan Rencana Disney
Field AI mengembangkan kecerdasan atau “otak” di balik robot, bukan perangkat keras robotnya. Perusahaan ini berpengalaman menerapkan solusi otonom di lingkungan teknik, dan Disney kini mengeksplorasi bagaimana teknologi tersebut bisa diterjemahkan ke taman hiburan.
Kecerdasan itu hadir dalam bentuk perangkat keras dan perangkat lunak sebagai satu paket yang dipasang di atas robot. Dalam video demonstrasi, wujud mobil Cars memang menjadi target akhir. Namun, terlihat pula robot yang tampak seperti perangkat Boston Dynamics dengan lapisan Field AI di atasnya, menampilkan layar dan panduan arah gerak selama beberapa saat.
Gary Daniels, SVP of Technology at Disney Experiences, mengatakan pihaknya antusias bekerja sama dengan Field AI untuk menguji kemampuan robot otonom memandu mobil ke tempat parkir. Ia membayangkan karakter dari Cars atau robot dari Wall-E mengarahkan tamu saat tiba. Menurutnya, pekerjaan yang dilakukan sekarang menjadi cara untuk melihat bagaimana robot berfungsi dan, yang tak kalah penting, bagaimana manusia meresponsnya.
Pengujian ini masih sebatas eksperimen. Namun, solusi kecerdasan Field AI dalam video demonstrasi terbilang meyakinkan, terutama jika dipadukan dengan riset dan pengembangan robotika yang sudah dijalankan Disney Imagineering. Disney sebelumnya telah mengeksplorasi cara menghadirkan karakter familiar ke dunia fisik, seperti BDX Droids dari Star Wars, Olaf dari Frozen, hingga Groot yang bisa berjalan.
Kini ada peluang membawa sebagian kemajuan robotika itu keluar dari fungsi hiburan dan masuk ke pengalaman tamu sehari-hari. Teknologi ini juga berpotensi membantu tantangan operasional seperti pengelolaan parkir dan pergerakan tamu di dalam taman.

Disney Accelerator memang bukan program tanpa hasil. Peserta angkatan sebelumnya sempat masuk ke taman. Haddy, bagian dari kelompok 2025, mengembangkan teknologi pencetakan 3D skala besar yang menghasilkan material dan komponen sesuai kualitas yang dibutuhkan Imagineering. Karyanya dipakai membuat perahu baru untuk Jungle Cruise di Disneyland pada 2025.
Baca Juga:
Robot Penyortir Kacamata 3D
Selain parkir, peserta lain Disney Accelerator 2026, Physical Intelligence, mengeksplorasi aplikasi robot yang berdampak di balik layar. Perusahaan ini mengerjakan alat yang bisa membantu Cast Members, sebutan untuk karyawan taman Disney.
Atraksi seperti Star Tours, Toy Story Midway Mania, dan Mickey’s PhilharMagic yang tersebar di taman Disney di Amerika Serikat dan berbagai negara menggunakan kacamata 3D. Tamu mengambil kacamata, memakainya selama atraksi, lalu mengembalikannya. Tidak semua tamu berpikir dua kali saat meletakkan kacamata ke dalam wadah pengumpulan. Namun, harus ada orang yang menyortir, mengurai kusutan, dan memastikan kacamata layak dipakai tamu berikutnya.
Di sinilah Physical Intelligence masuk. Eksplorasi itu berbentuk robot yang bisa menyortir dan merapikan kacamata, berpotensi mengurai kusutan dan menumpuknya untuk didistribusikan ulang. Tugas ini tidak sederhana bagi robot. Dibutuhkan ketangkasan, presisi, dan kemampuan menerapkan tekanan berbeda tergantung benda yang ditangani.

Physical Intelligence sudah melatih robot untuk menjalankan tugas sehari-hari, termasuk melipat kemeja, memotong sayuran, dan melipat kotak. Mengajari robot menangani kacamata 3D Disney menjadi langkah lain menuju mesin yang mampu menjalankan tugas fisik lebih rumit. Perusahaan menjelaskan bahwa melatih robot melakukan fungsi dasar, dipadukan dengan input yang tepat seperti penglihatan lewat kamera dan sentuhan lewat sensor, adalah kuncinya.
Untuk eksperimen penyortiran kacamata, robot diajari lewat demonstrasi dan pelatihan agar bisa menangani serta menumpuk kacamata. Teknologi ini juga telah digunakan di taman dalam beberapa kasus uji coba.
Ada paralel menarik dengan pelatihan penguatan yang dikerjakan Disney bersama Google DeepMind dan Nvidia untuk BDX Droids. Aplikasinya berbeda, tetapi keduanya menunjukkan bahwa pelatihan ekstensif dan kombinasi input yang tepat membantu robot berinteraksi dengan dunia fisik secara lebih canggih. Di kasus ini, pelatihan langsung dengan “tangan” robot nyata memang dibutuhkan, bukan sekadar simulasi.
Ada pula perbedaan penting soal manfaatnya bagi tenaga kerja Disney. Tujuannya bukan menggantikan Cast Member atau menghapus peran. Mengotomatiskan tugas repetitif seperti menyortir kacamata justru bisa membebaskan seseorang untuk lebih banyak berinteraksi dengan tamu, menciptakan momen kecil yang membuat kunjungan ke Disney terasa istimewa.
Dari sisi bisnis, langkah Disney ini menunjukkan bahwa ambisi robotika perusahaan tidak berhenti pada menghidupkan karakter. Eksplorasi semacam ini juga sejalan dengan pergerakan Disney di sektor AI yang sebelumnya sempat mencuat lewat langkah akuisisi aset Character.AI dan penunjukan eks CEO Character.AI sebagai CTO pertama.
Kedua eksperimen, penyortiran kacamata Physical Intelligence dan panduan parkir otonom Field AI, menunjukkan bahwa ambisi robotika Disney bersama mitra yang tepat melampaui upaya menghidupkan karakter. Satu bisa membuat kedatangan di taman lebih mulus dan sedikit lebih magis, sementara yang lain memudahkan pekerjaan kurang bergengsi dalam menjalankan taman hiburan.
Pembelajaran dari dua kasus penggunaan dan prototipe ini bisa saja menemukan jalannya ke karakter yang berkeliaran di taman pada masa depan atau bahkan di kapal Disney Cruise Line. BDX Droids memang belum menyapa tamu setiap hari di taman, dan Olaf sempat beberapa kali terjatuh. Namun, Disney punya visi jauh lebih besar soal ke mana teknologi ini bisa dibawa.
Kyle Laughlin, SVP of R&D, Technology and Engineering at Walt Disney Imagineering, sebelumnya mengatakan pihaknya tidak membayangkan hanya satu robot dari satu waralaba, melainkan dunia utuh yang dihuni karakter-karakter yang dikenal dan dicintai. Mungkin dunia itu dimulai dari robot yang mengarahkan tamu ke tempat parkir.






Komentar
Belum ada komentar.