📑 Daftar Isi

Robots in a data center

Alibaba Rilis Qwen Robot Suite, Saingi Nvidia di Robotik China

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Alibaba melalui Tongyi Lab meluncurkan Qwen Robot Suite, keluarga model AI untuk embodied AI
  • Terdiri dari tiga model inti: Qwen-RobotManip, Qwen-RobotNav, dan Qwen-RobotWorld
  • Langkah ini menyaingi Nvidia Cosmos 3 di pasar robotik China
  • Model menggunakan Qwen3.5-4B yang lebih ringan, mencetak skor 59,83 di RoboChallenge
  • Pemerintah China mendorong dekoupling teknologi dari AS, memperkuat ekosistem lokal
  • Nvidia berpotensi kehilangan miliaran dolar dari pasar robotik China

Telset.id – Alibaba melalui Tongyi Lab resmi meluncurkan Qwen Robot Suite, sebuah keluarga model AI yang dirancang khusus untuk robotik atau kecerdasan buatan yang melekat pada fisik (embodied AI). Langkah ini menandai persaingan langsung dengan Nvidia di pasar robotik China, sekaligus menunjukkan ambisi Alibaba untuk memimpin di frontier AI berikutnya.

Peluncuran ini terjadi tidak lama setelah Nvidia memperkenalkan Cosmos 3, model frontier untuk physical AI. CEO Nvidia, Jensen Huang, sebelumnya menyatakan bahwa ekosistem developer China relatif tidak terpengaruh oleh pembatasan chip, meskipun fokus di Barat terus bergeser ke daya komputasi untuk pusat data besar di AS.

Tiga Model Inti Qwen Robot Suite

Qwen Robot Suite terdiri dari tiga model inti yang masing-masing memiliki fungsi spesifik:

  • Qwen-RobotManip: Model vision-language-action yang dapat digeneralisasi untuk tugas manipulasi objek.
  • Qwen-RobotNav: Model navigasi vision-language yang scalable untuk memandu robot bergerak di suatu ruang.
  • Qwen-RobotWorld: Model video world yang dirancang untuk kecerdasan embodied, memungkinkan robot memahami dan memprediksi lingkungan sekitarnya.

Ketiga model ini menjadi fondasi bagi Alibaba untuk membangun ekosistem robotik yang mandiri di China. Alibaba mengklaim bahwa model ini, yang menggunakan Qwen3.5-4B yang lebih ringan dibanding Qwen 3.7 Max (dengan lebih dari satu triliun parameter), berhasil menduduki peringkat teratas di benchmark RoboChallenge dengan skor 59,83 dan tingkat keberhasilan tugas 45%.

Implikasi bagi Pasar Robotik China

Peluncuran Qwen Robot Suite tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik yang lebih luas. Pemerintah China secara informal mendorong dekoupling atau setidaknya tidak bergantung pada perangkat keras atau perangkat lunak buatan AS. Dalam situasi ini, langkah Alibaba bisa dilihat sebagai upaya membangun ekosistem robotik yang sepenuhnya mandiri untuk perusahaan-perusahaan China.

Saat ini, berbagai perusahaan China seperti Tencent, Unitree, AgiBot, UBTech, Galbot, Spirit AI, dan GigaAI, serta perusahaan EV seperti Xpeng dan Xiaomi, mulai membentuk masa depan robotik AI China. Riset dan pengembangan di industri ini terus berjalan dengan cepat, terutama dengan hadirnya IPO yang diperkirakan akan semakin mendorong industri ke depan dengan akses modal yang lebih mudah.

South China Morning Post, anak perusahaan Alibaba, mencatat bahwa “masuknya Alibaba terjadi saat kecerdasan embodied dengan cepat menjadi frontier berikutnya dalam AI global.” Posisi Nvidia sendiri lebih bernuansa, di mana perusahaan tersebut berusaha menjadi ‘enabler’ daripada pesaing langsung dengan mendorong model open-source-nya.

Nvidia ingin Cosmos, GR00T, Isaac, dan penawaran serupa menjadi fondasi yang sama seperti CUDA untuk GPU, memastikan platform robotik masa depan dibangun di sekitar perangkat keras dan perangkat lunak Nvidia. Namun, dengan absennya Nvidia di China, sulit membandingkan kedua penawaran tersebut secara langsung.

Skala keduanya berbeda secara signifikan: Cosmos 3 adalah model open-world foundation dengan berbagai skor yang dilaporkan vendor, sementara klaim Alibaba hanya berasal dari satu benchmark. Sampai kedua pendekatan bisa dibandingkan secara langsung, tidak bisa diasumsikan satu lebih unggul dari yang lain.

Yang jelas, China yang kesal dengan kebijakan AS seputar AI, tidak lagi hanya mencari chip, model, atau solusi open-source untuk diintegrasikan ke ekosistemnya, tetapi ingin membangun semuanya dari awal. Hal ini bisa mengakibatkan hilangnya akses ke pasar yang dulunya merupakan pasar paling menguntungkan kedua bagi Nvidia, sebuah langkah yang bisa merugikan perusahaan tersebut miliaran dolar dalam pendapatan dari segmen robotik saja, dari negara yang masih dianggap sebagai “pabrik dunia” karena basis manufakturnya yang besar.

Bagi pengguna dan pelaku industri di Indonesia, perkembangan ini menarik untuk diikuti karena persaingan antara Alibaba dan Nvidia di robotik China akan mendorong inovasi lebih cepat dan berpotensi menurunkan harga teknologi robotik di masa depan. Jika Anda tertarik dengan tren AI terkini, Anda juga bisa menyimak update terbaru Microsoft yang merilis perbaikan untuk pengguna Windows 11.

Robots in a data center

Dengan masuknya Alibaba ke ranah robotik, persaingan di industri ini dipastikan akan semakin ketat. Namun, yang lebih penting, langkah ini menegaskan bahwa China serius membangun ekosistem AI dan robotik yang mandiri, tanpa bergantung pada teknologi Barat. Konsekuensinya, Nvidia berpotensi kehilangan pangsa pasar yang signifikan di China, sementara perusahaan-perusahaan lokal seperti Alibaba justru mendapatkan momentum untuk memimpin.

Komentar

Belum ada komentar.