Telset.id ā Konsep Artificial General Intelligence (AGI) selama ini dianggap sebagai puncak pencapaian kecerdasan buatan, momen ketika mesin mampu menandingi kecerdasan manusia secara menyeluruh. Namun, bos Nvidia, Jensen Huang, baru saja melontarkan pernyataan yang mengubah cara pandang kita terhadap tolok ukur tersebut. Dalam panggilan earnings terbaru Nvidia, ia mengklaim bahwa AGI sebenarnya sudah tercapai, hanya saja tidak ada yang menyadarinya.
āUntuk banyak tugas, kita bisa bilang bahwa kita sudah mencapai AGI,ā ujar Jensen Huang dalam earnings call Nvidia. Ia menambahkan bahwa pencapaian semacam itu āagak tidak masuk akal pada titik iniā. Pernyataan ini tentu menjadi perbincangan hangat di kalangan industri teknologi, mengingat selama bertahun-tahun AGI selalu digambarkan sebagai ancaman maupun keajaiban yang akan datang, mirip dengan narasi Skynet dalam film Terminator yang tak kunjung menjadi kenyataan.

Pernyataan Jensen Huang ini sejalan dengan sikapnya yang kerap meremehkan kekhawatiran berlebihan terhadap risiko eksistensial AI. Dalam berbagai kesempatan, ia menegaskan bahwa fiksi ilmiah tidak membantu dalam mengukur risiko nyata AI. āSaya menghargai bahwa banyak dari kita tumbuh dan menikmati fiksi ilmiah, tapi itu tidak membantu,ā katanya saat mengomentari upaya mengukur risiko eksistensial yang ditimbulkan AI. Pandangan kontroversial ini juga ia sampaikan saat membela penggunaan model AI China di AS.
AGI: Antara Promosi dan Standar Ilmiah
Masalah utama dari konsep AGI adalah definisinya yang terlalu fleksibel. Perusahaan AI dapat mendefinisikan ulang AGI sesuai dengan kemampuan terbaru dari model mereka. Kondisi ini membuat AGI lebih terasa seperti alat promosi, bukan standar ilmiah yang mapan. Berbagai tanggal prediksi kemunculan AGI, mulai dari 1997, 2004, 2011, hingga 2017, semuanya telah berlalu tanpa adanya peristiwa besar yang sesuai prediksi.
Alih-alih berfokus pada AGI, Jensen Huang menyarankan untuk mengganti konsep tersebut dengan ukuran yang lebih praktis. Ia mengusulkan agar AI dinilai dari apakah ia āmelakukan pekerjaan yang produktif dan bergunaā serta āmenghasilkan token yang menguntungkanā. Namun, kriteria ini pun menuai kritik karena profitabilitas bukanlah ukuran keamanan yang baik bagi masyarakat umum.
Baca Juga:
Bahaya Nyata di Balik Obsesi AGI
Meskipun AGI mungkin tidak akan memicu perang nuklir seperti dalam film Terminator, AI tetap memiliki bahaya nyata yang lebih membumi. Kejahatan yang didorong oleh keserakahan manusia dan niat jahat menjadi ancaman yang jauh lebih konkret. Teknologi AI saat ini sudah mampu mengkloning suara dan wajah dengan cukup meyakinkan untuk menipu orang-orang terkasih demi uang, menggunakan pesan phishing untuk meretas server yang aman, serta membanjiri jejaring sosial dengan akun sintetis yang tak pernah lelah beradu argumen.

Tidak satu pun dari bahaya ini memenuhi definisi AGI yang serius, namun perbedaan tersebut tidak memberikan kenyamanan bagi seseorang yang mendengar rekaman palsu kerabatnya meminta uang. Obsesi terhadap AGI justru dapat mempersulit pekerjaan regulator. Diskusi tentang tanggung jawab hukum, verifikasi identitas, kepemilikan, dan detail legal lainnya memang tidak memiliki daya tarik visual seperti ledakan nuklir, tetapi regulator seharusnya memaksa perusahaan AI untuk membahas hal-hal tersebut.
Profitabilitas Bukanlah Tolok Ukur Keamanan
Argumen Jensen Huang tentang ātoken yang menguntungkanā masuk akal dari perspektif bisnis Nvidia. Namun bagi masyarakat awam yang khawatir terhadap AI, profitabilitas bukanlah uji keamanan yang memadai. Penipuan itu menguntungkan, itulah mengapa penipuan begitu banyak terjadi. Memecat karyawan manusia demi model AI yang kinerjanya 30% lebih buruk dengan harga 10% memang menguntungkan dalam jangka pendek, tetapi hasil seperti itu bukanlah sesuatu yang bisa dibanggakan sebagai produk.

Menghentikan AGI sebagai obsesi dan ketakutan utama industri memang masuk akal, tetapi itu tidak berarti perusahaan AI bisa bersantai. Kecerdasan terlalu kompleks untuk dijadikan satu-satunya pemicu kekhawatiran. Kekuasaan mungkin bisa menjadi lensa yang lebih baik. Kita bisa mengukur siapa yang menggunakan AI dan bagaimana caranya, serta siapa yang diharapkan membersihkan kekacauan saat mereka gagal. Dengan begitu, kita akan tahu seberapa eksplosif dampak AI terhadap kehidupan kita.
Kita perlu mengawasi tangan manusia di balik keyboard, bukan Skynet yang terus tertunda kemunculannya. Meskipun Jensen Huang mungkin akan terus menjadi sorotan, termasuk saat kunjungannya ke Tokyo untuk revolusi robot, fokus utama kita seharusnya tetap pada bagaimana AI digunakan secara nyata di masyarakat. Bahkan jaket kulit Jensen Huang yang laku 16 kali lipat hingga tembus Rp 17 miliar pun tidak sepenting kebijakan yang mengatur penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari.





Komentar
Belum ada komentar.