📑 Daftar Isi

Ilustrasi belanja AI bisnis Inggris yang meningkat dengan tantangan tata kelola dan data

Belanja AI Bisnis Inggris Naik 27%, tapi Tata Kelola Terancam

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Belanja AI rata-rata bisnis Inggris naik 27% jadi £20,6 juta per tahun
  • SAP proyeksi belanja naik 45% pada 2026-2028 mendekati £30 juta
  • ROI diproyeksikan naik dari 17% (2025) jadi 39% (2028)
  • Hanya 11% bisnis punya strategi AI holistik
  • 70% bisnis jalankan pilot agentic AI, 49% khawatir tata kelola
  • Kualitas data buruk (71%) jadi penghambat utama kesiapan AI

Telset.id – Belanja AI rata-rata bisnis di Inggris kini menyentuh £20,6 juta per tahun, naik 27% dibanding 2025 yang tercatat £16,2 juta. Kenaikan ini menjadi sinyal bahwa perusahaan di Inggris semakin agresif menggelontorkan dana untuk kecerdasan buatan, meski di sisi lain muncul kekhawatiran soal kesiapan tata kelola dan kualitas data yang menopangnya.

Data dari SAP tersebut juga memproyeksikan belanja AI di Inggris masih akan terus melonjak. SAP memperkirakan kenaikan tambahan sebesar 45% pada periode 2026 hingga 2028, yang akan membawa rata-rata belanja AI bisnis di Inggris mendekati £30 juta per tahun.

Yang menarik, SAP turut memperkirakan return on investment (ROI) akan naik seiring bertambahnya belanja. ROI diproyeksikan meningkat dari 17% pada 2025 menjadi 22% tahun ini, dan mencapai 39% pada 2028. Artinya, perusahaan tidak hanya membakar uang untuk AI, tetapi juga mengharapkan imbal hasil yang lebih besar di tahun-tahun mendatang.

businessman working on desk office with using a calculator to calculate the numbers, finance accounting concept

Strategi AI Masih Terpecah Belah

Meski belanja dan proyeksi ROI meningkat, SAP mengkritik bisnis di Inggris karena dinilai belum memiliki strategi AI yang matang. Hanya 11% yang disebut memiliki pendekatan strategis dan holistik terhadap investasi AI. Sekitar dua dari lima bisnis justru memprioritaskan investasi AI pada level departemen, bukan pada skala organisasi secara menyeluruh.

“Organisasi meningkatkan investasi mereka dan mengharapkan lebih banyak imbal hasil, tetapi kini fokusnya perlu diarahkan pada mengubah ambisi itu menjadi nilai bisnis yang dapat diskalakan,” jelas SAP UK&I MD Leila Romane.

Di sisi lain, penerapan agentic AI masih dalam tahap berjalan. Sekitar 70% bisnis di Inggris tengah menjalankan pilot use case agentic AI. Meski demikian, ada optimisme luas di kalangan pengguna yang meyakini teknologi ini bisa membuka kenaikan imbal hasil finansial hingga 4,7 kali lipat dalam dua tahun ke depan.

Namun, kekhawatiran soal tata kelola mencuat. Di antara pengguna AI agent, sekitar 49% khawatir teknologi ini diperkenalkan lebih cepat daripada kemampuan mereka untuk mengaturnya. Hanya 9% yang menganggap keterampilan dan keahlian tata kelola mereka benar-benar siap. Sebanyak 61% lainnya sedang mengembangkan proses tata kelola saat ini, atau melaporkan kesiapan yang terbatas bahkan sama sekali tidak siap.

Persoalan tata kelola yang belum matang ini sejalan dengan tantangan serupa di sektor lain. Sejumlah pakar bahkan menyoroti risiko privasi ketika sistem berbasis AI dan verifikasi identitas tidak dikelola dengan benar.

Kualitas Data Jadi Penghambat Utama

Terlepas dari minimnya kesiapan tata kelola, sebagian besar bisnis justru menyalahkan fondasi data mereka yang lemah. Kualitas data yang buruk (71%), informasi yang tidak lengkap (70%), sistem yang terpisah-pisah (65%), dan akses terbatas ke data real-time (62%) semuanya dianggap sebagai penghambat di area ini.

Ke depan, dua pertiga responden (67%) meyakini sistem data terintegrasi kemungkinan akan menjadi enabler paling penting untuk kesiapan AI. Hal ini menunjukkan bahwa fondasi data yang rapi menjadi prasyarat sebelum perusahaan benar-benar bisa memaksimalkan nilai dari investasi AI mereka.

“Tata kelola yang baik bukanlah penghambat adopsi AI, justru sebaliknya,” tambah CBI Technology and Innovation Director Naomi Weird.

Man coding programmer, software developer working on digital tablet with binary, html computer code on virtual screen

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa tata kelola yang matang bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari fondasi agar investasi AI tidak berhenti pada tahap pilot. Ketika belanja terus naik dan ROI diharapkan ikut melesat, kemampuan mengelola data dan proses menjadi penentu apakah ambisi AI benar-benar berbuah nilai bisnis.

Kenaikan belanja AI yang signifikan di Inggris ini menggambarkan satu hal: perusahaan berlomba mengejar kapabilitas AI, tetapi kesiapan tata kelola dan data masih tertinggal. Tanpa perbaikan di dua area tersebut, proyeksi ROI yang menjanjikan berisiko sulit direalisasikan. Sebab itu, fokus berikutnya bukan lagi sekadar seberapa besar dana yang dibelanjakan, melainkan seberapa siap organisasi mengelola AI secara bertanggung jawab.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.