📑 Daftar Isi

Ilustrasi pengguna menyerahkan keputusan sulit kepada ChatGPT di ponsel

46% Orang Serahkan Keputusan Hidup ke ChatGPT, Ini Temuan Studi

Penulis:Ida Farida
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Studi Headway: 46% orang pernah biarkan AI ambil keputusan sulit
  • 35% beralih ke AI saat stres, 21% tak bisa sepekan tanpa AI
  • Istilah "decisionrot" untuk kebiasaan menyerahkan keputusan ke AI
  • 53% pria pakai AI hindari keputusan sulit, dibanding 40% wanita
  • ChatGPT berguna sebagai papan pantul, bukan pemberi perintah

Telset.id – Sebanyak 46 persen orang dewasa mengaku pernah membiarkan AI mengambil keputusan sulit untuk mereka. Temuan ini muncul dari studi Seeking Familiarity yang dirilis aplikasi micro-learning Headway, dan menyoroti pergeseran cara orang memakai chatbot seperti ChatGPT saat menghadapi pilihan penting.

Studi yang melibatkan 2.000 orang dewasa itu juga menemukan 35 persen responden secara alami beralih ke AI ketika berada dalam momen stres. Sementara 21 persen lainnya mengaku tidak bisa melewati satu minggu penuh tanpa menggunakan AI untuk membantu menentukan apa yang harus dilakukan. Headway menyebut kecenderungan menyerahkan keputusan ini dengan istilah “decisionrot”, yaitu titik ketika AI berhenti membantu orang mengumpulkan informasi dan mulai membantu mereka menghindari ketidaknyamanan dalam memilih.

Angka tersebut menunjukkan bahwa ChatGPT kini tidak lagi sekadar alat bantu mencari informasi, tetapi mulai masuk ke ranah pengambilan keputusan pribadi. Padahal, kemampuan ChatGPT menyajikan jawaban dengan sangat percaya diri membuat proses menyerahkan keputusan terasa mudah dilakukan.

A ChatGPT OpenAI logo seen displayed on a smartphone.

Laki-laki Lebih Rentan Menyerahkan Keputusan

Studi Headway menemukan bahwa laki-laki tampak lebih rentan terhadap jalan pintas ini. Sebanyak 53 persen responden laki-laki mengaku menggunakan AI untuk menghindari keputusan sulit, dibandingkan 40 persen responden perempuan.

Dr. Suzanne Degges-White, konselor berlisensi dan pakar hubungan di Headway, menyoroti perbedaan antara mencari sudut pandang luar ketika sedang bergulat dengan keputusan besar dan sepenuhnya menyerahkan proses pengambilan keputusan kepada sesuatu di luar diri sendiri. Menurutnya, belajar mengelola ketidakpastian dan secara aktif membuat pilihan yang mengubah hidup sama-sama mengajarkan orang untuk memercayai penilaian mereka sendiri.

Kecenderungan ini juga sejalan dengan berkembangnya pemanfaatan ChatGPT untuk berbagai keperluan sehari-hari, termasuk saat pengguna memanfaatkan Obat ChatGPT buatan Garage Lab yang sempat menjadi perhatian publik.

Eksperimen: Diminta Memutuskan vs Dilarang Memutuskan

Kontributor TechRadar, Eric Hal Schwartz, menguji sendiri cara mendapatkan saran terbaik dari ChatGPT dengan membandingkannya secara langsung. Ia lebih dulu membiarkan AI mengambil keputusan, lalu melarangnya melakukannya, untuk melihat apakah larangan itu membuat ChatGPT jadi lebih atau kurang berguna.

Schwartz sedang mempertimbangkan untuk mendaftar kelas menggambar malam selama delapan minggu, sebuah investasi waktu dan uang yang ia ragukan meski selalu ingin mempelajarinya. Ia memberikan fakta tentang logistik dan harga kelas tersebut, lalu bertanya: “What should I do?”

ChatGPT menjawab: “You should sign up for the art class.” AI itu menjelaskan bahwa Schwartz sudah punya alasan jelas untuk melakukannya, yakni keinginan memiliki aktivitas rutin yang menjauhkannya dari layar dan memberi sesuatu yang nyata untuk dipelajari. Menurut ChatGPT, delapan minggu adalah komitmen yang berarti, tetapi cukup singkat sehingga tidak mereorganisasi hidup secara permanen. Keraguan Schwartz dinilai lebih sebagai resistensi normal terhadap jadwal rutin, bukan bukti bahwa kelas itu tidak cocok.

Meski jawaban itu terlihat mendalam pada pandangan pertama, Schwartz menilai penjelasannya sebenarnya dangkal. Alasan yang diberikan bersifat generik dan bisa berlaku untuk siapa saja, tanpa mempertimbangkan kesabaran menghadapi kesalahan saat mempelajari keterampilan baru, jadwal malam lainnya, atau anggaran pribadinya. Menurut Schwartz, penalaran itu sama personalnya dengan melempar koin.

Ia pun mengubah pendekatannya dengan prompt yang lebih kompleks: “Don’t make this decision for me. Act as a decision coach instead. Ask me questions that uncover my priorities and constraints. Challenge any assumptions I may be making and tell me what information I’m missing. Then identify my options and explain the trade-offs. Leave the final choice to me.”

Kali ini terjadi percakapan sebelum jawaban muncul. ChatGPT bertanya apa tujuan utama Schwartz mengikuti kelas tersebut, apakah untuk belajar seni, punya alasan terjadwal keluar rumah, bertemu orang, atau sekadar mencoba hal baru. AI itu juga meminta Schwartz membayangkan hari Selasa pukul 17.30 setelah hari yang melelahkan, dan menanyakan apakah kelas pukul 19.00 akan terasa memberi energi atau justru menjadi kewajiban yang membebani.

Schwartz menjawab bahwa mempelajari dasar-dasar menggambar dan melukis hanya sebagian dari daya tariknya. Ia juga ingin aktivitas kreatif rutin yang sepenuhnya berbeda dari hobi biasanya, dan tahu dirinya lebih mudah menuntaskan sesuatu ketika sudah masuk kalender serta dibayar di muka. ChatGPT lalu merangkum jawaban itu menjadi argumen yang mendukung dan menentang kelas tersebut, tetapi tidak menilai mana yang lebih kuat dan tidak mendorong Schwartz untuk mengambil keputusan.

Semua pertanyaan yang diajukan ChatGPT, menurut Schwartz, sebenarnya adalah hal yang mungkin ia pertimbangkan sendiri sebelum memutuskan ikut kelas. Namun mengeksternalisasi pertanyaan-pertanyaan itu membantunya menemukan jawaban untuk dirinya sendiri dengan lebih cepat.

Chat written on wooden blocks and money.

Schwartz mengakui bahwa persoalan kelas menggambar ini adalah pertarungan batin yang cukup kecil. Untuk pilihan hidup yang besar, ia berharap orang meluangkan waktu mempertimbangkan setiap sisi, terlepas dari apakah AI membantu mereka memikirkannya atau tidak.

Degges-White memperingatkan bahwa jika orang terus mengandalkan AI setiap kali “ketidaknyamanan keputusan” muncul, mereka mungkin menikmati rasa lega yang cepat, tetapi pada saat yang sama kehilangan kesempatan mengasah keterampilan pengambilan keputusan dan menumbuhkan rasa percaya diri pada diri sendiri.

Menurut Schwartz, jika ia tidak bisa memutuskan antara dua sandwich, ChatGPT boleh menggunakan sumber daya komputasinya yang besar untuk membantunya. Ia tidak membutuhkan eksplorasi nilai-nilai yang panjang sebelum memesan makan siang. ChatGPT dinilai baik dalam memeriksa sebuah pilihan dan menelusuri opsi dengan sabar, sehingga berguna sebagai teman diskusi. Namun, teman diskusi seharusnya tidak pernah memberi perintah.

Perkembangan ini juga terjadi di tengah derasnya pembaruan fitur ChatGPT, seperti yang terlihat pada Fitur ChatGPT terbaru yang memperluas kemampuan edit tools. Pembaruan semacam ini membuat AI semakin nyaman dipakai untuk berbagai kebutuhan, termasuk yang berkaitan dengan pengambilan keputusan sehari-hari.

Lebih lanjut, Edit Tool Baru yang lebih cepat menunjukkan bagaimana OpenAI terus mendorong ChatGPT menjadi alat yang makin mulus digunakan. Kemudahan inilah yang turut membuat batas antara membantu dan menggantikan keputusan pengguna semakin tipis.

Studi Headway dan eksperimen Schwartz sama-sama menunjukkan satu hal: ChatGPT tetap berguna sebagai papan pantul untuk menimbang pilihan. Tetapi ketika AI mulai diminta memutuskan, pengguna berisiko kehilangan latihan mengambil keputusan yang justru membangun kepercayaan pada penilaian sendiri.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.