Telset.id – Perusahaan teknologi China dilaporkan memborong lebih dari 1 juta GPU gaming dan workstation Nvidia untuk menutup kekurangan kebutuhan daya komputasi AI. Laporan Financial Times yang mengutip sumber industri ini menyoroti ketergantungan yang masih signifikan pada perangkat keras AI asal Amerika Serikat, meski pasar chip buatan dalam negeri terus tumbuh.
Laporan tersebut menyebut strategi nasional China dalam mengembangkan AI telah membuat produksi chip AI domestik berlipat ganda tahun ini. Namun, produksi dalam negeri tidak mampu mengejar permintaan dari perusahaan teknologi terbesarnya.
Financial Times mencatat kekurangan hampir 1,5 juta chip. Hanya sekitar 3,5 juta chip yang diperkirakan dapat diproduksi secara domestik, sementara permintaan “jauh melampaui” 5 juta unit. Untuk menutupi selisih itu, China disebut beralih ke prosesor gaming dan workstation Nvidia yang dinilai patuh terhadap kontrol ekspor AS, lalu memanfaatkannya kembali untuk AI.

Menurut FT, chip yang dibeli “sebagian besar” adalah Nvidia RTX Pro 6000D, RTX Pro 5000, dan RTX 5090. Kartu terakhir merupakan GPU terbaik di pasar untuk gaming enthusiast. Laporan itu mencatat chip Blackwell tersebut tidak mampu bersaing dengan Huawei Ascend 910C dan produk unggulan buatan dalam negeri lainnya, tetapi berguna untuk “beban kerja AI yang lebih sederhana,” seperti prefilling.
Kondisi ini menambah tekanan pada pasar GPU yang harganya untuk kartu enthusiast sudah melonjak. Harga ritel resmi RTX 5090 adalah US$1.999, tetapi kartu itu kini hanya bisa ditemukan di beberapa penjual pihak ketiga dengan harga tidak kurang dari US$7.199, dan hampir hilang dari pasar.
Dorongan CUDA dan Nasib Pasar GPU Enthusiast
Laporan tersebut menyoroti permintaan GPU Nvidia yang didorong sebagian oleh perangkat lunak CUDA, yang dinilai masih lebih menguntungkan dibandingkan alternatif Cann milik Huawei. CUDA menjadi salah satu alasan mengapa perusahaan China tetap memilih jalur Nvidia meski ada alternatif domestik.
Di sisi pasar enthusiast, baru-baru ini dilaporkan bahwa Nvidia menghentikan produksi RTX 5090. Kartu tersebut akan digantikan oleh RTX 5080 flagship berkapasitas 24GB. Langkah itu menjadi penurunan signifikan dari 32GB yang saat ini dimiliki RTX 5090, sebuah tanda yang kurang menggembirakan bagi para enthusiast bahwa pasar GPU gaming tampak menyusut, bukan berkembang.

Tekanan pada pasokan dan harga GPU enthusiast ini terjadi di tengah gelombang kebutuhan infrastruktur AI yang lebih besar. Sejumlah laporan sebelumnya juga menyoroti bagaimana chip AI Nvidia yang dibatasi ekspor bisa mencapai China, serta pertumbuhan pemasok akselerator AI China seperti Biren.
Laporan Financial Times ini menegaskan bahwa meskipun China terus mendorong kemandirian chip AI, kebutuhan daya komputasi dari perusahaan teknologi terbesarnya masih belum bisa dipenuhi sepenuhnya oleh produksi dalam negeri. Kesenjangan pasokan itulah yang membuat GPU gaming dan workstation Nvidia tetap diburu, meski fungsinya dialihkan untuk beban kerja AI yang lebih sederhana.
Dampaknya terasa berlapis. Di satu sisi, permintaan AI menyerap pasokan chip yang seharusnya menyasar pasar konsumen. Di sisi lain, pasar GPU enthusiast menghadapi harga yang melambung dan ketersediaan yang menipis, dengan RTX 5090 nyaris tidak lagi ditemukan di ritel.

Bagi pasar Indonesia, dinamika ini menjadi catatan tersendiri. Ketika pasokan global bergeser ke kebutuhan AI dan harga kartu kelas atas melonjak, ketersediaan GPU enthusiast di dalam negeri berpotensi ikut terdampak. Situasi ini juga memperlihatkan bagaimana permintaan AI tidak lagi hanya soal data center, tetapi mulai mengubah lanskap perangkat keras konsumen secara langsung.
Financial Times menyebut fenomena ini sebagai gambaran ketergantungan yang masih berlangsung pada perangkat keras AI asal Amerika Serikat, meski pasar chip buatan dalam negeri China terus berkembang. Sampai produksi domestik mampu menutup selisih antara 3,5 juta unit yang diproduksi dan permintaan di atas 5 juta unit, jalur Nvidia tampaknya masih menjadi opsi yang dipakai perusahaan teknologi China.





Komentar
Belum ada komentar.