Telset.id ā Ekspansi AI data center di Amerika Serikat selama tiga tahun terakhir tidak hanya mengubah peta infrastruktur digital dunia, tetapi juga memunculkan tekanan air yang justru paling parah dirasakan di negara-negara kecil. Studi terbaru Comparitech mengungkap bahwa Chile dan Belgia mencatat tingkat water stress atau tekanan air tertinggi, meski AS memimpin pertumbuhan jumlah fasilitas dengan 127 data center baru sejak 2023.
Angka tersebut menjadikan AS sebagai negara dengan pembangunan AI data center tercepat, sepuluh kali lebih banyak dibandingkan negara lain mana pun. Rusia menyusul dengan 77 fasilitas baru (pertumbuhan 44%), sementara Inggris menambah 58 fasilitas (naik 12%). Namun, dari sisi total kepemilikan, AS menguasai 5.427 data center, sedangkan Rusia hanya memiliki 251 unit atau kurang dari 5% dari kapasitas AS.
Perbedaan mencolok ini menunjukkan bahwa pertumbuhan infrastruktur AI tidak selalu berbanding lurus dengan skala dampak lingkungan yang dirasakan. Negara dengan jumlah fasilitas lebih sedikit justru menghadapi risiko tekanan air yang lebih tinggi, terutama ketika sumber daya air setempat sudah terbatas.
Tekanan Air di Chile dan Belgia
Comparitech dalam studinya mengacu pada definisi water stress dari World Resources Institute, yang menyebut sebuah negara mengalami tekanan air jika menggunakan lebih dari 80% dari seluruh pasokan air yang tersedia. Dalam laporan tersebut, tingkat tekanan air diberi skor mulai dari 1,0 untuk kategori rendah hingga 4-5 untuk kategori sangat tinggi.
Hasilnya, Chile mencatat skor tertinggi sebesar 4,5, diikuti Belgia dengan 4,4. Amerika Serikat berada di angka 2,6, sedangkan Inggris hanya 1,3. Temuan ini menarik karena Belgia dikenal sebagai negara beriklim sedang dan lembap, tetapi justru masuk kategori tekanan air sangat tinggi.
Belgia tercatat membangun 12 fasilitas baru sejak 2023. Kondisi ini dinilai menunjukkan bahwa negara tersebut sudah mencapai batas maksimal, sementara data center di sana menuntut konsumsi air hingga lima juta galon per hari. Permintaan air sebesar itu menciptakan persoalan tersendiri di wilayah yang pasokan airnya tidak sebesar negara-negara besar.

Water stress paling berdampak pada wilayah yang memang sudah kekurangan air. Namun, studi baru ini memperlihatkan bahwa kawasan seperti Belgia yang selama ini identik dengan curah hujan tinggi juga terkena imbasnya. Hal ini menegaskan bahwa isu lingkungan dari pertumbuhan AI data center tidak lagi terbatas pada negara-negara dengan iklim kering.
Oposisi terhadap pembangunan data center selama ini banyak menyoroti dampak lingkungan, khususnya pada ketersediaan air. Konsumsi air yang besar untuk pendinginan fasilitas menjadi salah satu pemicu utama kekhawatiran tersebut, terutama ketika fasilitas dibangun di kawasan yang sumber airnya terbatas.
Baca Juga:
Data Center Jadi Target Strategis
Selain persoalan air, laporan Comparitech menyoroti konsekuensi lain dari keberadaan AI data center, yaitu posisinya sebagai aset strategis. Pada Maret 2026, Iran meluncurkan serangan drone Shahed ke situs AWS di Uni Emirat Arab. Peristiwa ini menandai bahwa data center kini diperlakukan sebagai target militer, bukan sekadar fasilitas komersial.
Laporan tersebut mencatat bahwa pengelompokan data center membawa keuntungan efisiensi yang jelas untuk daya dan konektivitas, tetapi juga memusatkan risiko: sumber daya lokal yang tertekan, titik kegagalan tunggal, dan target yang semakin menarik seiring fasilitas menjadi pusat ekonomi nasional serta infrastruktur AI.
Kerusakan pada fasilitas AWS di UEA dan Bahrain selama konflik AS-Iran 2026, serta serangan Rusia terhadap sebuah data center di Kyiv, memperlihatkan bagaimana data center semakin diperlakukan sebagai aset strategis, bukan hanya aset komersial. Pola pengelompokan data center ke dalam hub digital yang semakin padat membuat risiko ini berpotensi terus tumbuh.

Posisi data center yang saling berdekatan, termasuk dengan kawasan permukiman dan industri lain, dinilai dapat menentukan bagaimana konflik berkembang di masa depan. Dengan semakin terpusatnya infrastruktur AI, dampak dari satu serangan bisa jauh lebih besar dibandingkan ketika fasilitas tersebar di banyak lokasi.
Kombinasi antara tekanan air dan risiko keamanan menjadikan AI data center sebagai persoalan yang tidak lagi tunggal. Negara-negara dengan jumlah fasilitas besar seperti AS menghadapi tantangan konsumsi sumber daya, sementara negara dengan fasilitas lebih sedikit seperti Belgia dan Chile justru bergulat dengan keterbatasan air yang lebih akut.
Tren pengelompokan data center diprediksi berlanjut seiring pertumbuhan kebutuhan komputasi untuk AI. Tanpa pengelolaan yang tepat, dua konsekuensi utama yang diungkap Comparitech, yakni tekanan air dan kerentanan sebagai target strategis, akan terus membayangi ekspansi infrastruktur digital global.
Bagi pengguna di Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa layanan AI dan cloud yang digunakan sehari-hari bergantung pada infrastruktur fisik yang menuntut sumber daya besar. Isu keberlanjutan dan keamanan data center global pada akhirnya akan memengaruhi ketersediaan, biaya, dan keandalan layanan digital yang diakses masyarakat.






Komentar
Belum ada komentar.