πŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi penolakan publik terhadap pembangunan data center AI di Amerika Serikat

90,5% Komentar Publik di AS Tolak Pembangunan Data Center AI

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • 90,5% dari 10.202 komentar publik di 417 pemerintah lokal AS menolak data center AI
  • Hanya 7% mendukung, 2,5% bertanya; 73% pertemuan tanpa pendukung sama sekali
  • Penggunaan air jadi keluhan utama, disusul kualitas hidup dan transparansi
  • Penolakan bersifat bipartisan di wilayah merah dan biru
  • 79% pekerja serikat mendukung, hanya 3% pemilik properti setuju

Telset.id – Sentimen publik terhadap pembangunan data center AI di Amerika Serikat berada di titik terendah. Dari 10.202 komentar publik yang tercatat di 417 pemerintah lokal, sebanyak 90,5% bersuara negatif terhadap rencana pembangunan fasilitas data center di lingkungan mereka. Hanya 7% komentar yang menyatakan dukungan, sementara 2,5% sisanya sekadar mengajukan pertanyaan. Angka ini dirangkum oleh American Sentiment, sebuah situs yang dioperasikan Prophecy Gov, startup AI asal San Francisco.

Data tersebut dihimpun dari 906 pertemuan publik di 48 negara bagian sepanjang 2026. Temuan paling mencolok: 73% pertemuan sama sekali tidak memiliki pendukung data center. Bahkan ketika ada warga yang mendukung, suara mereka kalah dengan rasio 6:1 dibandingkan pihak yang menolak. Situs American Sentiment menilai diskusi seputar pembangunan data center telah mencapai titik β€œfever pitch” atau memanas.

Tekanan publik ini sudah berdampak nyata. Amazon sebelumnya membatalkan rencana membangun empat fasilitas baru setelah mendapat gelombang protes dari warga. Kasus itu menjadi salah satu contoh bagaimana oposisi lokal mampu menghentikan proyek yang sudah direncanakan.

a 'No Data Center!' sign at a protest

Air Jadi Sumber Keluhan Utama

Dari berbagai alasan penolakan, penggunaan air menjadi keluhan paling umum. Pada Mei 2026, dilaporkan bahwa satu proyek data center AI mengonsumsi 29 juta galon air. Konsumsi sebesar itu membuat warga setempat merasakan penurunan tekanan air. Sebulan kemudian, Microsoft mengklaim data center AI barunya hanya menggunakan air sebanyak restoran dalam setahun.

Selain air, dua keluhan teratas lainnya adalah dampak terhadap kualitas hidup warga lokal dan minimnya transparansi seputar proyek. Banyak warga menyatakan tidak yakin bahwa manfaat yang dijanjikan pembangunan fasilitas tersebut akan terwujud. Menariknya, isu AI dan potensi dampak negatifnya justru tidak disebut dalam 4 dari 5 komentar. Hanya 21% komentar yang menyinggung AI secara umum.

Warga yang menolak juga menyoroti nama-nama besar di industri AI, termasuk Google, Amazon, Meta, dan Microsoft. Keluhan bahkan bersifat personal: CEO SpaceX sekaligus xAI, Elon Musk, menjadi nama yang paling sering disebut dalam pertemuan publik, disusul CEO OpenAI Sam Altman. Pendiri Palantir, Peter Thiel, berada di posisi ketiga, di atas CEO Meta Mark Zuckerberg dan Jeff Bezos dalam pembahasan soal Amazon.

Penolakan Terjadi di Wilayah Merah dan Biru

Di tengah polarisasi politik Amerika Serikat, penolakan terhadap data center lokal ternyata menjadi isu yang relatif bipartisan. Wilayah dengan basis pemilih Republik (merah) dan Demokrat (biru) menolak prospek fasilitas tersebut dengan tingkat yang hampir sama persis. Meski begitu, wilayah pedesaan mengangkat isu yang berbeda dibandingkan wilayah urban dan suburban.

Warga di wilayah pedesaan paling sering mengkhawatirkan dampak terhadap karakter komunitas, lahan pertanian, dan hak kepemilikan properti. Sementara itu, komentator di wilayah urban dan suburban lebih sering menyoroti transparansi, ketidakpercayaan terhadap pemerintah, polusi udara, serta tagihan listrik. Isu polusi sendiri pernah muncul sebelumnya, ketika sebuah laporan pada awal bulan memperingatkan bahwa data center di AS berpotensi menghapus 15 tahun kemajuan dalam pengurangan emisi gas rumah kaca.

A data center under construction

Ada satu kelompok yang justru mayoritas mendukung pembangunan data center, yakni pekerja serikat. Sebanyak 79% komentator yang mengaku sebagai pekerja serikat mendukung proyek tersebut. Sebaliknya, hanya 3% pemilik properti dan 3% warga umum yang setuju. Bahkan di kalangan pekerja data center sendiri, hanya 40% yang mendukung pembangunan fasilitas data center.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri tengah mengembangkan layanan berbasis AI, seperti yang terlihat lewat inisiatif America.gov Chatbot AI. Sementara di sektor keuangan, perhatian terhadap keamanan AI juga meningkat, seperti langkah Bank of America yang melarang nasabah membagikan password ke AI agent.

Data dari American Sentiment menegaskan bahwa penolakan terhadap data center bukan sekadar isu teknofobia. Keluhan warga berakar pada pengalaman langsung seperti penurunan tekanan air, kekhawatiran polusi, hingga ketidakjelasan manfaat ekonomi. Dengan 73% pertemuan publik tanpa satu pun pendukung, tekanan terhadap perusahaan teknologi yang ingin membangun fasilitas baru diperkirakan tetap kuat.

[INFO_IMAGE]
Man protesting data centers next to a road closed sign.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.