📑 Daftar Isi

Ilustrasi pekerja menggunakan AI di tempat kerja dengan indikator produktivitas

AI Bikin Pekerja Cepat, Tapi Kualitas Kerja Justru Stagnan

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 86% responden Inggris merasa AI membuat mereka lebih produktif dan mampu
  • Hanya 57% yang melihat peningkatan kualitas output organisasi
  • 71% responden memakai AI secara privat, bukan kolaboratif
  • 28% merasa lebih terputus dari rekan kerja, 18% merasa lebih sepi
  • Miro sarankan konsolidasi tools dan konsep AI workhubs ala Gartner
  • Bisnis dituntut membuktikan ROI investasi AI, bukan sekadar memakainya

Telset.id – Laporan terbaru Miro bertajuk State of Intelligent Collaboration menemukan bahwa adopsi kecerdasan artifisial atau AI di lingkungan kerja tidak otomatis meningkatkan kualitas hasil kerja. Meski 86% responden di Inggris menyatakan AI membuat mereka lebih produktif dan lebih mampu menyelesaikan tugas, hanya 57% yang melihat adanya peningkatan kualitas output organisasi. Temuan ini menjadi sinyal bahwa percepatan kerja belum berbanding lurus dengan mutu pekerjaan.

Data tersebut menunjukkan ada jarak antara persepsi produktivitas individu dan hasil akhir yang dirasakan organisasi. Pekerja merasa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan berkat AI, namun sebagian besar belum merasakan perbaikan kualitas yang nyata pada output tim maupun perusahaan. Miro tidak menyalahkan teknologinya, melainkan menyoroti cara kerja yang dipakai saat ini.

Menurut laporan tersebut, 71% responden di Inggris menggunakan AI dalam sesi privat atau sendiri-sendiri, bukan secara kolaboratif. Pola ini membuat rekan kerja tidak memperoleh konteks, pengetahuan, maupun visibilitas bersama, sehingga manfaat AI terbatas pada level individu dan sulit berkembang menjadi keuntungan bagi seluruh organisasi.

Pekerja Makin Terisolasi

Dampak lain yang terungkap dalam laporan Miro adalah soal keterhubungan antarpekerja. Sebanyak 28% responden di Inggris menyatakan bahwa meningkatnya penggunaan AI justru membuat mereka merasa lebih terputus dari rekan kerja. Sementara itu, 18% mengaku pekerjaan kini terasa lebih sepi dibandingkan sebelumnya.

Pendekatan yang disebut sebagai “single-player” ini menjadi inti persoalan yang diangkat Miro. Ketika AI dipakai secara terpisah-pisah, pengetahuan tidak terbagi, dan organisasi kehilangan kesempatan untuk memanfaatkan AI secara menyeluruh. Miro Product Evangelist Leader Dave Ross menyebut riset ini menunjukkan kebutuhan akan ruang tempat AI dan manusia bisa berkolaborasi untuk mengambil keputusan penting, bukan di dalam tools individual yang terfragmentasi.

Baca Juga:

Untuk mengatasi masalah tersebut, Miro menyarankan agar bisnis mulai berinvestasi pada teknologi AI yang bersifat berbagi, salah satunya dengan mengonsolidasikan tools yang selama ini terpisah-pisah. Laporan itu juga mengutip riset serupa dari Gartner yang memperkenalkan konsep “AI workhubs”, yaitu pendekatan yang menghubungkan tools terfragmentasi dan data yang tersilo.

Ross menambahkan bahwa dengan AI workhubs, tim dan agen mereka memiliki konteks serta pemahaman bersama yang dibutuhkan untuk mengambil keputusan lebih baik, lalu mengubah keputusan itu menjadi eksekusi yang lebih cepat dan hasil yang lebih baik. Konsep ini menempatkan kolaborasi sebagai kunci, bukan sekadar kecepatan individu.

Tekanan Membuktikan ROI AI

Laporan Miro juga menyoroti bahwa bisnis kini menghadapi tekanan yang meningkat untuk membuktikan return on investment atau ROI dari investasi AI mereka. Sekadar menunjukkan bahwa perusahaan telah menggunakan AI dinilai tidak lagi cukup. Persaingan kini bergeser pada upaya untuk benar-benar meningkatkan output, sehingga strategi AI yang jelas dan berlaku menyeluruh di organisasi menjadi semakin penting.

Di sisi lain, temuan ini memperlihatkan bahwa percepatan kerja yang dihasilkan AI perlu dibarengi dengan perubahan cara bekerja. Konsolidasi tools dan data menjadi salah satu langkah yang disarankan agar manfaat AI tidak berhenti pada level individu. Tanpa itu, peningkatan produktivitas yang dirasakan pekerja berpotensi tidak berujung pada kualitas hasil kerja yang lebih baik bagi organisasi.

Bagi pekerja maupun perusahaan, pesan dari laporan ini cukup gamblang: AI bukan sekadar alat untuk mempercepat tugas, tetapi bagian dari cara tim bekerja bersama. Selama penggunaan AI masih terpisah-pisah dan tidak terhubung dengan konteks bersama, jarak antara kecepatan dan kualitas akan tetap ada.

Tiga pekerja gudang melihat laptop dengan simbol digital, ilustrasi kolaborasi kerja dengan AI

Laporan State of Intelligent Collaboration dari Miro menempatkan kolaborasi sebagai faktor penentu apakah AI benar-benar memberi dampak bagi organisasi. Angka-angka yang disajikan menunjukkan bahwa adopsi AI yang tinggi belum tentu sejalan dengan kualitas hasil kerja, dan justru berpotensi membuat pekerja merasa lebih terisolasi. Dengan tekanan untuk membuktikan ROI yang semakin besar, arah pengembangan strategi AI di tempat kerja akan menjadi sorotan tersendiri.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.